Tiga Anak Korban Bencana di Sulteng Berhasil Bertemu Keluarga

Rosa Anggreati 07 Oktober 2018 19:46 WIB
Berita Kemensos
Tiga Anak Korban Bencana di Sulteng Berhasil Bertemu Keluarga
Sekber Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, di Palu, Sulawesi Tengah, menghibur anak-anak korban bencana yang terpisah dari orang tua (Foto:Dok)
Palu: Sekretariat Bersama (Sekber) Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, di Palu, Sulawesi Tengah, berhasil mempertemukan satu anak lagi yang sebelumnya terpisah karena gempa dan tsunami dengan keluarganya. Dengan demikian, total tiga anak berhasil dipertemukan dengan keluarganya.

"Dari tiga anak itu, yang terbaru sudah kami reunifikasi (pertemukan) dengan keluarga terdekatnya, pada Sabtu, 6 Oktober 2018. Sebelumnya dipertemukan, kami menempuh sejumlah prosedur," kata koordinator Sekber Perlindungan Anak, Febriadi, di Palu, dalam keterangan tertulis kepada Medcom.id.

Menurut pria yang akrab disapa Fedi itu, anak yang tidak disebutkan namanya ini semula berada di rumah sakit, setelah selamat dari bencana. Sekber yang menerima laporan, lalu mencari dan menemukannya, untuk kemudian dipertenukan dengan keluarga.


Hingga Minggu, 7 Oktober 2018, Sekber Perlindungan Anak menerima data anak hilang/terpisah sebanyak lebih 50 anak, baik dari registrasi langsung di Sekber, maupun hasil aduan melalui media sosial (Facebook, WhatsApp), dan selebaran.

Tim dari Sekber Perlindungan Anak benar-benar mencermati semua tahapan sebelum si anak berada dalam pengasuhan pihak lain. "Bahasa tubuh baik si anak maupun pengasuh yang baru, kami cermati. Bila ada indikasi mencurigakan atau anak menolak dengan reaksi tertentu, kami akan batalkan,” kata Fedi.

Sang anak kini sudah dibawa keluarganya ke Manado, Sulawesi Utara. “Di Manado, anak ini juga dimonitor oleh Kementerian Sosial melalui jejaring pekerja sosial di sana, dengan berkoordinasi melalui dinas sosial setempat,” kata Fedi.

Fedi menjelaskan, bila mereka menerima laporan anak hilang, maka Sekber akan menyebarkan foto si anak dengan menggunakan berbagai saluran informasi. “Misalnya, melalui jaringan relawan yang ada di sini. Atau kami menyebarkan foto di sejumlah tempat, termasuk posko-posko bantuan tanpa mencantumkan identitas,” katanya.

Cegah Adopsi Ilegal

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Nahar menyatakan, prosedur ketat perlu ditempuh untuk memastikan anak tersebut tidak berada dalam penguasaan pihak yang tidak bertanggung jawab. Terlebih dalam situasi bencana, di mana perhatian dan kesibukan masyarakat terkuras untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.



Anak korban bencana tidak mendapat pengawasan penuh, atau tidak ada yang menjaga sementara belum bertemu dengan orang tuanya, atau  orang tua meninggal menjadi korban bencana.

"Kami harus memastikan pihak yang mengasuh adalah orang yang bertanggung jawab dan benar-benar ingin memberikan perlindungan kepada anak,” katanya. Upaya ini untuk menghindari anak dari berbagai bentuk kejahatan. Misalnya, penculikan, perdagangan orang, pencurian organ tubuh, atau adopsi yang tidak sesuai prosedur (adopsi ilegal).

Peran pemerintah daerah (pemda) juga penting mencegah bahaya terhadap anak korban bencana. "Kami ingin memastikan bahwa anak-anak yang kehilangan orang tuanya, diasuh kembali oleh orang tua/keluarga, atau pihak yang jelas identitas dan tujuannya,” kata Nahar.

Pengaduan anak hilang juga dibuka di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BRSPDI) Nipotowe Palu. Data hingga Minggu, 7 Oktober 2018 menunjukkan, telah masuk pengaduan di balai ini 10 orang anak hilang atau terpisah dari orang tuanya.

Tiga Prioritas Layanan

Guna mengantisipasi potensi ancaman terhadap kelompok sosial rentan, dalam hal ini anak, Kementerian Sosial dan sejumlah mitra melalui Sekber Perlindungan Anak melakukan tiga prioritas layanan berupa pendataan anak terpisah/tanpa pendamping, layanan dukungan psikososial (LDP) Anak, dan upaya pencegahan anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus.

Upaya tersebut berupa (1) sosialisasi proses pengangkatan anak atau adopsi yang sesuai dengan aturan yang berlaku; (2) mencegah anak-anak keluar dari dari daerah gempa tidak dengan orang tua/keluarganya melalui pendataan di titik-titik pengungsian dan kedatangan pengungsi, serta mendirikan pos layanan sosial anak di daerah penyangga untuk mengantisipasi terjadinya anak-anak terpisah dan tanpa pendamping.



Kementerian Sosial juga mulai membuat stiker informasi mencegah keterpisahan anak dengan orang tua dan keluarga, mengaktivasi layanan pendataan di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tengah, membuka layanan pendataan dan penjangkauan anak terpisah dan tanpa pendamping di Makassar, serta menelusuri berita viral tentang tawaran adopsi anak-anak korban gempa Palu di Makassar.

"Hasil sementara bahwa informasi tersebut tidak benar (hoaks). Dilanjutkan dengan pencarian fakta lain dan kerja sama dengan lembaga mitra," kata Fedi.

Sekber Perlindungan Anak juga menyediakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Anak. Berbagai aktivitas digelar di tenda khusus untuk memberi terapi psikologis bagi anak-anak yang terdampak gempa. Sekitar 19 anak laki-laki dan perempuan mengikuti dengan gembira acara menyanyi dan aneka hiburan dengan dibimbing psikolog anak Seto Mulyadi (Kak Seto) dan Kak Heny.

Pada pagi hari digelar aktivitas menggambar dan bernyanyi yang diikuti puluhan anak usia antara 5-10 tahun. Pada sore hari, diadakan permainan sulap dan bernyanyi. Kegiatan diiniasi Sekber Perlindungan Anak yang digagas oleh Kementerian Sosial ini beserta lembaga mitra seperti UNICEF, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Palang Merah Indonesia (PMI), dan sebagainya.

Terapi Bermain

Seto Mulyadi yang hadir di tenda Sekber Perlindungan Anak menyatakan, anak-anak korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah mengalami kemajuan signifikan dalam pemulihan trauma.

"Kuncinya adalah pada bermain. Bermain adalah dunia anak-anak. Dengan bermain, anak-anak bisa meluapkan kegembiraan, dan berangsur-angsur mengikis aura negatif,” kata Seto.  

Penanganan atau terapi untuk setiap anak berbeda satu dengan yang lain. "Anak dengan pengalaman traumatik berat tentu berbeda dengan anak yang lebih ringan beban psikologisnya," kata dia.



(ROS)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id