Pertemuan tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara yang digelar di salah satu hotel di Manado, Selasa, 4 Desember 2018, Medcom.id - Mulyadi
Pertemuan tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara yang digelar di salah satu hotel di Manado, Selasa, 4 Desember 2018, Medcom.id - Mulyadi

Ekspor Sulut Masih Bergantung pada Komoditas Mentah

Nasional ekspor impor
Mulyadi Pontororing • 04 Desember 2018 20:11
Manado: Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara masih berada di bawah pertumbuhan potensial dan cenderung melambat di 2018. Hal itu terungkap dalam pidato yang disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara Soekowardojo dalam acara pertemuan tahuanan BI Sulut di salah satu hotel di Manado, Selasa, 4 Desember 2018.
 
Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Sulut, Soekowardojo mengatakan terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi bersama. Pertama, ujarnya, dari sisi pengelolaan sumber daya alam dan industri.
 
"Struktur ekspor Sulut masih terpaku pada komoditas mentah seperti kelapa, ikan, rempah-rempah dan olahannya. Sebagai contoh, komoditas ekspor utama terkonsentrasi pada olahan kelapa dalam bentuk minyak nabati yang mencapai 61% dari total nilai ekspor. Tantangan produksi minyak kelapa akan semakin berat di tengah tren pelemahan harga komoditas yang terus berlanjut dari tahun 2017," terangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tantangan lainnya yaitu pengolah hulu pertanian yang masih belum berjalan dengan baik, diikuti dengan stagnasi produksi komoditas pertanian yang berdampak pada terjadinya deindustrialisasi.
 
Sementara dari sisi pariwisata, lanjutnya, pertumbuhan pariwisata telah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Sulut. Namun pertumbuhan pariwisata masih bisa ditingkatkan.
 
"Pengeluaran wisman Tiongkok yang masih berada di bawah rata-rata pengeluaran wisman ke Indonesia merupakan salah satu tantangan yang perlu kita selesaikan," tegasnya.
 
Selain itu, kata dia, kelembagaan dan pengawasan di sektor pariwisata perlu didorong demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan sektor pariwisata khususnya kelestarian atraksi budaya dan lingkungan.
 
Di sisi sumber daya manusia, menurutnya, meskipun tingkat pengangguran Sulawesi Utara menurun di tengah perekonomian yang melambat, namun tingkat pengangguran Sulawesi Utara masih berada di level 6,86% cukup tinggi bila dibandingkan nasional.
 
"Selain itu, dari tingkat pendidikan, lebih dari 50% tenaga kerja di Sulawesi Utara berpendidikan SD dan SMP," ujarnya.
 
Di sisi lain juga, berdasarkan kajian tenaga kerja Sulawesi Utara, BI Sulut mendapati bahwa hampir 5 dari 10 tenaga kerja di Sulut memiliki keahlian yang tidak memenuhi standar pekerjaannya (underqualified).
 
"Tenaga kerja underqualified banyak tersebar di sektor pertanian, transportasi, industri, dan perdagangan yang menjadi lapangan usaha perekonomian Sulawesi Utara," ungkapnya.
 
Soekowardojo juga mengkungkapkan sektor perbankan Sulut mengalami peningkayan kredit. Namun begitu, kata dia, pangsa kredit ini masih didominasi oleh kredit konsumtif yang mencapai angka 60% dari total kredit.
 
Dari sisi fiskal, peningkatan realisasi belanja modal dan peningkatan rasio kemandirian diprediksi masih dapat ditingkatkan. Tantangan yang tidak kalah penting yaitu inflasi bulanan Sulawesi Utara yang fluktuatif khususnya pada perayaan hari keagamaan yang dapat mengganggu perencanaan pengeluaran, investasi dan upaya pengentasan kemiskinan.
 
"Fluktuasi inflasi Sulawesi Utara terutama digerakan oleh komoditas Barito (bawang, rica atau cabai, tomat) dan tarif angkutan udara," paparnya.

 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi