Kapolda Sulsel, Irjen Pol Hamidin, saat merilis pengungkapan peredaran sabu, di Mapolres Gowa, Jumat 22 Maret 2019. Foto: Medcom.id/Muhammad Syawaluddin,
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Hamidin, saat merilis pengungkapan peredaran sabu, di Mapolres Gowa, Jumat 22 Maret 2019. Foto: Medcom.id/Muhammad Syawaluddin,

Polda Sulsel Gagalkan Peredaran Sabu Senilai Rp16 Miliar

Nasional kasus narkoba
Muhammad Syawaluddin • 23 Maret 2019 05:29
Makassar: Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggagalkan peredaran narkoba seberat 8 kilogram atau setara Rp16 miliar. Barang bukti yang disita itu milik jaringan internasional yang beredar di beberapa daerah di Sulawesi.
 
"Kami mengamankan 8 kilogram sabu dan ini merupakan jaringan narkoba internasional baru," kata Kapolda Sulsel, Irjen Pol Hamidin, saat merilis penangkapan tersebut di Mapolres Gowa, Jumat 22 Maret 2019.
 
Barang haram tersebut diperoleh dari operasi di dua kabupaten yakni Pinrang dan Sidrap. Dua daerah itu tercatat memiliki track record peredaran sabu terbesar di Sulsel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Kabupaten Pinrang, petugas menyita satu kilogram narkotika jenis sabu bersama dua orang tersangka yakni AR, 37 dan HP, 35. Keduanya merupakan warga asal Sulsel yang diketahui tinggal sementara di Malaysia.
 
Setelah penangkapan tersebut petugas kembali mrnyita tujuh kilogram narkoba jenis sabu di Kabupaten Sidrap dan satu tersangka berinisial H. Pelaku masuk dalam daftar pencarian orang Polda Sulsel.
 
Hamidin mengatakan narkoba tersebut diedarkan melalui jalur baru untuk menghindar dari penjagaan kepolisian. Penyelundupan terendus mulai dari Malaysia dan masuk ke Sulawesi Selatan melalui Nunukan yang kemudian dikirim ke Kota Palu, Sulawesi Tengah. Setelah itu menuju ke Kabupaten Pinrang melalui jalur darat.
 
"Saya pimpin langsung prosesnya, penangkapan bersamaan dengan kunjungan saya di Sidrap dan kami berhasil mengamankan ini," kata Kapolda.
 
Harga delapan kilogram sabu tersebut ditaksir mencapai Rp16 miliar dan tiap kilonya dihargai sebesar Rp2 miliar. Nilai itu termasul besar bagi pelaku yang menggeluti bisnis narkoba.
 
Hamidin menambahkan narkoba tersebut diketahui akan diedarkan di sebagian besar daerah di Sulsel dalam momentum Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 17 April 2019 mendatang. Niat jahat itu diyakini bakal cukup meganggu situasi keamanan.
 
"Kalau banyak orang yang menggunakan narkoba, maka pileg dan pilpres terganggu. Bagaimana, orang mabuk mau memilih," pungkasnya.
 


 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif