Sejarah Panjang Penetapan Kalender Imlek

Mulyadi Pontororing 15 Februari 2018 14:35 WIB
perayaan imlek
Sejarah Panjang Penetapan Kalender Imlek
Dua orang pengurus Vihara membawa lilin besar yang akan ditata untuk digunakan persembahan sembayangan Imlek di Vihara Nimmala, Tangerang, Banten, Rabu (14/2). Banyak jamaat Vihara yang mengirimkan lilin untuk sembahyangan Imlek yang tujuannya agar mendap
Manado: Umat Buddha di seluruh dunia Jumat, 16 Februari 2018, akan merayakan tahun baru Imlek. Namun tahukah Anda sejarah panjang penetapan tanggal tahun baru Imlek?

Ketua Walubi Kota Manado, Sulawesi Utara, Sufandi Siwi menerangkan sejarah penetapan penanggalan Imlek berproses sangat panjang dan banyak versi di masyarakat Tiongkok kala itu.

"Setiap dianasti yang berkuasa selalu menetapkan berdirinya dinasti tersebut sebagai tahun baru pertama (tahun baru) dan seterusnya. Dengan demikian banyak terjadi perbedaan-perbedaan perhitungan sistem penanggalan," kata Siwi saat ditemui Medcom.id di Manado, Kamis, 15 Februari 2018.


Menurutnya, sistem penanggalan Imlek mulai dikembangkan pada masa milenium ketiga sebelum masehi, yang konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama Huang Di (2698-2599 SM).

"Kemudian dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris keempat, Kaisar Yao. Siklus 60 tahun yang disebut ganzhi atau liushi," terangnya.

Baca: Jelang Imlek, Pengrajin Lilin di Tangerang Kebanjiran Order

Penetapan kalender yang lengkap nanti setelah tahun 841 SM pada zaman Dinasti Zhou dengan menambahkan penerapan bulan ganda atau 'lun' dan bulan pertama satu tahun dimulai dengan titik balik matahari pada musim dingin. 

Namun, ujarnya, sebelumnya ada kalender 'sifen' atau empat triwulan ditetapkan sekitar tahun 484 SM yang adalah kalender pertama yang memakai perhitungan lebih akurat dengan menggunakan penanggalan matahari 3651/4 hari. Kalender ini diterapkan pada zaman Dinasti Qin.

Pada masa Dinasti Ch’in (tahun 221-207 SM) Raja Ch’in (yang dapat menguasai dan mempersatukan daratan Tiongkok bagian tengah sampai timur) berhasil menetapkan perhitungan awal tahun Imlek terhitung dari tahun kelahiran Khong Hu Cu.

Sebelumnya, lanjut dia, Kaisar Wu dari dinasti Han Barat tahun 104 SM mereformasi kalender baru. Kalender Taichu (permulaan Agung) mempunyai tahun dengan titik balik matahari musim dingin pada bulan ke 12 dan menentukan jumlah hari untuk penanggalan bulan (satu bulan menjadi 29 atau 30 hari).

Meski banyak versi, saat ini umat Buddha umumnya berpegang pada dua peristiwa sejarah dalam penanggalan tahun baru Imlek. Pertama, penanggalan yang dimulai dari era Huang Di dan penanggalan di era Nabi Agung Khong Hu Cu.

"Secara umum dua sejarah itu yang dijadikan pedoman, namun jika ke pribadi masing-masing penanggalannya sesuai pengetahuan dan keyakinan induvidu tersebut," ujar dia.





(ALB)