Puluhan penyandang disabilitas bertahan di atas trotoar depan gedung Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna Bandung, Jawa Barat, Rabu, 15 Januari 2020. Medcom.id/ Roni Kurniawan
Puluhan penyandang disabilitas bertahan di atas trotoar depan gedung Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna Bandung, Jawa Barat, Rabu, 15 Januari 2020. Medcom.id/ Roni Kurniawan

Puluhan Penyandang Disabilitas di Bandung Terlantar di Trotoar

Nasional penyandang disabilitas
Roni Kurniawan • 15 Januari 2020 12:17
Bandung: 30 orang penyandang disabilitas harus bermalam di area trotoar Jalan Pajajaran, Kota Bandung, sejak Selasa, 14 Januari 2020. Mereka diduga dipaksa keluar dari asrama Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna Bandung.
 
Berdasarkan pantauan Medcom.id, para penyandang disabilitas itu masih bertahan di depan gedung balai, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu, 15 Januari 2020. Bahkan mereka harus bermalam dan tidur di trotoar beralaskan matras.
 
"Kami yang melakukan kegiatan menginap di trotoar Wyta Guna dari kemarin pukul 19.30 WIB terdiri dari mahasiswa tunanetra terdampak dari kejadian ini yang menjadi korban sebanyak 30 orang dan teman-teman alumni dan intelek dan senior kami," kata salah seorang peserta didik di Wyata Guna, Elda Fahmi, 20, di lokasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Elda mengaku kini bersama puluhan rekannya tidak tahu harus menginap dimana karena mereka masih berstatus sebagai mahasiswa dan pelajar di Bandung. Dia menduga dikeluarkan dari gedung lantaran perubahan panti menjadi balai sejak awal 2019 oleh Kemensos.
 
"Jadi kenapa bisa ada mahasiswa di wyta guna karena dulu sebelum balai wyata guna itu panti. Tugas panti memberikan bimbingan, pembinaan, dan pendidikan dasar. Salah satunya itu pelayanan pendidikan, ada dua pelayanan pendidikan formal dan vokasional dengan waktu yang sesuai ditetapkan Kemendikbud," jelas Elda.
 
Elda mengaku sejak 2019 lalu telah diusir oleh pihak balai dan membawa barang serta perlengkapan yang ada di asrama. Namun mereka menolak dan bersikukuh untuk tepat mendapatkan fasilitas termasuk pendidikan dan keahlian dari balai Wyata Guna sebagai hak para kaum disabilitas.
 
"Kami disuruh pergi, kalian enggak punya hak disini lagi, ini udah balai. Kalian tolong pergi jarena kami tidak memberijan pelayanan lagi. Mereka bilang begitu," pungkas Elda.
 
Sementara itu kepala Balai Wyata Guna, Sudarsono, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi terhadap penghuni astrama sejak adanya perubahan panti menjadi balai. Pasalnya dalam aturam tersebut, kaum disabilitas hanya diberi waktu menghuni astrama selama enam bulan untuk mendapatkan fasilitas.
 
"Kalau dulu ketika masih jadi panti itu bisa dua atau tiga tahun, tapi setelah menjadi balai itu maksimal enam bulan. Dan kami juga sudah sosialisasikan kepada mereka termasuk keluarga mereka terkait aturan ini sejak tahun lalu," ungkap Sudarsono ditempat yang sama.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif