Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Provinsi Papua, Tony Wanggai. Foto: Medcom.id/Roy Ratumakin.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Provinsi Papua, Tony Wanggai. Foto: Medcom.id/Roy Ratumakin.

Hasil Investigasi Jaringan Teroris di Papua Harus Segera Diumumkan

Nasional terorisme teror
Roylinus Ratumakin • 10 Desember 2019 18:27
Jayapura:Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Provinsi Papua, Tony Wanggai berharap Polda Papua segera mengumumkan hasil investigasi kasus dugaan terorisme yang terjadi di Kabupaten Jayapura pada, Kamis, 5 Desember 2019.
 
“Seharusnya sebelum perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, pihak kepolisian sudah mengumumkan soal investigasinya,” kata Wanggai, Selasa, 10 Desember 2019.
 
Menurut Wanggai yang juga anggota Kelompok Kerja (Pokja) Agama Majelis Rakyat Papua, investigasi kepolisian harus sampai pada akar-akarnya termasuk asal-usul terduga terorisme yang ditangkap di Perumahan Doyo, Sentani, Kabupaten Jayapura.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Polisi juga harus mampu menjelaskan apakah terduga teroris tersebut bagian dari kelompok jamaah Ansharut Daulah yang memiliki jaringan sampai ke Islamic State of Iraq and Syam (ISIS), ataukah termasuk jaringan terorisme yang lain,” ujarnya.
 
Dikatakan, selama ini kelompok yang berpaham radikal sudah ada di Papua. Akan tetapi, penangkapan kelompok teroris beberapa hari lalu sempat mengagetkanseluruh masyarakat di Papua khususnya di Kota dan Kabupaten Jayapura.
 
“Kalau terjadi aksi terorisme tentu akan mengganggu kegiatan bisnis, dan (aksi itu) akan menjadi isu internasional. Ini yang perlu dijaga baik. Saya harap pihak kepolisian bisa segera mengungkap kasus itu, dan mendeteksi kira-kira siapa dan apa gerakan ini sebenarnya,” katanya.
 
PW NU Provinsi Papua, kata Wanggai, bisa bekerja sama dengan polisi untuk mencegah berkembangnya jaringan teroris di Papua.
 
“Kami umat Islam, khususnya NU bisa bekerja sama dengan pihak penegak hukum untuk bagaimana bisa mengantisipasi gerakan-gerakan ini agar tidak berkembang di Papua,” ujarnya.
 
Dirinya juga meminta intelijen bisa lebih memahami berbagai gerakan keagamaan trans nasional di dunia, terutama yang masuk ke Papua.
 
“Ini yang kadang kami lihat kekurangan intelejen (dalam memahami) gerakan keagamaan. Karena kita tidak memahami, lalu mengizinkan gerakan itu melakukan dakwah atau tabligh akbar dengan isi ceramah ujaran kebencian, merusak kerukunan, dan melawan negara,” katanya.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif