Ilustrasi/Medcom.id.
Ilustrasi/Medcom.id.

Tak Mampu Bayar Sekolah, Siswa di Demak Dikeluarkan

Nasional Pendidikan Vokasi
Akhmad Safuan • 29 Agustus 2019 13:58
Demak: Seorang siswa SMP Negeri 2 Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rama Hakim Surya Alama, 13, dikeluarkan dari sekolah. Rama dikeluarkan karena tak mampu melunasi uang seragam Rp950.000 dan pungutan uang sumbangan pendidikan Rp1,5 juta.
 
Sejak tidak dapat melanjutkan sekolah karena dikeluarkan tersebut, hari-hari Rama diisi dengan kesibukan membantu orang tua berjualan es buah keliling di sekitar Perumahan Sakinah Mranggen, Kabupaten Demak.
 
"Saya ingin anak saya tetap sekolah dan melanjutkan pendidikannya, tapi dikeluarkan karena belum membayar seragam dan sumbangan pendidikan. Meskipun saya sudah menghadap guru dan kepala sekolah untuk meminta keringanan waktu pembayaran," kata Ayah Rama, Agung Setyo Hadi, Kamis, 28 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agung mengaku sempat menghadap sekolah dan ingin mencicil dengan menitipkan uang Rp150.000. Namun, usaha itu ditolak dan harus membayar lunas uang seragam dan sumbangan pendidikan yang totalnya Rp2,5 juta. Sekolah juga memberikan penjelasan bahwa jika tidak dapat membayar maka tidak boleh masuk sekolah.
 
Sejak pembagian kelas, ujar Agung Setyo Hadi, sebagai orang tua mendampingi anaknya untuk memulai sekolah, tapi oleh guru ditolak karena belum membayar uang tersebut. Ketika menawar tempo pembayaran hanya dikasih waktu mepet. Bahkan ketika menghadap pada 20 Agustus lalu tetap harus melunasi.
 
"Kami mohon ada kebijakan karena tidak dapat membayar sekolah itu anak saya terpaksa tidak dapat sekolah," imbuhnya.
 
Kepala SMP Negeri 2 Mranggen Ahmad Sholeh mengelak tentang pungutan uang seragam dan uang sumbangan tersebut yang mengakibatkan siswanya tidak dapat sekolah. Meskipun dia mengakui memungut uang seragam Rp950 ribu dan sumbangan Rp1,5 juta per siswa.
 
"Sekolah tidak pernah mengeluarkan, tapi mungkin karena keputusan orang tua sendiri," kata Ahmad Sholeh.
 
Saat dikonfirmasi ke Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Demak, Anjar Gunadi, mengaku sudah purna tugas sejak 1 Agustus. Ia menyayangkan kejadian ini, karena masih ada kuota 20 persen bagi siswa miskin yang tetap dapat ditampung di sekokah-sekolah negeri.
 
"Masalah itu harus segera diselesaikan, jangan ada yang menjadi korban," kata Anjar.

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif