Ilustrasi: Bus TransJakarta (ANTARA)
Ilustrasi: Bus TransJakarta (ANTARA)

Menanti Pinangan Transjakarta

Medcom Files Dituntut Bus Butut
Sri Yanti Nainggolan • 26 Februari 2019 19:10

Jakarta terus bersolek. Bus-bus tua dan reyot sedikit demi sedikit dilenyapkan dari jalanan ibu kota. PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) siap melahap mereka yang tersingkir.


WACANA peremajaan bus kota, khususnya yang berkategori bus sedang, sudah muncul sejak 2014. Rencananya semua akan diintegrasikan dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Bus-bus sedang ini akan difungsikan sebagai pengumpan yang menghubungkan jalur-jalur utama bus besar TransJakarta.
 
Alhasil, pada Desember 2015, Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) bergabung dengan Transjakarta, dengan masa perjanjian 5 tahun. Bus yang didominasi warna hijau, berusia tua, dan populer dengan gaya mengemudi ugal-ugalan itu kini berada dalam kontrol manajemen TransJakarta.
 
Sebelumnya, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menargetkan, pada 2019 program peremajaan bus kota ini sudah beres. Jadi bukan hanya Kopaja, operator lainnya juga akan diintegrasikan dengan Transjakarta, seperti Metromini; Kopami Jaya; Koantas Bima; dan Dian Mitra.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Namun, hingga saat ini bus berkategori sedang yang lama masih berseliweran di jalanan ibu kota. Sesekali masih terlihat gaya ugal-ugalannya.
Menanti Pinangan Transjakarta
Bus Metromini dan Kopaja sedang mengangkut penumpang di Jalan Jenderal Sudirman, Kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. (MI)
 

Direktur Utama PT Metromini Nofrialdi mengungkapkan, pihaknya dan tiga operator lain sebetulnya sudah siap bergabung dengan Transjakarta. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian kontrak yang jelas. Termasuk tentang kisaran tarif perkilometer.
 
Padahal, PT Metromini sudah mendapatkan surat dari Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Oktober 2018. Disebutkan, jumlah kendaraan yang diizinkan berintegrasi sebanyak 782 unit -- sesuai dengan Izin Penyelenggaraan Angkutan (IPA) yang didaftarkan PT Metromini. Nantinya, armada akan dikeluarkan secara bertahap. Tahun pertama 100 unit, tahun kedua 200 unit, tahun ketiga sisanya.
 
"Ini hanya sebatas rekomendasi persetujuan (untuk) boleh integrasi. Padahal kita butuh (kontrak) itu supaya bank mau membiayai. Kita sudah mengajukan perhitungan tapi realisasinya tak ada," ujar Nofrialdi saat ditemui Medcom Files pada Senin, 4 Februari 2019.
 
Nofrialdi menganggap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tak serius. Dia tampak kesal karena prosesnya terbilang lama. Saat ini, dari informasi yang dia dapatkan, Badan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa (BPPBJ) tengah menggodok angka yang pas untuk tarif per kilometer.
 
Ternyata proses tersebut memang memakan waktu yang lama. Hal ini diakui Sekretaris Kopaja Wahab Napitupulu, saat pihaknya memulai proses integrasi dengan Transjakarta. Penghitungan tarifnya dilakukan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP).
 
"Gelombang 1 dipercepat karena didorong. Begitu bus ada, diperiksa Transjakarta, besoknya jalan. Di LKPP agak lama (prosesnya)," kata Wahab saat kami konfirmasi, Kamis, 31 Januari 2019.
 
Jika Nofrialdi menganggap Pemprov tak serius, pengurus Unit Bus Kota dari Organisasi Angkutan Kota (Organda) DKI Jakarta Widodo justru menganggap aturan ini parsial.
 
Menurutnya, ketika Pemprov mengeluarkan aturan untuk tidak memperpanjang izin trayek bus sedang pada 31 Desember 2018, belum ada sistem integrasi yang permanen dan jelas.
 
"Seolah-olah Pemprov peduli, faktanya belum bisa mengatur semua," ujar Widodo saat kami temui, Rabu, 30 Januari 2019.
 

Menanti Pinangan Transjakarta
Surat dari Dishub DKI Jakarta kepada Transjakarta terkait rekomendasi integrasi dengan Metromini. (Medcom/Dok. PT Metromini)
 

Kopaja rasa TransJakarta

Saat integrasi antara operator bus sedang dengan Transjakarta terjadi, tentu banyak pola kerja lama yang berubah. Bagi pihak Kopaja -- operator yang sudah berintegrasi lebih dulu, perubahannya signifikan.
 
Pertama, para pramudi tak perlu lagi membayar setoran ke pemilik armada. Dulu setoran wajibnya berkisar Rp200-400 ribu per hari, dan sisa pendapatannya bisa dibawa pulang. Kini mereka memiliki gaji tetap sebesar RP6,2 juta perbulan.
 
Jumlah iuran pokok pemilik armada ke Kopaja juga berubah. Biasanya setiap bulan iurannya antara Rp75-150 ribu. Setelah bergabung dengan Transjakarta iurannya menjadi Rp1 juta.
 
"Jumlah iuran berdasarkan pada keramaian trayek, jumlah penumpang," kata Wahab menyoal tidak adanya nilai iuran yang tetap.
 
Angka baru iuran wajib ini tentu menguntungkan bagi Kopaja. Iuran yang diterima naik berkali-kali lipat dan konstan.
 
Kebijakan yang sama juga akan diberlakukan oleh PT Metromini seandainya sudah bergabung dengan Transjakarta. Setoran bulanan pemilik armada yang sebelumnya Rp30 ribu per unit, dipukul rata menjadi Rp 1,5 juta.
 
"Sekarang (iuran di Metromini) sudah tak ada. (Sejak) 2018 sudah down, tak ada pemasukan. Kecuali terealisasi integrasi (dengan Transjakarta) ini," kata Nofrialdi.
 

Menanti Pinangan Transjakarta
Sekretaris Kopaja Wahab Napitupulu. (Medcom/Yanti)
 

Perjanjian kedua

Ihwal peremajaan bus kota, para operator bus sedang yang mau bergabung dengan Transjakarta wajib mengganti armadanya. Warna khas bus-busnya pun berubah. Ambil contoh Kopaja, tak lagi didominasi warna hijau, tetapi putih dan biru.
 
Trayek yang digunakan pun ditentukan oleh Transjakarta. Sebab, Kopaja difungsikan sebagai bus feeder atau pengumpan yang menghubungkan dengan jalur utama bus besar TransJakarta.
 
Tarifnya sama seperti bus Transjakarta, yaitu Rp3.500. Turun Rp500 dari tarif reguler Kopaja sebelumnya.
 
Pada 2020, perjanjian integrasi gelombang pertama ini akan berakhir. Kini Kopaja dan Transjakarta bersiap melakukan perjanjian gelombang kedua. Ada beberapa perubahan.
 
"Kontrak baru lagi. Gelombang kedua nanti (berjalan) tujuh tahun. Tapi belum MoU (kesepakatan), karena menunggu harga," ucap Wahab.
 
Dari segi jumlah, Kopaja akan mengeluarkan 450 armada secara bertahap dalam tiga tahun. Rencananya tahun ini akan dikeluarkan 150 unit.
 
Soal trayek tidak berubah. Direktur Operasional Transjakarta Daud Joseph mengungkapkan, trayek dalam perjanjian awal bisa diteruskan asalkan masih sesuai dengan aturan kelas jalan.
 
Selain itu, pengajuan tarif kerjasama yang ditawarkan Kopaja juga naik menjadi Rp20 ribu perkilometer. Namun, kata Wahab, angka yang disepakati adalah Rp17 ribu, meski belum tertuang dalam perjanjian resmi.
 
Sementara PT Metromini, dalam persiapan kerjasama pertamanya dengan Transjakarta, juga telah memberikan penawaran tarif perkilometer dalam Harga Perkiraan Sendiri (HPS). PT Metromini mengajukan Rp16.709.
 
"Rp1.000 untuk Metromini, Rp3.000 untuk servis pemeliharaan. Sisanya, Rp12 ribu untuk pemilik," kata Nofrialdi.
 
Tapi, Daud mengaku bahwa pembicaraan belum sampai pada tahap tersebut."Saya belum menerima penawaran (paket kerjasama) dari operator," ujarnya singkat saat dihubungiMedcom Files, Kamis, 14 Februari 2019.
 

Menanti Pinangan Transjakarta
Direktur Utama PT Metromini Nofrialdi. (Medcom/Yanti)
 

Beli bus baru

Dalam kerjasama ini, mau tak mau operator bus sedang harus membeli bus baru. Seiring program peremajaan bus kota, bus-bus yang lama diharapkan tidak lagi beroperasi. Nah, cicilan pembelian bus baru itu dibebankan kepada pemilik armada.
 
Kopaja, dalam perjanjian kerjasama gelombang pertama, mengajukan Toyota Dyna 110FT. Tipe ini merupakan jenis bus yang sebelumnya dipakai untuk Kopaja AC. Tapi, menjelang perjanjian gelombang kedua nanti, jenis itu direvisi. Kopajamengajukan merek baru,Mitsubishi.
 
Berharap kerjasamanya juga diterima Transjakarta, Metromini pun turut membubuhi jenis bus serupa dalam penawarannya. Kini, Kopaja dan Metromini mengajukan jenis bus yang sama, yakniMitsubishi FE 84G BC.
 
Dalam HPS milik PT Metromini, tertulis, Mitsubishi FE 84G BC harganya Rp910 juta per-unit. Tipe ini sebelumnya sudah digunakan oleh Transjakarta sebagai bus sedang berlabel Minitrans.
 
Soal kesamaan merek dan jenis bus yang diajukan dalam perjanjian, Daud mengungkapkan, pemilihan itu adalah kewenangan penuh operator. Transjakarta tidak mengatur soal jenis bus yang musti dibeli oleh operator. Pihak Transjakarta hanya bertanggung jawab pada trayek yang akan dilalui dan jumlah armada yang dijatahkan.

***


INVESTASI dalam bisnis transportasi tidaklah kecil. Demi keberlangsungan, performa perusahaan harus ditingkatkan. Sebab itulah target jumlah penumpang selalu menjadi perhatian khusus Transjakarta.
 
Pada 2019 ini, perusahaan plat merah itu menargetkan 231,8 juta pelanggan. Dalam sehari, diharapkan ada 1 juta penumpang.
 
Saat ini Transjakarta memiliki 236 rute dan 3.588 unit bus yang sudah beroperasi. Untuk mengejar target 1 juta penumpang perhari, maka diperlukan penambahan bus dan rute yang berada di luar koridor.
 
"Masuk ke daerah-daerah penyangga, ini titik kunci," kata Daud.
 
Berdasarkan penjabarannya, penambahan tersebut adalah 800 unit bus kecil, 290 unit bus sedang, dan 300 unit bus besar. Termasuk ada penambahan 73 rute baru.
 
Khusus bus sedang, Transjakarta mengandalkan kerjasama integrasi dengan 5 operator yang ada. Pembagiannya, 150 unit dari Kopaja; 100 unit dari Metromini; 30 unit dari Kopami Jaya; 36 unit dari Koantas Bima; dan 8 unit dari Dian Mitra.

 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi