Seorang perempuan memotret gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta, Jumat (5/7/2019). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro).
Seorang perempuan memotret gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta, Jumat (5/7/2019). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro).

Hidup di Tengah Polusi

Medcom Files Ribut-ribut di Rooftop
Sri Yanti Nainggolan • 10 Juli 2019 16:47
BAGI kaum urban di Jakarta, perkara memilih tempat tinggal jadi hal paling krusial. Pembangunan yang eksesif, kian menggerus ketersediaan lahan. Impian memiliki rumah tapak di Ibu Kota, agaknya sulit kesampaian.
 
Kondisi inilah yang melahirkan jutaan kaum komuter. Kaum ini memiliki aktivitas dan pekerjaan di pusat bisnis Ibu Kota, namun bermukim di luar Jakarta. Mereka tak sanggup memiliki rumah di Jakarta karena harga tanah yang kelewat mahal. Kalaupun tetap di Jakarta, paling tinggal di hunian vertikal macam rumah susun alias Rusun.
 
Namun, belakangan ini, ada komplek perumahan yang sempat membetot perhatian publik. Perumahan itu berada di atas atap sebuah pusat perbelanjaan, Jakarta Pusat. Namanya Cosmo Park, mirip-mirip rumah tapak, dengan fasilitas seperti perumahan pada umumnya, ada taman depan dan garasi untuk parkir kendaraan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Cosmo Park viral pada 24 Juni 2019. Lantas heboh di jagat maya ketika sebuah akun Twitter @shahrirbahar1 asal negeri jiran, membagikan foto perumahan tersebut sambil mencuit, "Good morning Jakarta. Macam mana lah diorang terfikir nak develop taman perumahan atas bagunan?"
Hidup di Tengah Polusi
Foto aerial suasana perumahan yang berada di atas mal Thamrin City, Jakarta, Rabu (26/6/2019). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
 

Memang unik, perumahan yang dibangun PT Agung Sedayu pada 2006 itu, berada di atas gedung Thamrin City, tepatnya di lantai 10. Berdasarkan beberapa situs penjualan rumah, Cosmo Park rata-rata dibanderol dengan harga Rp5 miliar. Tiga kali lipat dari harga penjualan awal yaitu Rp 1,5 miliar saat siap huni di tahun 2009. Sementara harga sewa perbulannya Rp25 juta.
 
Setiap rumah di sana tingkat dua, dengan tiga sampai empat kamar tidur. Luas tanah berkisar 116-268 meter persegi (m2) dan luas bangunan yang hampir sama. Garasi muat dua mobil dan ada halaman kecil untuk berkebun.
 
Tak lama Cosmo Park santer, ada lagi perumahan dengan konsep yang sama yakni The Villas, pula jadi perhatian. The Villas terletak di rooftop pusat perbelanjaan Mall of Indonesia (MOI). Harga jual untuk rumah tiga lantai tersebut Rp3,5-4 miliar dan sewa berkisar Rp200-250 juta per tahun, demikian menurut beberapa situs penjualan rumah.
 

Hidup di Tengah Polusi
Foto aerial suasana perumahan "The Villas" yang berada di atas Mal Of Indonesia (MOI), kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (2/7/2019). (ANTARA/Nova Wahyudi).
 

Baca Juga: Hunian di Atap Mal, Bukan Rumah tapi Apartemen
 
Perumahan dengan konsep unik tersebut mendapat berbagai respons dan pertanyaan. Salah satunya terkait perizinan bangunan. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Benny Agus Chandra mengungkapkan tak ada masalah pada kedua perumahan tersebut.
 
"IMB-nya seperti izin apartemen yang dibawahnya ada mal," ucapnya pada Medcom terkait izin Cosmo Park pada 26 Juni 2019.
 
Seminggu kemudian, Benny menyatakan bahwa The Villas juga sudah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) dan sertifikat laik fungsi (SLF) sejak 2017.
 

Hidup di Tengah Polusi
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Benny Agus Chandra. (Whisnu Mardiansyah).
 

Ancaman polusi

Ketika warganet terlena dengan bagaimana rasanya tinggal di atap bangunan jangkung, ada bagian yang terlupakan: soal bagaimana kualitas udara di tempat tinggi. Apalagi, baru-baru ini Jakarta dinobatkan sebagai kota paling berpolusi menurut AirVisual.com.
 
Situs pemantau kualitas udara tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta terburuk sejak akhir Juni 2019. Pada 25 Juni 2019, Jakarta menduduki peringkat pertama dengan indeks kualitas udara (AQI) sebesar 240. AQI memiliki rentang dari 0 hingga 500. Semakin rendah AQI berarti udara sangat baik. Sebaliknya, semakin tinggi AQI berarti udara bertambah buruk.
 
Seminggu lebih berlalu, AQI Jakarta menurun menjadi 145 pada 4 Juli 2019. Namun masih bertengger di paling atas.
 
Kotornya udara Jakarta semakin terlihat jelas dalam tagar #SetorFotoPolusi yang mulai berseliweran di media sosial Twitter pada hari di mana Jakarta menjadi kota paling banyak polusi.
 

Baca Juga: LAPAN Sebut Polusi Jakarta Melebihi Bangkok
 

Juru kampanye Iklim dan Energi dari Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu mengungkapkan bahwa ada berbagai alasan mengapa Jakarta berkabut kotor. Limbah udara yang berasal dari berbagai sumber cenderung berkumpul di Jakarta.
 
Ia menjelaskan, menyitat penelitian seorang ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa Jakarta didominasi angin yang bergerak dari utara dan selatan. Di pagi hari, angin laut bertiup dari utara menuju selatan wilayah Jakarta. Pada sore hari, angin berbalik arah dengan kecepatan yang lebih lambat dari pagi hari. Inilah yang menyebabkan terjadi gulungan polusi udara di Jakarta Selatan.
 
"Tak heran jika Jakarta Selatan menjadi lebih tinggi karena tersapu dan sore hari mengumpul di situ. Turbulensi terjadi di selatan," simpul Bondan pada Medcom Files, Senin 1 Juli 2019.
 

Hidup di Tengah Polusi
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta, Jumat (5/7/2019). (ANTARA/Wahyu Putro).
 

Kondisi tersebut menyebabkan polutan hanya berputar di area Jakarta. Bahkan semakin pekat pada ketinggian tertentu dan terlihat seperti kabut. Pemandangan yang konstan.
 
Bondan mengaku tak heran karena prinsip polusi udara adalah persisten, tak akan hilang. Apalagi untuk PM 2,5 yang supermini hingga bisa menembus masker. PM 2.5 adalah partikel kecil atau tetesan di udara yang lebarnya dua setengah mikron atau kurang.
 
"Ketika terekspos di udara, itulah yang ada di udara selamanya. Terutama untuk PM 2,5," tambah dia.
 
Jika demikian, maka tak ada bedanya jenis udara di ketinggian berapa pun. Polusi udara terus berjalan bisa ratusan kilometer ke atas.
 

Hidup di Tengah Polusi
Juru kampanye Iklim dan Energi dari Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu (kiri) (ANTARA/Fauziyyah Sitanova)
 

Mengandalkan ruang hijau

Viralnya perumahan di atas apartemen memicu banyak tanggapan. Salah satunya dari Pengamat Tata Kota Nirwono Joga yang tak merespons inovasi tersebut dengan positif. Selain terkait perizinan dan jenis kepemilikan, ia juga menyoroti alternatif penggunaan rooftop (atap bangunan).
 
Menurut dia, tren kota-kota besar di dunia terkait penggunaan rooftop lebih berfokus pada menambah ruang terbuka hijau (RTH). Misalnya taman atap (roof garden) atau pertanian atap (roof urban farming).
 
"Paling aman ya difungsikan sebagai RTH dan fungsi penunjang bangunan gedung tersebut, bukan untuk rumah-rumah seperti itu," ungkap dia kepada Medcom Files, Selasa 2 Juni 2019.
 

Hidup di Tengah Polusi
Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga - foto: MI
 

RTH di DKI Jakarta sendiri baru mencapai 14,9 persen dengan aset pemerintah sebanyak tujuh persen pada tahun 2018. Padahal, berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap wilayah kota harus menyediakan RTH sebesar 30 persen dari luas wilayah.
 
Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman DKI Djafar Muchlisin mengungkapkan bahwa sebanyak 10 RTH di sepuluh lokasi rencananya akan dibangun mulai 2019. Kesepuluh lokasi itu diantaranya, Jalan Penggilingan Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur; Jalan Madrasah Bawah, Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan; serta Jalan Kendal, Rorotan, Cilincing Jakarta Utara.
 
"Kemudian Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat; Jalan Suakarsa, Pondok Kelapa Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur; Kampung Jati, Rambutan, Ciracas, Jakarta timur," kata Djafar pada Medcom, Sabtu 8 September 2018.
 
Terlepas dari masih kurang banyaknya RTHdi Jakarta, ternyata solusi alamiah tersebut tak signifikan untuk menghalau polusi udara. Pasalnya, tanaman tak bisa menyerap PM 2,5. Bondan mencontohkan, area Jakarta Selatan memiliki banyak RTH tetapi kualitas udara tetap terburuk.
 
"Ini karena tumbuhan hanya menyerap karbondioksida, bukan PM 2,5. Karena ini partikel, bukan gas. Memang ada tumbuhan yang bisa menyerap PM 2,5 tetapi hanya 45 persen (dari partikel tersebut). Tumbuhan hanya membuat oksigen lebih banyak untuk kita," papar dia.
 

Dampak bagi kesehatan

Dokter spesialis jantung dr. Ade Imasanti SpJP, FIHA menerangkan bahwa polusi udara dapat menjadi pencetus penyakit berbahaya. Terutama PM 2,5 yang berukuran sekecil debu dan bisa masuk ke dalam tubuh.
 
"Polusi udara yang tinggi dapat menimbulkan bengkak jantung, langkah pertama dari gagal jantung," tukas dia dalam sebuah video kampanye #JakartaPulih.
 
Selain memicu gangguan di saluran pernapasan, polusi udara juga dapat memicu kanker. Dilansir The Sun, polusi udara memberi dampak terburuk pada paru-paru. Sebuah penelitian di Inggris yang melibatkan 300 ribu orang menemukan bahwa paparan polusi udara dapat mempercepat penuaan paru-paru. Selain itu, polusi udara juga memicu penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
 
Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M.R. Karliansyah bahkan mengaku udara Jakarta saat ini tak sehat buat masyarakat tertentu. Udara Jakarta dinilai berbahaya bagi bayi dan manula.
 
"Bila menggunakan data gabungan AQMS KLHK dan Pemerintah DKI Jakarta, maka kualitas udara Jakarta berada pada konsentrasi 39,04 µg/Nm3 atau pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif (bayi dan manula)," kata Karliansyah kepada Medcom, Kamis 4 Juli 2019.
 
Data AQMS KLHK di Gelora Bung Karno, tercatat rata-rata harian jenis polutan partikulat PM2,5 di Jakarta sejak 1 Januari hingga 24 Juni 2019, sebesar 30,64 µg/Nm3. Angka itu masih rendah dibandingkan Baku Mutu Udara Ambien Nasional sebesar 65 µg/Nm3.

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif