Massa membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jalan Trikora Wosi Manokwari, Senin (19/8/2019) -- ANTARA FOTO/ Toyiban
Massa membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jalan Trikora Wosi Manokwari, Senin (19/8/2019) -- ANTARA FOTO/ Toyiban

Blunder Pengamanan di Rusuh Papua

Medcom Files Kerusuhan Manokwari Jalan Panjang Irian Jaya
M Rodhi Aulia • 23 Agustus 2019 18:28
SEJUMLAH warga asal Papua keluar dari Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, Kamis 22 Agustus 2019. Berjarak sekitar sepuluh meter dari pintu masuk stasiun arah Masjid Istiqlal, mereka langsung berbaur dengan rekan-rekannya.
 
Sedari awal rekan mereka yang lain sudah menunggu. Jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Saat berpapasan, mereka langsung bersalaman dan berpelukan.
 
Mereka terlihat akrab. Senyum mereka merekah. Namun di sudut pagar stasiun dari arah Istiqlal, sejumlah aparat keamanan berseragam tampak bersiaga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Salah seorang aparat menggunakan rompi khas, mendekati mereka dan menyapa warga tersebut. "Selamat siang," ujar aparat itu. Aparat itu berusaha ikut berbaur dengan mereka. Tapi pantauan kami, mereka spontan bersikap dingin. Mereka cuek dan buru-buru bergerak ke luar stasiun mengarah Istiqlal.
 
Pada waktu itu beredar rencana aksi mahasiswa Papua di sekitar Istana Merdeka. Mereka menamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa Anti-Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme.
 
Sejumlah aparat yang melihat kedatangan warga asal Papua itu mengikuti rombongan dari belakang. Sebelum sampai di seberang Istana Merdeka, sempat terjadi aksi dorong-dorongan dengan aparat keamanan.
 

Blunder Pengamanan di Rusuh Papua
Massa yang tergabung dalam Mahasiswa Papua Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme menggelar unjuk rasa di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (22/8/2019). Dalam aksi tersebut mereka mengutuk pelaku pengepungan asrama kamasan Papua di Surabaya serta mendesak untuk menangkap dan mengadili aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto).
 

Aksi para mahasiswa tersebut buntut dari dugaan perlakuan tidak baik yang diterima mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Mereka mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengadili pelaku rasis terhadap rekan mereka di Surabaya.
 
Aksi ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Tapi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Papua dan sekitarnya. Tuntutan mereka relatif sama; mendesak pengusutan kasus diduga rasis terhadap warga asal Papua.
 
Polda Jatim telah memastikan pihaknya tidak mengeluarkan kalimat rasis kepada mahasiswa Papua. Kepastian itu setelah Polda Jatim memeriksa anggota mereka yang bertugas di lokasi.
 
Sementara Kodam V Barawijaya masih menelaah dugaan rasis yang dilakukan anggotanya. Apalagi di media sosial, beredar sebuah video perbuatan rasis kepada mahasiswa Papua oleh seseorang yang mengenakan seragam TNI.
 
Terkait hal ini, Presiden Jokowi telah memerintahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menindak prajuritnya jika terbukti berbuat rasis.
 
"Kalau memang ada aparatnya, yang nyata-nyata melakukan hal seperti itu (rasis), tindak. Enggak ada alasan," kata Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn) Moeldoko di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis 22 Agustus 2019.
 
Namun belum selesai permasalahan itu, mendadak muncul informasi bahwa asrama mahasiswa Papua, di Bandung, Jawa Barat, tiba-tiba didatangi seseorang yang menggunakan seragam dinas.
 
Seseorang itu datang sekitar pukul 13.00 WIB di saat mayoritas penghuni tengah berunjuk rasa di depan Gedung Sate. Seseorang itu memberikan dua dus minuman keras (miras).
 

Baca Juga: Dugaan Polisi Beri Miras ke Mahasiswa Papua Didalami
 

Mahasiswa yang menerima itu tersinggung dengan pemberian tersebut. Dari asrama, miras itu langsung dibawa ke lokasi unjuk rasa untuk dikembalikan ke aparat.
 
Polda Jabar juga tengah memeriksa oknum yang diduga memberikan miras. Pemeriksaan dilakukan Propam setempat.
 
"Kita lihat sejauh mana prosesnya," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada wartawan, Jumat 23 Agustus 2019.
 
Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta menilai penanganan dari petugas yang terjadi dalam satu rangkaian peristiwa terkait Papua, kurang tepat, cenderung blunder. Stanislaus meminta hal ini harus menjadi koreksi bagi aparat keamanan Polri dan TNI, sehingga mempunyai prosedur penanganan kasus-kasus berikutnya dengan lebih cermat tanpa menimbulkan masalah.
 
"Menangani kasus-kasus dengan muatan SARA memang tidak mudah karena sensitifitasnya tinggi. Hal inilah yang diduga membuat proses penanganan menjadi kurang tepat," kata Stanislaus kepada Medcom Files, Jumat 23 Agustus 2019.
 

Blunder Pengamanan di Rusuh Papua
Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta. (M Rodhi Aulia).
 

Dia menegaskan pendekatan kultural dan kemanusiaan dalam menangani kasus-kasus yang sensitif perlu dilatihkan kepada para petugas. Pelatihan itu supaya lebih cermat.
 
"Terkait penanganan yang tidak tepat seperti ucapan rasis dan pemberian minuman keras, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena mustahil ditemukan SOP seperti itu," ujar dia.
 
Ia menambahkan perlu diberikan tindakan kepada oknum petugas yang melakukannya sebagai pembelajaran, dan tentu saja harus ada rekonsiliasi atas kekecewaan dan sakit hati yang muncul karena penanganan yang tidak tepat tersebut.
 
"Kasus Papua ini pelajaran yang berharga," pungkasnya.

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif