Lapas sukamiskin, Jawa Barat. (MI/Priyasma)
Lapas sukamiskin, Jawa Barat. (MI/Priyasma)

Kisah dari Sukamiskin

Medcom Files setya novanto
M Rodhi Aulia • 18 Juli 2019 17:04
SELAMA tinggal di bui, Andi Mallarangeng terbiasa mendengar teriakan-teriakan kencang jelang malam hari. Suara histeris itu berasal dari penghuni sel lainnya yang stres karena belum siap menerima takdir.
 
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) itu sempat menjadi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Andi menjalani masa hukuman di Sukamiskin selama empat tahun.
 
Usai bebas pada 19 Juli 2017, Andi mulai menata hari-harinya. Andi ingin fokus dengan cita-cita semasa muda; menjadi dosen dan atlit tenis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Reporter kami, M Rodhi Aulia, menemui Andi di kediaman pribadinya di kawasan Cilangkap, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Andi bersedia membagi kisah dan pengalamannya selama hidup di dalam penjara. Berikut kutipan wawancara kami dengan Andi:
 
Bisa diceritakan aktivitas Bang Andi setelah bebas dari Lapas?
Jadi kegiatan saya sekarang ini macam-macam. Pertama, main tenis. Sekarang saya ikut pertandingan tenis veteran ITF (International Tennis Federation) senior. Itu berdasarkan kelompok umur. Sekarang umur saya 55, saya masuk ke kelompok umur 55. Dan dulu cita-cita saya memang ingin menjadi pemain tenis. Tapi tidak kesampaian ketika masih muda. Banting setir ke sekolah. Masuk UGM (Universitas Gajah Mada).
 
Sekarang Alhamdulillah punya waktu yang lebih luang untuk main tenis, sekaligus ikut pertandingan tenis internasional. ITF. Itu lembaga atau badan tenis internasional. Ada tiga jenis pertandingannya yang junior, senior dan pro. Alhamdulillah sekarang saya punya rangking dunia. Kemarin saya jadi juara di Thailand. Sekarang kerja saya jadi atlet. Dulu saya ngurusin atlet. Lebih fun jadi atlet. Sekarang jadi atlet dapat piala betul-betul dari keringat sendiri.
 
Kalau dulu jadi menteri, atlet setelah dia dapat emas dapat piala kemudian dipersembahkan kepada menteri . Ada juga dipasang di Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) segala macam. Sekarang betul-betul punya sendiri.
 
Tanpa berniat menyinggung masa lalu, bisa diceritakan saat berada di dalam Lapas?
Waktu di dalam, saya berusaha menikmati apa yang bisa dinikmati. Supaya waktu berlalu tidak terasa. Saya di dalam menulis buku, bikin lagu, main gaple, main tenis. memperkuat ibadah dan sebagainya. Jadi kita berusaha untuk menikmati apa yang bisa dinikmati. Badan saya lebih sehat di sana, karena olahraga. Walaupun badan tetap terpenjara, pikiran tetap sehat.
 

Kisah dari Sukamiskin
Andi Mallarangeng (tengah) saat menjadi warga binaan di Lapas Sukamiskin. (ANTARA/Novrin Arbi)
 

Tidak stres?
Beberapa kawan di sana begitu masuk jadi stres dia. Terus kita bilang jiwa dan raga belum menyatu. Sehingga tidak bisa menerima keadaan dan akhirnya stres. Ada yang sampai kalau malam teriak-teriak. Kalau teriak kemudian nangis. Terus teriak lagi. Sampai ketika di masjid kita salat ke arah barat, dia ke arah timur. Kenapa kawan satu ini. Lagi stres berat. Ketika kita tanya, dia jawab bumi bundar. Toh sama saja. Stres berat kawan ini.
 
Ada kawan dokter. Dia juga tahanan di sana. Dia ngundang temannya psikiater beberapa orang untuk ceramah dan kasih konsultasi. Banyak juga yang hadir bagaimana mengurangi stres. Bagaimana menghadapi persoalan psikologis. Terus mereka kasih kesempatan konsultasi one on one. Terus kita cari teman-teman yang selama ini teriak-teriak, yang salatnya enggak karuan itu. Tapi apa yang terjadi? Lari semua mereka. Enggak ada yang mau diperiksa oleh dokter. Dia bilang saya tidak gila. Saya bilang bukan soal gila. Ini barangkali kau perlulah konsultasilah. Siapa tahu bisa membantu. Tetap enggak mau dia. Lari dia sembunyi.
 
Kabarnya bang Andi sangat aktif di sana?
Ya, saya selalu berusaha mengisi kegiatan. Saya olahraga, mengajar bahasa Inggris, belajar bahasa Mandarin, bahasa Arab. Setiap hari saya sibuk di sana. Les bahasa Mandarin dua kali seminggu. Ada guru dari luar yang kita bayar, kalau bahasa Arab dari dalam Lapas. Banyak orang pesantren di sana. Salah satunya yang menjadi guru adalah Ahmad Fathanah. Saya juga belajar bahasa Sunda.
 
Soal keberadaan sejumlah saung di Lapas. Bisa dijelaskan?
Saung itu karena kebutuhan untuk menerima tamu dan keluarga. Jadi di sana ada aula tapi kecil. Sementara tamu dan keluarga banyak sekali. Di sana kan banyak mantan pejabat, pengusaha yang relasinya banyak, segala macam. Sebelum saya masuk sudah ada di sana. Itu tempat bertamu. Kalau tidak begitu, di emperan itu banyak sekali. Enggak muat. Sehingga itu guna saung untuk pertemuan keluarga. Sistemnya kan siapa yang datang, booking.
Bang Andi punya saung khusus di sana?
 
Enggak juga. Saung itu digunakan secara bersama. Tidak boleh dindingnya tinggi. Harus setengah. Ibu saya datangnya hari Rabu, istri saya Kamis atau Senin. Saya cuma booking hari itu. Booking ke pengelola tamping (tahanan pendamping). Dia yang membersihkan semua. Kita kasih uang biar dia membersihkan segala macam. Ya, biasa itu.
 
Bagaimana warga binaan mencari pendapatan di sana?
Ada juga yang dapat income dari mijit, kita kasih lah. Itulah cara-cara bagi mereka yang susah di sana. Yang penting dia dapat duit dan dia punya kegiatan. Selain itu ada kegiatan yang dipersiapkan Lapas sebagai pembinaan. Ada pertanian, dll.
 
Jadi masing-masing orang berusaha mencari kegiatannya, sehingga waktu itu bisa berjalan cepat.
 
Ada juga warga binaan yang di sana tidak punya kegiatan. Di kamar terus. Malah dulu, saat zaman batu akik fenomenal, juga ada kegiatan mengasah batu akik. Ada juga bikin roti, susu kedelai. Aku juga belajar lah. Kira-kira kalau keluar dari situ susah cari kerjaan, bisa belajar bikin roti.
 
Masyarakat kita di satu pihak tidak mau residivisme. Tapi alumni Lapas kalau mau kerja enggak boleh. Pasti enggak boleh jadi PNS. Karena terkendala surat kelakuan baik.
 
Lalu ke mana dia kerja. Satu-satunya jalan adalah menjadi entrepreneur. Harus punya modal. Ada yang berhasil di sana setelah keluar. Dia selama di sana, kerja di dapur. Kan ada dapur umum. Kita dibolehkan memilih kegiatan yang kita inginkan.
 
Di sana, di dapur, banyak yang tidak bisa kita makan. Kita bilang nasi cadong. Cuma kalau bikin nasi goreng enak. Karena keras. Tapi ada beberapa yang enak. Sayurnya enak.
 
Kalau soal ngurus-ngurus proyek sesama tahanan saat di dalam?
Susah. Kita sudah di dalam mau ngurus apa. Secara fisik tidak bisa. Yang saya lihat pengusaha-pengusaha (yang masih sibuk mengurus bisnis). Bagaimanapun usaha harus tetap jalan. Karena masih punya pegawai. Tapi tetap saja sulit karena selama di dalam itu bagaimana survive agar pegawai tidak di-PHK. Kalau ngurus proyek tidak bisa ngurus sendiri.
 
Saya lihat yang punya usaha juga pasti down. Semua orang punya laporan. Apa itu benar semua. You enggak bisa kontrol kok. Mau bangun rumah saja harus dipantau. Apalagi usaha.
 
Kalau sudah keluar bisa jadi iya (ngurus proyek atau bisnis bareng). Selama di dalam tidak bisa. Sudah bagus dia bisa mempertahankan usaha agar tidak collaps. Kalau berkembang, susah. Cuma ketemu teman baru, ada bisnis baru, bisa saja. Tapi kalau sudah keluar. Justru karena networking. Itu biasa kalau itu. Ada beberapa alumni Sukamiskin ketemu saya mengajak bikin usaha, tapi apa ya. Kalau ada usaha yang bisa kita lakukan, kita bikin. Itu networking namanya.
 
Bagaimana agar bisa survive di dalam?
Ya kalau di sana, pertama kali biasanya kita harus menghilangkan status seperti itu. Ada kawan yang baru masuk, setelah beberapa lama di sana, saya menjemput dia. Seperti Irman Gusman (mantan Ketua DPD RI). Saya jemput di gerbang. Saya perkenalkan dengan teman di masjid. Di sini tidak ada istilah menteri, ketua DPR, DPD, Wali Kota, Bupati dan lain-lain tidak ada. Di sini semua sama. Warga binaan.
 
Kalau mau survive hilangkan status itu. Keinginan harus dihormati dan lain-lain, tidak ada. Kita bisa dihormati di situ kalau kita baik, berguna bagi orang lain. Saya di sana tidak ada masalah. Orang respect dengan saya. Karena saya ngajarin bahasa Inggris, tenis dan jadi teman curhat. Soal keluarga dll.
 
Ada yang istrinya minta cerai. Datang ke kamar saya. Saya punya banyak waktu kok. Cuma dengar orang curhat. Saya juga suka menyapa. Apa yang saya bisa bantu. Ada yang baru datang saya tanya, kau butuh apa. odol, dll.
 
Kalau pejabat daerah yang enggak ada keluarganya, yang bisa nyiapin kebutuhan dia. Semuanya dipuastkan di Sukamiskin. Padahal dia dari Medan, NTT, Jateng, dan lain-lain. Kebutuhan mereka untuk di Lapas itu biasanya tidak ada yang bawain. Saya tegaskan, kita dihormati orang bukan karena punya jabatan dulu. Kita sama-sama warga binaan.
 
Ada yang culture shock. Kalau makan tatapannya kosong. Saya bilang buang semua status itu. Di sini komunitas tersendiri dan orang akan menghargai kita kalau kita berguna bagi orang lain.
 
Apakah ada permusuhan atau dendam antar warga binaan?
Harus bisa sabar karena tidak boleh ada kekerasan di sana. biasanya bloknya dipisah. Di sana itu masing-masing kita punya persoalan sendiri, ada masalah sendiri-sendiri. Toh ada keluarganya meninggal, usahanya hancur, karir hancur semua, ada masalah keluarga anaknya hamil di luar nikah. Karena itu enggak usah ngurusi masalah orang lain. Kita harus survive. Enggak usahlah pergi mikirin urusan orang lain.
 
Kalau ada kekerasan masuk sel isolasi atau dibuang ke lapas lain. Di sukamiskin minimum securtiy. Penjagannya lebih humanis. kenapa minimum? dia biasanya karena napi berpendidikan dan sudah tua. Setahun sekali bagus kalau ada yang kelahi. Kalau di (Lapas) Cipinang, ya itu tiap minggu berkelahi.
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif