Pengunjung membawa kantung belanja saat Midnight Shoping di Pusat Perbelanjaan, Jakarta, (MI/PANCA SYURKANI).
Pengunjung membawa kantung belanja saat Midnight Shoping di Pusat Perbelanjaan, Jakarta, (MI/PANCA SYURKANI).

Geliat Bisnis Jastip

Medcom Files Geliat Bisnis Jastip
Sri Yanti Nainggolan • 18 Desember 2018 20:37
Siang itu, Selasa, 27 November 2018, tim Medcom Files menemui Angela, pelaku bisnis jasa titip (Jastip), di kawasan Jakarta Selatan. Dia bercerita, awal mula menekuni bisnis Personal Shopper karena tekanan kerja di kantor.
 
Pada 2005, Angela dikirim kantornya untuk melakukan kunjungan kerja ke Bangkok, Thailand. Selain urusan kerja, dia juga menyempatkan diri untuk liburan di sana. Dari situ, Angela mulai ketagihan berpakansi ke luar negeri.
 
Di tahun yang sama, wanita yang bekerja di bidang marketing perusahaan retailer itu, memutuskan berhenti bekerja karena tekanan pekerjaan. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Angela pun berlibur sambil menunggu panggilan kerja yang ia lamar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
"Saya tahu (liburan) enggak murah. Kemudian saya ingat, ada teman yang bercerita kalau dia membelikan sepatu (dari luar negeri) untuk temannya, tapi dibayar," ujar Angela.
Geliat Bisnis Jastip
Angela, pelaku bisnis Jastip, Jakarta (Yanti Nainggolan).
 

Saat mendengar informasi itu, Angela merasa itu ide bagus. Konsep membelikan barang tanpa harus menyetok, seperti toko daring (Online Shop) dinilai punya peluang bisnis. Keuntungan diperoleh dari uang tip yang dibayarkan penitip.
 
Lagi pula, Angela juga tak harus menyiapkan banyak barang dan khawatir apakah akan laku terjual. Dia juga tidak mengeluarkan biaya untuk pengiriman barang karena sudah dibebankan ke penitip (requester). Sementara itu, dia tetap bisa menikmati liburan.
 
"Ya, namanya traveling, pasti pengin lagi, pengin lagi. Kemudian, saya ingat soal Jastip ini."
 
Ia pun mulai menawarkan Jastip pada kerabat dan keluarganya terlebih dahulu. Namun, ia tak mematok besaran tip, seikhlasnya saja. Lambat-laun, dia juga melayani titipan barang dari orang lain. Angela memberikan informasi layanan Jastip di akun media sosialnya setiap kali ke luar negeri.
 
Awalnya, Angela banyak mendapakan titipan barang diskon besar atau sale. Tak banyak keuntungan yang dia dapat. Tak sesuai ekspektasi.
 
"Capek beliin barang orang lain tapi tak dapat apa-apa. Akhirnya, saya bergabung dengan Airfrov Indonesia,” ungkap dia.

Berkat perusahaan perintis

Karir Angela sebagai penggiat jastip mulai meroket ketika bergabung di Airfrov Indonesia. Salah satu platform yang mempertemukan pelaku jastip dan pengguna jastip secara Daring (dalam jaringan). Segala bentuk aktivitas terkait jastip bisa terfasilitasi oleh perusahaan startup (perintis) yang berdiri sejak 2015 tersebut. Misalnya, tawar menawar tip, barang yang diinginkan pengguna jastip, dan barang yang ditawarkan pelaku jastip.
 
Dengan adanya wadah digital tersebut, Angela mengaku lebih profesional dalam dunia titip-menitip ini. Bergabung sejak 2016, kini Angela sudah melalang buana ke berbagai belahan dunia. Beberapa di antaranya adalah Amerika Serikat, Yunani, Singapura, Spanyol, Thailand, Australia, dan lain-lain.
 
Hingga akhir November 2018, ia sudah melakukan perjalanan sebanyak 62 kali dengan agenda berlibur sekaligus jastip.
 
"Dominan (perjalanan) ke Amerika Serikat dan Eropa. Sudah sekitar delapan kali ke Amerika," tambahnya.
 
Kedua kawasan tersebut adalah tempat berlibur yang paling disenanginya. Selain itu, banyak pesanan jastip dari sana. Dua tahun menjalani bidang ini, Angela mengaku bahwa permintaan dari Amerika Serikat dan Jepang adalah yang tertinggi.
 
Namun, bagi orang-orang yang ingin mencoba jastip, Angela memberikan saran negara tujuan untuk belajar yaitu Thailand (Bangkok), Jepang (Tokyo), Amerika Serikat (New York), dan Australian (Sydney atau Melbourne).
 
"Di sana barang mudah didapat, dan secara online juga cepat. Jadi usaha belanja tak besar,” saran Angela.
 

Geliat Bisnis Jastip
Kawasan Harajuku Takeshi, Tokyo, Jepang, cukup populer di kalangan wisatawan mancanegara untuk berbelanja. (MI/SUMARYANTO).
 

Prospek bisnis

Sebagai pelaku, Angela melihat masa depan jastip akan bertahan lama. Bahkan, mereka yang baru terjun di dunia ini pun tak perlu khawatir.
 
"Menjanjikan. Biarpun tip kecil yang diambil, tetap okay," ujar Angela.
 
Namun, Angela tak menyarankan untuk menjadikan bisnis ini sebagai pekerjaan utama. Keuntungan yang didapat dari tip tak bisa diandalkan untuk menopang hidup secara keseluruhan.
 
"Kecuali kita bepergian (naik pesawat dengan sistem) potong poin, tapi kan itu habis juga. Atau hanya menginap di rumah teman," kata dia.
 
Setali tiga uang, pihak Airfrov Indonesia juga melihat prospek jastip yang cerah di Indonesia. Ceo dan Co-Founder Airfrov Cai Li mengatakan, bisnis Jastip di Indonesia cukup menjanjikan. Dia bilang ramai pelancong dari Indonesia yang berlibur dan berbelanja di luar negeri.
 

Geliat Bisnis Jastip
Ceo dan Co-Founder Airfrov Cai Li, Jakarta (Yanti Nainggolan).
 

Li menjelaskan, pengguna Airprov bisa mendapatkan barang yang diinginkan dalam waktu cepat. Beberapa hal seperti tren, pajak, dan kemudahan dalam berkomunikasi dengan pelaku jastip adalah poin tambahan.
 
Uang yang didapat dari tip kembali digunakan untuk berlibur. Tak hanya bersenang-senang dan dapat pengalaman baru, para pelaku jastip juga mendapatkan informasi baru seputar produk yang tengah naik daun, melalui barang yang dititipkan.
 
“Model barang khusus atau terbaru yang tak tersedia di Indonesia adalah salah satu alasannya, yang hanya rilis di Jepang atau Hong Kong. Dua negara yang lebih up to date,” kata Li.
 
Senada, Public Relation and Community Airfrov Indonesia, Vegys Gultom, menyebut bisnis ini juga sangat menarik perhatian kaum muda. Mengingat, generasi milenial cenderung lebih suka menghabiskan uang untuk mendpat pengalaman seperti liburan, ketimbang menghabiskan uang untuk mengkonsumsi barang.
 
"Anak muda sekarang butuh konten liburan untuk mengisi feeds media sosial mereka, sementara mereka tidak sekaya itu. Jadi lumayan, bisa jalan-jalan dan pulang bawa uang," ujar Vegys saat berbincang dengan kami, Rabu 21 November 2018.
 

Geliat Bisnis Jastip
Public Relation and Community Airfrov Indonesia, Vegys Gultom, Jakarta (Yanti Nainggolan).
 

Tak bertahan lama?


Hal berbeda diungkapkan Financial Trainer, Ligwina Hananto. Menurut dia, Jastip bagian dari freelance dan entrepreneur trend. Sejalan dengan semakin tingginya semangat anak muda yang tidak kerja kantoran. Mereka bisa mencari berbagai cara mencari uang lain yang sifatnya nonformal.
 
Jastip tumbuh terutama karena tren traveling yang semakin memuncak. Saat traveling para pelaku Jastip membukakan pintu untuk akses pada produk-produk mancanegara.
 
"Pola hidup milenial sekarang terutama berpusat pada sistem remote (dari jauh - online atau titip) dan experience. Maka Jastip menjadi populer. Karena para pembeli tidak perlu pergi dan turut merasakan (experience) barang yang dibeli oleh pelaku Jastip," kata Ligwina kepada Medcom Files, Minggu 16 Desember 2018.
 
Geliat Bisnis Jastip
 

Namun, tambah Ligwina, prospek bisnis Jastip tak secerah ketimbang dua tahun terakhir. Bisnis Jastip akan tergerus arus Marketplace (situs belanja daring) dan Online Shop (toko daring). Contohnya, Jastip IKEA yg dulu berjaya sekarang bertumbangan karena IKEA sudah membuka marketplace.
 
"Peluang Jastip masih ada. Akan tetapi akan makin tergerus arus marketplace dan online shop," ungkap dia.
 
Belum lagi, bisnis Jastip masih memiliki risiko keamanan. Misalnya, lemahnya pengawasan produk-produk tertentu seperti kosmetik dan obat yang masuk ke Indonesia tanpa pengawasan dari otoritas.
 
"Ini tentu akan jadi tantangan semua sektor. Saat online menyebabkan batas negara makin abu-abu, tentu semakin sulit membatasi jasa seperti Jastip. Pelaku Jastip juga perlu berhati-hati supaya tidak melanggar aturan hukum yang berlaku," pungkas Ligwina.
 


 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif