Bea dan Cukai memulangkan sejumlah kontainer berisi sampah B3. Foto: Medcom.id/M Rodhi Aulia
Bea dan Cukai memulangkan sejumlah kontainer berisi sampah B3. Foto: Medcom.id/M Rodhi Aulia

Kontainer Beracun Sepanjang Istana Merdeka-Kota Tua

Medcom Files Sampah Impor
M Rodhi Aulia • 19 September 2019 16:46
SUARA Heru Pambudi terdengar samar. Meski kami berdiri sangat dekat dengan speakerstand di Terminal Peti Kemas, Koja, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu 18 September 2019.
 
Suaranya hilang-timbul sedari awal berbicara. Lantaran angin bertiup kencang menjelang petang. Tapi ia tetap melanjutkan pidatonya terkait kesiapan memulangkan sejumlah kontainer berisi limbah plastik yang terkontaminasi limbah bahan beracun dan berbahaya (B3).
 
"Kita sore ini mengumumkan tindaklanjut daripada arahan Presiden Jokowi dalam Ratas (rapat terbatas 27 Agustus 2019) mengenai impor plastik ini. Pokok-pokok arahan Presiden adalah lakukan verifikasi. Jika ada pelanggaran, tindak tegas. Salah satunya, reekspor (pemulangan ke negara asal)," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini di hadapan awak media.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Kontainer Beracun Sepanjang Istana Merdeka-Kota Tua
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi saat konferensi pers sampah B3 di Terminal Peti Kemas, Koja, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu 18 September 2019. Foto: Medcom.id/M Rodhi Aulia
Dalam kesempatan itu, Heru memperlihatkan sembilan kontainer sebagai sampel harus dipulangkan pada Kamis 19 September 2019. Ia membuka sebagian kontainer dan mempertontonkan isinya.
 
Saat dibuka, tampak tumpukan botol plastik sudah dipipihkan. Seperti yang sering kita lihat ketika pemulung menemukan botol plastik.
 
Sementara di dalam kontainer itu, ribuan bahkan puluhan ribu botol ditumpuk rapi. Namun sekilas secara kasat mata, kami tidak melihat limbah B3 yang dimaksud.
 
Seperti di luar ekspektasi. Karena bayangan sebelumnya adalah kontainer itu didominasi limbah B3 dan baunya sangat menyengat.
 
Sempat tercium aroma tak sedap saat kontainer itu dibuka. Tapi tidak pekat atau menyengat. Sekadar aroma ruangan lembab. Masker yang disediakan khusus untuk awak media, kebanyakan tidak terpakai.
 
Sejumlah orang kasak-kusuk. Lantas, ramai mempertanyakan wujud limbah B3. "Kalau lihat secara visual memang susah. Karena ketika diperiksa, limbah plastik itu diturunkan per bal," ujar salah satu orang di sana.
 

Kontainer Beracun Sepanjang Istana Merdeka-Kota Tua
Sejumlah awak media diperlihatkan sample sampah B3 yang dipulangkan ke negara asal. Foto: Medcom.id/M Rodhi Aulia
 

Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah non-B3 KLHK, Achmad Gunawan angkat suara. Menurutnya limbah B3 yang dimaksud ialah sisa makanan dan limbah B3 lain yang tercampur di limbah plastik tersebut.
 
"Waktu kita periksa bareng-bareng dengan Bea Cukai, terdapat sisa-sisa makanan," kata Gunawan.
 
Di antara pemeriksaannya berlangsung pada 14, 15 dan 29 Agustus 2019. Pemeriksaan terhadap 102 kontainer limbah plastik yang diimpor PT HI.
 
Hasilnya 23 kontainer dinyatakan terkontaminasi limbah B3. Seketika itu pula, muncul rekomendasi pemulangan ke negara asal. Sebanyak 13 di antaranya ke Australia.
 
Kami mencoba menghimpun informasi lebih detail terkait ini. KLHK tidak menoleransi limbah B3 walau hanya 1 persen di satu kontainer.
 
Bagi KLHK, impor limbah plastik harus 100 persen bebas dari limbah B3. Rata-rata ditemukan tingkat terkontaminasinya sekitar 2-3 persen dari setiap kontainer.
 
Tapi ada juga ada yang paling ekstrem, mencapai 50 persen. Kami diperlihatkan sejumlah foto kontainer yang kasat mata berisi wujud limbah B3. Seperti botol oli kendaraan bermotor, popok, limbah medis, elektronik dan lain-lain.
 

Konsistensi Penindakan

Bea Cukai dan KLHK konsisten melakukan penindakan terhadap impor limbah B3 itu. Data Bea Cukai, hingga 17 September 2019, total 547 yang diputuskan direekspor.
 
Artinya pihak otoritas Indonesia memulangkan kontainer beracun sepanjang 6,5 kilometer. Atau jika dijejerkan, itu sepanjang jalan dari Istana Merdeka ke kawasan Kota Tua. Penuh dengan kontainer beracun.
 
Bea Cukai dan KLHK serta otoritas terkait menjaga sejumlah titik masuk kontainer beracun agar tidak lolos masuk ke Indonesia. Terdiri dari Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Batu Ampar (Batam), dan Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta).
 
Selain itu, pihak terkait juga memeriksa sampai di Kawasan Berikat, Tangerang, Banten. Dari sejumlah lokasi itu, mereka telah 'memaksa' berbagai perusahaan untuk mengekspor kembali ke negara asalnya dengan risiko biaya sendiri.
 
Dari semua kontainer beracun yang ada, sejumlah perusahaan harus bertanggunh jawab. Mereka adalah PTI, PT NHI, PT AS, PT MSE, PT SM, PT MDI, PT BM, PT PKI, PT AWP, PT TIS, PT HTUI, PT PDPM, dan PT ART. Mereka dipaksa mengembalikan kontainer beracun ke Amerika Serikat, Australia, Belgia, Belanda, Hong Kong, Jerman, Perancis, Selandia Baru, Slovenia, Spanyol, Britania Raya, dan Yunani.
 
Indonesia telah meratifikasi ketentuan Basel Convention yang mengatur penanganan impor limbah. Kemudian diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2016.
 

Kontainer Beracun Sepanjang Istana Merdeka-Kota Tua
 
Kontainer Beracun Sepanjang Istana Merdeka-Kota Tua
 

Dalam kebijakan itu dijelaskan importir limbah diharuskan mengimpor limbah yang bukan berasal dari kegiatan landfill, tidak terkontaminasi B3 atau limbah B3. Selain itu importir harus mendapatkan rekomendasi dari KLHK dan Kementerian Perindustrian.
 
Setelah itu, importir harus mengurus persetujuan impor (PI) dari Kementerian Perdagangan. Bahkan sebelum dikirim ke Indonesia, harus ada verifiksi oleh surveyor di negara muat.
 
"KLHK dan Bea Cukai terus berupaya agar ini terus diseriusi. Sehingga Indonesia bisa mencegah atau tidak menjadi tempat buangan limbah dari negara lain," tegas Gunawan.
 


 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif