Suasana di Perumahan The Villas, Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Sri Yanti Nainggolan).
Suasana di Perumahan The Villas, Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Sri Yanti Nainggolan).

Menapaki Rumah Penyundul Langit

Medcom Files Ribut-ribut di Rooftop
Sri Yanti Nainggolan • 12 Juli 2019 18:32
RUMAH di atas mal, memang tak lazim. Itulah yang bikin warganet heboh tempo hari. Ada yang menyebut sebagai bentuk kreativitas, pula ada yang khawatir soal risiko keselamatan.
 
Perumahan yang jadi sorotan itu adalah Cosmo Park yang berdiri di atas ketinggian 10 lantai, di atap pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta Pusat. Ada pula The Villas, perumahan yang dibangun di atas Mall of Indonesia (MOI), Jakarta Utara. Kedua perumahan itu ramai diperbincangkan di dunia maya.
 
Ternyata, di tengah viralnya rumah di atas mal, para marketing properti berlomba-lomba menjual dan menyewakan unit perumahan di atas mal secara daring (dalam jaringan). Dari pantauan di beberapa situs jual-beli rumah online, harga jual satu rumah di sana berkisar antara Rp 3,5 hingga 4 miliar. Sementara, sewa per tahun rata-rata Rp 250 juta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Salah satu situs jual-beli rumah, rumah.com, menawarkan perumahan The Villas. Iklan-iklan perumahan The Villas di situs itu, banyak diunggah dari sebulan lalu sampai seminggu terakhir. Artinya, penjualan rumah jenis itu digenjot saat isu rumah di atas mal sedang ramai-ramainya.
Menapaki Rumah Penyundul Langit
Laman situs jual-beli rumah online menawarkan Perumahan The Villas, Jakarta Utara. (rumah.com).
 

Fenomena perumahan dibangun di atas pusat perbelanjaan sebetulnya sudah ada sejak lama. Konsep itu dibuat untuk konsumen yang menginginkan tinggal di tengah kota, namun dengan fasilitas lengkap layaknya rumah yang dibangun di dipermukaan tanah dan harga yang lebih murah. Karena lahan yang terbatas, pengembang akhirnya memanfaatkan atap bangunan untuk membangun perumahan.
 
Beberapa waktu lalu, Medcom Files berkesempatan melihat bagaimana kondisi perumahan The Villas, salah satu perumahan yang berada di atas mal. Untuk bisa masuk ke sana, ada dua jalan. Naik lift dekat lobi dua MOI untuk masuk lewat lobi timur atau naik lift lobi delapan MOI yang tembus ke lobi barat. Perumahan tersebut terletak di lantai lima.
 
Masuk ke perumahan ini memang agak payah. Tak sembarang orang bisa memasuki kawasan perumahan itu. Usai melewati pemeriksaan, kami pun diizinkan masuk.
 
Suasana sepi, itu yang kami rasakan saat pertama kali tiba di tengah area perumahan. Kebetulan kami datang pada siang hari, waktu di mana penghuni rumah bekerja.
 

Menapaki Rumah Penyundul Langit
Suasana Perumahan The Villas di Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Sri Yanti Nainggolan).
 

Menyusuri ke dalam area perumahan, terdapat rumah berjejer dengan dua konsep desain: minimalis dan klasik. Keduanya didominasi dengan warna krem, hanya saja rumah minimalis memiliki bentuk yang lebih modern dengan tambahan warna cokelat tua. Perbedaan juga terlihat pada dekorasi pilar. Pilar rumah minimalis berbentuk kotak dan pilar rumah klasik berbentuk bulat. Pada bagian dalam rumah, tak ada perbedaan.
 
Dari tampilan depan, terdapat taman kecil yang ditanami pohon ukuran sedang dan rerumputan. Ada tangga yang mengarah ke pintu utama dan pintu garasi di sampingnya. Semacam rumah tapak pada umumnya.
 
Di lantai satu, ada garasi yang bisa memuat dua mobil dengan posisi memanjang. Bagian belakang, terdapat ruang tanpa atap yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian.
 
"Karena kebanyakan mobil ditaruh di luar (rumah), jadi (bagian garasi) digunakan untuk ruang lain," terang seorang sumber pada Medcom Files, Senin 8 Juni 2019.
 

Menapaki Rumah Penyundul Langit
Rumah tipe minimalis di Perumahan The Villas. (Sri Yanti Nainggolan).
 

Selain garasi, terdapat ruangan khusus untuk asisten: kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Ukuran kamar tidak besar tetapi dapat memuat kasur ukuran single dan lemari kecil. Ada juga satu kamar serbaguna di dekat tangga.
 
Terdapat dua tangga untuk naik ke lantai dua. Lewat depan yang terhubung langsung dengan ruang tamu dan lewat dalam melalui garasi.
 
Lantai dua adalah inti rumah. Begitu masuk dari ruang tamu, sebelah kiri terletak kamar tidur dengan luas 3x3,5 meter dan kamar mandi. Lebih ke dalam, terdapat ruang tengah yang digabung dengan dapur. Ada beranda dengan pintu geser kaca dengan pemandangan perumahan dan gedung-gedung berjejer dari kejauhan.
 

Menapaki Rumah Penyundul Langit
Rumah tipe klasik di Perumahan The Villas. (Sri Yanti Nainggolan).
 
Naik ke lantai tiga, ada satu kamar tidur utama, dua kamar biasa, dan satu kamar mandi. Terdapat kamar mandi dan ruang wardrobe dalam kamar utama dengan total 8x5 m2. Juga ada beranda untuk bersantai di ruangan tersebut.
 
Perumahan The Villas sudah dilengkapi perabotan atau full-furnished. Calon pembeli atau penyewa tak perlu repot membeli barang-barang untuk memenuhi rumah lagi.
 
Untuk fasilitas umum, The Villas menyediakan The Club House. Gedung dua tingkat tersebut mempunyai kolam renang, lapangan tenis, dan pusat kebugaran (gym). Bagi yang senang lari, penghuni dapat mengitari sekitaran kompleks, yang umumnya menjadi lintasan lari (jogging track).
 

Menapaki Rumah Penyundul Langit
Beberapa fasilitas umum di Perumahan The Villas. (Sri Yanti Nainggolan).
 

Rumah dan milenial

Dilihat dari fasilitas dan lokasinya, harga jual perumahan dengan konsep di atas atap gedung tinggi terbilang mahal. Memang bukan untuk masyarakat kalangan menengah-bawah. Terlebih, untuk kaum milenial yang hanya mengandalkan pendapatan dari tempat kerja.
 
Tak bisa dipungkiri bahwa penduduk Indonesia saat ini didominasi kaum milenial. Artinya, generasi ini berpengaruh besar dalam berbagai sektor, termasuk properti. Bahkan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga memikirkan bentuk rumah seperti apa yang sesuai untuk angkatan hidup yang mencapai 81 juta jiwa tersebut.
 
Dengan demikian, konsep rumah di atas mal sepertinya belum menjadi tren desain rumah ke depan. Pemerintah masih fokus pada hunian vertikal yang disesuaikan dengan kebutuhan milenial.
 
Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid menyebutkan bahwa program perumahan untuk milenial lebih diarahkan ke rumah vertikal dan rumah sederhana bersubsidi. Lebih spesifik, terdapat tiga klaster.
 
Pertama, milenial pemula berusia 25-29 tahun dengan kondisi baru bekerja atau mencai pekerjaan, dan belum menikah. Kedua, milenial berkembang berusia 30-35 tahun dan sudah berkeluarga. Terakhir, klaster milenial berusia di atas 35 tahun yang sudah matang secara finansial dan pekerjaan.
 
"Klaster disiapkan rumah sewa vertikal yang dekat dengan simpul transportasi. Klaster kedua berupa hunian tipe 36 dengan dua kamar tidur. Sementara klaster ketiga silakan beli sendiri menyesuaikan dengan selera dan gajinya,” ujar Khalawi pada Medcom, Rabu 19 Juni 2019.
 

Menapaki Rumah Penyundul Langit
Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Khalawi Abdul Hamid (kiri) menerima sertifikat penghargan dari Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (kanan). (ANTARA FOTO/Wira Suryantala).
 

Menurut dia, rumah sewa adalah pilihan paling tepat, mengingat karakter kaum milenial yang dinamis dan konsumtif. Sementara dari segi pembiayaan, subsidi atau swadana, itu tergantung penghasilan. Yang pasti, syarat utama subsidi adalah penghasilan yang masuk dalam kriteria masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
 
Faktanya, hanya 25 persen kaum milenial yang memilih mengontrak saat hengkang dari rumah orang tua. Hasil riset Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019 menyebutkan, milenial cenderung mulai berpikir membeli rumah setelah menikah, yang kebanyakan berusia akhir 20an.
 
Fakta lain pun mendukung. Hasil analisa terhadap data historis para pencari properti melalui Google di Jakarta menunjukkan bahwa minat membeli hunian makin turun tiap tahun. Berbanding terbalik dengan menyewa. Jumlah orang yang berminat membeli rumah mencapai 319.200 orang pada 2017. Angka tersebut menurun setahun kemudian menjadi 229.200 orang.
 
Sementara itu, minat menyewa rumah meningkat, meski masih kalah secara angka dengan minat membeli rumah. Tren pencarian informasi tentang sewa rumah pada 2017 mencapai 106.200 orang, sedangkan 2018 mencapai 112.440 orang.
 

Menapaki Rumah Penyundul Langit
Rumah susun sewa Jatinegara yang diperuntukkan warga yang berpenghasilan menengah-bawah di kawasan Kampung Pulo, Jakarta Timur.(MI/RAMDANI)
 

Area pencarian favorit berada di wilayah Tebet dengan rata-rata harga sewa Rp 900 ribu per meter persegi. Disusul dengan Cibubur dengan harga sewa Rp 550 ribu per meter persegi dan Kebayoran Baru dengan harga sewa Rp 1 juta per meter persegi.
 
Sentiment Survey yang diadakan situs Rumah123 dengan total 3.007 responden juga menemukan hasil serupa. Survei tersebut melibatkan milenial dengan rentang usia 22–28 tahun dan penghasilan Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan.
 
"Khusus untuk sewa, pertumbuhannya bahkan dua kali lipat daripada persentase penjualan," ungkap Country GM Rumah123 Maria Manik, dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 Mei 2019.
 
Lebih spesifik, apartemen mengalami peningkatan permintaan yang tinggi dibandingkan rumah, meningkat hingga 42,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Data tersebut juga menunjukkan beberapa pertimbangan masyarakat dalam membeli properti, yaitu lokasi (0,68 persen), harga (20,50 persen), fasilitas (20,03 persen), promo khusus (19,52 persen), dan desain (19,28 persen).
 
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 49,91 persen penduduk Jakarta usia produktif belum memiliki rumah. Mereka saat ini tinggal bersama orang tua atau mengontrak.

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif