Kegiatan Budi membantu mengajar di SD 1 Motaain, perbatasan RI-Timor Leste. Foto: Dispenad
Kegiatan Budi membantu mengajar di SD 1 Motaain, perbatasan RI-Timor Leste. Foto: Dispenad

Pengabdian Tentara Suku Anak Dalam di Perbatasan

Medcom Files tni ad
M Rodhi Aulia • 19 September 2019 13:02
MESKI berasal dari Suku Anak Dalam, Budi tidak kehilangan cita-cita. Nama lain suku ini ialah Suku Kubu atau orang rimba. Mereka merupakan masyarakat yang tinggal di pedalaman Jambi.
 
Tepatnya, Budi berasal dari Pauh, Bukit 12, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Berjarak sekitar 169,6 kilometer dari Kota Jambi. Waktu tempuh dengan sepeda motor sekitar 4 jam 8 menit atau dengan mobil 4 jam 24 menit.
 
Saat tumbuh remaja, Budi berlatih untuk mengikuti serangkaian tes sebagai prajurit TNI Angkatan Darat (AD). Usahanya tidak sia-sia. Budi dinyatakan lolos dan resmi dilantik pada 2017 lalu dengan pangkat Prajurit Dua (Prada).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Prada Budi tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif Raider 142/Kasang Jambi. Baru dua tahun bertugas, Budi terbang ke Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal September 2019. Selama sembilan bulan ke depan, ia mengabdikan dirinya di Belu. Salah satunya mengajar di perbatasan Republik Indonesia (RI)- Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).
 
Budi turut membantu mengajar di SD 1 Motaain yang berada di Dusun Halimuti Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur. Budi mengajar sekitar 50 pelajar bersama tiga rekannya. Mereka adalah Serda Tri Taruna Sihombing, Pratu Ade Mandala P dan Pratu Syarif Hidayat.
 

Pengabdian Tentara Suku Anak Dalam di Perbatasan
Kegiatan Budi membantu mengajar di SD 1 Motaain, Dusun Halimuti, Silawan, Tasifeto Timur. Foto: Dispenad
 

Budi dan sejumlah rekannya itu memberikan materi pelajaran sesuai dengan kapasitas dan permintaan dari pihak sekolah. Di antaranya motivasi hidup, wawasan kebangsaan dan bela negara.
 
"Saya memberikan motivasi untuk anak-anak, karena saya anak dari suku anak dalam bisa jadi tentara, sehingga diharapkan mereka bisa bersemangat lagi untuk belajar," kata Budi, Rabu 18 September 2019.
 
Budi dan rekan-rekannya semakin termotivasi karena melihat kondisi sekolah yang belum layak. Itu lantaran masih berdinding bambu dan berlantai tanah. Sejatinya tak berbeda jauh dengan kondisi Budi dulu, yang belajar di bawah pohon.
 
Nalia Belac (52), guru dan penanggung jawab sekolah mengaku sangat senang dan terbantu dengan kehadiran prajurit TNI Pos Motaain pimpinan Lettu Inf Sahita di sekolahnya. Khususnya dalam memberikan wawasan pengetahuan umum dan bela negara.
 
"Kami sangat senang dan sangat terbantu sekali dengan kedatangan bapak-bapak TNI untuk membantu kami dalam memberikan materi dan wawasan pengetahuan umum" tutur Nalia.
 
Dansatgas Satgas Pamtas Yonif Raider 142/KJ, Mayor Inf Ikhsanudin mengatakan Budi merupakan satu dari dua orang asli suku anak dalam yang pertama kali menjadi prajurit TNI AD. Selain Budi, ada Prada Yogi berasal dari Bungku Kabupaten Batanghari, Jambi.
 
Mereka berdua sama-sama tergabung dalam dalam Satgas Pamtas Yonif 142 dan kini kompak bertugas di Belu. Selain pendidikan, lanjut Ikhsanudin, pihaknya menjalankan misi lain.
 
Pihaknya bertugas menjaga kedaulatan wilayah perbatasan dengan patroli keamanan wilayah dan memeriksa patok perbatasan negara. Mereka juga menjalani misi di bidang pelayanan kesehatan, pembangunan atau perbaikan fasilitas umum dan membantu warga tidak mampu.
 

Pengabdian Tentara Suku Anak Dalam di Perbatasan
Suana belajar-mengajar di SD 1 Motaain, Dusun Halimuti, Silawan, Tasifeto Timur. Foto: Dispenad
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif