Tanpa Batas di Tapal Batas
3Contents

TANPA BATAS DI TAPAL BATAS

Updated 26 September 2018 17:51
  1. Mengabdi di Batas Negeri
  2. Mengunjungi Tentara Langit
  3. Merintis Angan di Hutan Perbatasan
  • Content 1 of 3
Telusur

Mengabdi di Batas Negeri

Coki Lubis    •    26 September 2018 17:46

Siswa SD di Desa Nanga Bayan, Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Salah satu desa yang terletak di perbatasan RI-Malaysia. (Medcom) Siswa SD di Desa Nanga Bayan, Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Salah satu desa yang terletak di perbatasan RI-Malaysia. (Medcom)

MATAHARI mulai membubung di langit Dusun Landau Kemayau. Tawa puluhan siswa sekolah dasar tertebar riang, berlarian dikejar canda. Meski ada yang telanjang kaki, tak sedikitpun terlihat wajah murung. Di sekitar, tampak orangtua asyik bercakap-cakap. Pagi itu, ada tamu yang sedang ditunggu.

Demikian suasana di sekitar Balai Desa Sei Kelik alias Sungai Kelik, Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Senin, 17 September 2018. Ya, posisi Balai Desa itu berseberangan dengan akses masuk ke dusun. Hanya berbatas jalanan tanah selebar 6 meter.

Jalan yang belum jadi itu rencananya akan diperlebar, dilanjutkan hingga pos jaga perbatasan yang saat ini masih berupa jalur setapak perbukitan. Melalui sungai kecil dan sesaknya rimba, jarak dusun ke pos jaga perbatasan itu sekitar 2-3 jam perjalanan.

Saat itu, Kepala Desa, Kepala Dusun, juga puluhan masyarakat lainnya berbaur bersama sejumlah prajurit TNI AD. Kabarnya, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/ Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Achmad Supriyadi sebentar lagi tiba.

Sambil mengibas-ngibaskan bendera merah putih kecil dari plastik, para siswa mulai mempersiapkan diri. Seorang guru dan sejumlah prajurit perbatasan turut membantu mengarahkan. Anak-anak berdiri di sisi kanan dan kiri, membentuk koridor menuju halaman Balai Desa untuk dilalui si tamu istimewa.



Para siswa SDN 19 Sungai Kelik bersiap menyambut kedatangan Pangdam XII/ Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Achmad Supriyadi ke Balai Desa Sungai Kelik. (Medcom/Coki)


Tampak akrab. Di sela-sela, para prajurit terlihat bercengkerama dengan sejumlah siswa. Sesekali pertanyaan yang mungkin lucu mendarat kepadanya. Si tubuh tegap pun melepas senyum.

Penasaran, kamipun mendekat dan duduk di tanah yang lebih tinggi, agar lebih jelas melihat dan merasakan kegembiraan itu. Hingga akhirnya lagu kebangsaan dinyanyikan bersama, "Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku...".

Setidaknya ada 9 prajurit pengamanan perbatasan (Pamtas) Pos Sungai Kelik di sana. Ada yang memang berasal dari tanah Kalimantan, pula dari Sumatera, Sulawesi, dan dua prajurit asal timur negeri ini, Papua.

Dari pengamatan kami, para prajurit ini berbaur di sekitar anak-anak dan para orangtua, tentu tetap bersiaga. Sementara sang komandan regu, Letnan Dua TNI C.A. Gunarto yang berasal dari Jawa, terlihat sibuk berkoordinasi dengan atasannya.

Tak lama, deru baling-baling helikopter terdengar dari langit desa. Sekitar pukul 09.00 WIB helikopter berjenis Bell-412 itu mendarat di lapangan Dusun Landau Kemayau. Rombongan sudah tiba.

Sesaat setelah menginjakkan kaki di bumi Sungai Kelik, Mayjen TNI Achmad Supriyadi pun disambut dengan tarian khas Suku Dayak, tabuhan gong berirama tradisional, juga lagu 'Dari Sabang Sampai Merauke' yang dinyanyikan siswa SDN 19 Sungai Kelik. Perlahan Supriyadi mulai melangkah menuju Balai Desa, tentu melalui koridor kecil berpagar siswa 'putih-merah' yang sudah berbaris rapi.

Kedatangan Supriyadi bukan sekadar memantau pembukaan jalur oleh prajurit TNI AD terkait rencana pembangunan jalan. Dia juga ingin berterimakasih secara langsung kepada masyarakat atas kerjasama yang sudah dijalin kedua pihak selama ini.

Selain itu, kedatangan sang jenderal juga terkait aksi bakti sosial menyambut HUT TNI. Saat itu, Kodam XII/Tanjungpura memberikan bantuan sembako hingga perlengkapan sekolah.



Suasana penyambutan Pangdam XII/ Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Achmad Supriyadi (kiri) di Desa Sungai Kelik. (Medcom/Coki)

 

Mereka ada di perbatasan

Keakraban prajurit perbatasan dengan masyarakat dusun tak serta merta muncul begitu saja. Hari itu, persis 5 bulan Gunarto dan anak buahnya bertugas di Pos Perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Sungai Kelik.

Pos ini merupakan satu dari puluhan pos jaga yang ada di perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran. Perbedaannya, pos jaga di Desa Sungai Kelik ini belum ditunjang dengan pos induk di sekitarnya yang lebih besar, atau istilahnya 'pos bawah'.

"Jadi kami kalau melaksanakan tugas Binter (Pembinaan teritorial) itu dari pos (jaga) turun ke bawah (dusun) sekitar dua jam. Kadang-kadang kami menginap di rumah warga," ucap Gunarto kepada kami seusai acara penyerahan bantuan di Balai Desa.



Prajurit Satgas Pamtas Pos Sungai Kelik. Letda TNI C.A. Gunarto berdiri di tengah. (Medcom/Coki)


Binter sendiri merupakan salah satu tugas tentara perbatasan. Saat itulah prajurit berbaur, berolahraga bersama, atau berbenah dusun bersama masyarakat.

"Sudah seperti keluarga. Kami masih muda-muda, dianggap sebagai adiknya, atau anak bagi orang-orang tua di sini. Alhamdulillah, masyarakat di sini rukun," aku Gunarto.

Perwira muda ini juga merasa dibantu oleh warga, khususnya persoalan pemenuhan kebutuhan prajurit di perbatasan. Menurutnya, kiriman logistik dari markas terkadang menipis di penghujung bulan. Saat itu, mau tak mau prajurit mencoba memenuhinya dengan berbelanja secara mandiri.

Karena pos tidak bisa ditinggal, Gunarto pun terpaksa menitip pembelian kebutuhan itu kepada warga yang ingin turun ke pusat perdagangan di ibukota kabupaten. Jarak tempuhnya sekitar 12 jam perjalanan pergi-pulang.

Termasuk soal kendala komunikasi. Rindu keluarga di kampung halaman adalah laku yang manusiawi. Ihwal kerinduan ini, jaringan telepon dan internet mendadak vital. Sayangnya di sini tidak ada jaringan. Meskipun ada, jaringan itu muncul dari negara tetangga. Jika digunakan melalui kartu jaringan komunikasi dalam negeri, tentu terkena biaya jelajah yang mahal alias roaming.

"Kami dibantu masyarakat. Bila ada yang ke Malaysia untuk berbelanja, kami menitip membeli kartu (jaringan) Malaysia. Biar bisa menghubungi keluarga di rumah (kampung halaman)," kata Gunarto.

Baca: Merintis Angan di Hutan Perbatasan

Tak hanya itu. Saat Binter, tentara perbatasan juga diperbantukan sebagai guru tambahan di sekolah dasar setempat. Jadi, wajar saja bila Gunarto dan anak buahnya memiliki banyak sahabat kecil.

Kondisi ini diamini Kepala Sekolah SDN 19 Sungai Kelik Ana Talia. Bagi Ana, keberadaan tentara perbatasan sangat membantu giat pendidikan di tengah keterbatasan.

Kurangnya tenaga guru diakui sebagai persoalan. Tapi, bagi Ana, itu bukan hambatan untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak perbatasan.

Jumlah siswa di SDN 19 Sungai Kelik sendiri, dari kelas 1 sampai 6, total ada 40 anak. Sekolah ini baru memiliki 5 ruang kelas dan 3 guru.

"Kelas digabung. Contoh, kelas 3 dan kelas 6 jadi satu, karena gurunya satu," kata Ana saat kami temui di Balai Desa.

Tapi jangan anggap remeh. Dengan kurikulum yang sama, Ana yakin bahwa anak didiknya bisa berkompetisi dengan siswa di sekolah negeri lainnya di perkotaan.

"Kita memang tidak seperti yang lain. Tapi anak-anak bisa dapat nilai bagus," ucapnya bangga.



Kepala Sekolah SDN 19 Sungai Kelik, Ana Talia. (Medcom/Coki)


Ihwal keterlibatan prajurit TNI dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan dibenarkan Supriyadi. Bahkan, katanya, kegiatan itu bagian dari Binter - salah satu fungsi utama TNI.

"Tidak hanya menjaga perbatasan saja, tapi juga dalam rangka pembinaan teritorial," tegas Supriyadi.
 

Tanpa Batas di Tapal Batas
3contents

TANPA BATAS DI TAPAL BATAS

Updated 26 September 2018 17:51
  1. Mengabdi di Batas Negeri
  2. Mengunjungi Tentara Langit
  3. Merintis Angan di Hutan Perbatasan

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id