Muslihat Dolar
2Contents

MUSLIHAT DOLAR

Updated 12 September 2018 13:20
  1. Menangkal Muslihat Dolar
  2. Timang-timang Dolarku Sayang
  • Content 1 of 2
Telusur

Menangkal Muslihat Dolar

Wanda Indana    •    11 September 2018 19:04

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Rupiah bikin geger lagi. Nilai tukarnya kedodoran sampai Rp15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan sempat melemah 120 poin atau terdepresiasi 0,81 persen ke Rp14.935 per dolar AS.


SUASANA sontak bising. Banyak reaksi, ada yang panik, tak acuh, bahkan bahagia. Tak sedikit pula yang berteriak melemahnya rupiah pertanda krisis akan datang.

Pertanyaannya, seberapa besar dampak pelemahan rupiah bagi sektor rill? Ya, bagi masyarakat menengah ke bawah, juga usaha kecil yang ada di sekitar rumah kita.

Sebelum menjawab itu, ada baiknya mengetahui penyebab rupiah bisa melorot. Cerita bermula dari rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dan perang dagang AS-Tiongkok.
 

Dolar pulang kampung

Timbul tanya, mengapa suku bunga The Fed bisa mempengaruhi nilai tukar Rupiah atas Dolar? Apakah ketika suku bunga The Fed naik, lantas membuat Rupiah turun?

Begini, suku bunga The Fed ibarat kembang gula yang digemari anak kecil. Semakin manis kian disukai. Sama seperti investor yang selalu mengejar untung. Suku bunga yang semakin tinggi, membuat investor tergiur berinvestasi. Sebab, tingkat bunga yang tinggi mendatangkan imbal hasil yang tinggi pula.

Makanya tak heran, kenaikan suku bunga The Fed dianggap lebih prospek ketimbang menaruh modal di Indonesia. Investor lebih kepincut membawa dolar pulang ke kampung halaman. Itu yang terjadi tempo hari, ramai-ramai investor minggat dari Indonesia membawa dolarnya ke AS.

Imbasnya, ketersediaan dolar di Indonesia berkurang, itu membuat nilainya meningkat. Sementara, dolar dibutuhkan untuk kegiatan ekspor-impor.



Gedung Federal Reserve di Washington DC, Amerika Serikat. (AFP)


Kenapa harus pakai dolar? Jelas saja, rupiah tidak laku di pasar internasional. Yang digunakan untuk jual-beli adalah dolar.

Karena penting bagi transaksi global dan menjadi mata uang dunia, dolar dipakai sebagai cadangan devisa di banyak negara, termasuk Indonesia.

Kebutuhan dolar sama seperti keperluan terhadap air bersih. Jika ketersediaannya semakin langka, maka harganya meningkat bin mahal. Prinsipnya, kelangkaan suatu barang akan meningkatkan harga barang itu sendiri.

Ambil misal, pedagang roti ingin mengimpor satu ton gandum dari AS. Agar transaksi itu bisa terjadi,  maka si pedagang harus menukarkan rupiahnya ke dolar. Sebab gandum dijual dengan satuan dolar. Jika si pedagang tidak memiliki dolar, maka transaksi tidak akan terjadi. Artinya, dia terancam tak bisa berjualan, malah gulung tikar.

Jika dolar naik, maka pedagang roti harus memerlukan lebih banyak rupiah untuk mendapatkan satu ton gandum. Boleh dikata, melemahnya rupiah bisa mempengaruhi iklim usaha kecil dan menengah.
 

Arogansi Trump

AS dan Tiongkok turut memicu gejolak ekonomi global. Gedung Putih sudah menerapkan tarif tinggi pada sejumlah barang yang diimpor. Di bawah rezim Presiden Donald Trump, ekonomi AS cenderung tertutup.

Imbas pengetatan tarif impor membuat barang yang masuk ke AS menjadi mahal dan tersendat. Kebijakan ini membuat Tiongkok kesal. Sebab, sejak 2008, barang-barang dari Tiongkok yang biasanya lancar masuk ke AS mendadak macet. Kebijakan Trump tentu mengganggu kinerja ekspor Tiongkok.



Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (AFP)


Negeri Tirai Bambu tak tinggal diam. Beijing membalas dengan mengancam akan menjual surat utang milik pemerintah AS (US Treasury) yang ada ditangannya.

Ya, Tiongkok merupakan pemegang surat utang AS terbesar, nilainya mencapai USD1,2 triliun. Maksudnya, AS banyak mengutang pada Tiongkok untuk menutup defisit anggaran yang terus melebar hingga USD376 miliar pada 2018.

Kalau surat utang AS dijual, sama artinya Tiongkok sedang menagih utang ke AS. Namanya juga utang, ya harus dibayar. Apalagi surat utang negara ada jangka waktunya.

Tapi, Trump cuek, sampai saat ini ketegangan kedua raksasa ekonomi itu masih memanas.



Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping. (AFP)


Lantas, bagaimana perang dagang AS-Tiongkok bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah? 

Keuangan AS saat ini besar pasak daripada tiang. Kebanyakan impor daripada ekspor. Jadi, duit hasil pembatasan tarif impor itu dipakai untuk menutupi defisit.

Tapi, pemberlakuan tarif impor membuat sebagian negara menjerit. Terutama negara yang menggantungkan perekonomiannya pada hasil ekspor ke AS. Indonesia salah satunya.

AS merupakan tujuan utama ekspor Indonesia. Transaksi ekspor Indonesia ke AS tercatat USD7,87 miliar, data enam bulan terakhir. Angka itu terus meningkat.

Bayangkan saja, jika ekspor barang dari Indonesia ke AS dikenakan tarif, sudah tentu membuat harga barang jadi mahal. Kalau harga barang sudah mahal, ada risiko tak dibeli orang alias tak laku.

Kemungkinan terburuk, jika barang ekspor Indonesia tidak bisa masuk AS. Maka Indonesia bisa merugi sebesar USD7,87 miliar. Padahal, jumlah sebanyak itu cukup membuat pasokan dolar di dalam negeri bisa terjaga. Kalau ketersediaan dolar terjaga, imbasnya tentu penguatan rupiah.
 

Tak selalu buntung

Ekspor meningkat akan memperkuat rupiah. Sebab, setiap ekspor barang di pasar internasional akan dibeli dengan dolar. Dengan begitu, peningkatan ekspor akan mengalirkan dolar ke dalam negeri.

Jadi, di sisi lain, melemahnya rupiah menciptakan peluang bagi kinerja ekspor. Itu bisa membuat harga barang ekspor menjadi lebih murah dan terjangkau. Makanya, untuk meredam dampak melemahnya rupiah, pemerintah fokus menggenjot ekspor. Harga barang ekspor yang murah, tentu diminati pasar.
 




Tiongkok satu-satunya negara yang berbahagia ketika dolar menguat. Nilai yuan yang terus melemah akan memperkuat ekspor si Negeri Panda. Tiongkok tentu memanfaatkan kejatuhan yuan untuk memperluas kegiatan ekspornya. Wajar, ekonomi negara komunis itu ditopang oleh kegiatan ekspor.

Kepala Divisi Asesmen Makroekonomi Bank Indonesia (BI) Fadjar Majardi mengatakan, Beijing sengaja membiarkan yuan jatuh lebih dalam terhadap dolar. Tapi, bagi Indonesia, pelemahan yuan juga berdampak pada ekspor. Artinya, Tiongkok menjadi saingan Indonesia dari segi harga dan kuantitas.

"Tiongkok bahkan sengaja melemahkan Yuan untuk meningkatkan ekspor mereka, meskipun mereka tidak mengakui. Tapi ini cukup mempengaruhi Indonesia sebagai mitra dagang," kata Fadjar dalam sebuah diskusi di Manado, Sulawesi Utara, Jumat, 24 Agustus 2018.





Dalam misi memperkuat rupiah, di sektor moneter alias pengaturan peredaran uang, Bank Indonesia (BI) fokus mengurangi jumlah rupiah di pasar. Karena, saat jumlah rupiah terbatas atau langka, maka nilainya menguat.

Caranya, BI menggelontorkan dana sebesar Rp11,9 triliun untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder (pasar modal). Pembelian SBN ini bisa menarik peredaran rupiah yang beredar di masyarakat.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjaga nilai tukar rupiah agar sesuai dengan nilai keseimbangannya.

"Guna memastikan stabilitas sistem keuangan dan stabilitas nilai tukar agar tetap terjaga," kata Perry, di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia (BI), Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018.
 

Krisis

Belakangan, meski rupiah sempat menguat tipis, pemerintah dan BI tetap berupaya agar rupiah tidak loyo-loyo amat.

Kembali muncul pertanyaan, sebenarnya apakah rupiah yang sedang melemah, atau dolar yang sedang menguat?

Sejatinya, rupiah dan dolar selalu berkorelasi negatif. Jika rupiah naik, maka nilai dolar turun. Begitu sebaliknya. Tapi, dalam konteks kekinian, jawabanya adalah dolar yang sedang menguat. Buktinya, tak cuma rupiah yang tersungkur. Sejumlah mata uang asing juga ikut jatuh.

Dari awal tahun hingga akhir Agustus 2018 (year to date), rupiah hanya melemah 8,4 persen. Angka tersebut lebih kecil ketimbang negara berkembang lainnya. Untuk periode yang sama, rupe India turun 10,4 persen, rubel Rusia tertekan 15,1 persen, rand Afrika Selatan juga melemah hingga 16,7 persen.

Lebih parah, real Brasil tertekan cukup dalam hingga 20,4 persen. Sementara lira Turki melemah hingga 42,9 persen, dan peso Argentina anjlok 51,1 persen.

Argentina menjadi korban pertama penguatan dolar AS. Pemerintahnya tampak kewalahan mengurus ekonominya. Alhasil, Negeri Tango memutuskan meminta bantuan dana dari International Monetary Fund (IMF) sebesar USD50 miliar. 
 

Banyak yang yang khawatir nasib Indonesia akan mengalami krisis serupa. Bahkan, ada yang mengaitkan, melemahnya rupiah bisa berdampak krisis seperti pada 1998.


Sayangnya, terlalu jauh membandingkan kejatuhan nilai tukar rupiah saat ini dengan  peristiwa 1998. Ini bisa dilihat dari indikator-indikator ekonomi pada saat krisis.

Indikator pertama, pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan pendapatan suatu negara. Pada 1998, pertumbuhan ekonomi tumbuh negatif, yakni -13,1 persen. Pada 2018, pertumbuhan ekonomi tumbuh positif berada di angka 5,2 persen. 

Belum lagi dari sisi rentang pelemahan nilai tukar, tingkat inflasi, cadangan devisa, rasio utang, semua menunjukkan kondisi yang masih aman. Berbeda dengan krisis moneter 1998, yang semua indikator ekonominya berada di zona merah.





Bahkan, pada 9 September 2018, Nomura Holdings Inc merilis hasil analisisnya tentang negara-negara berkembang yang berisiko terpapar krisis akibat penguatan dolar. Hasilnya, Indonesia tercatat dalam delapan negara dengan risiko paling kecil. Tujuh lainnya adalah Brasil, Bulgaria, Kazakhstan, Peru, Filipina, Rusia, dan Thailand.

Analisis itu didasarkan pada model peringatan awal krisis bernama Damocles. Banyak faktor yang dinilai, di antaranya, cadangan devisa, tingkat utang, suku bunga, termasuk impor.



Analisis Nomura Holding Inc.


Meski begitu, pemerintah tidak boleh lengah terhadap situasi ekonomi ini. Selain langkah sigap yang sudah dilakukan, kritik dan saran dari banyak ekonom - yang jernih, objektif dan tidak terpapar situasi politik, layak ditimbang. Jangan sampai telat langkah.

Ihwal hebohnya suara pesimistis yang mengatakan melemahnya rupiah adalah pertanda awal krisis, bisa dimaklumi. Mafhum, Indonesia sedang bersiap menghadapi Pemilu 2019. Semua isu rentan digiring ke wilayah politik.

Kalau sudah dipolitisasi, biar masyarakat yang menilai.
 

Muslihat Dolar
2contents

MUSLIHAT DOLAR

Updated 12 September 2018 13:20
  1. Menangkal Muslihat Dolar
  2. Timang-timang Dolarku Sayang

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id