• Content 3 of 4
Telusur

Mencari Wajah Baru Balai Pustaka di KITLV

Wanda Indana    •    29 Juni 2018 18:55

Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur. (MI) Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur. (MI)

Bila dilakukan survei kepada generasi '60-an hingga '90-an tentang penerbit buku Balai Pustaka, boleh jadi hampir semua mengenalnya. Pasalnya, hampir semua buku-buku sekolah kala itu diterbitkan oleh Balai Pustaka.


BALAI Pustaka pernah jaya, menggapai masa keemasannya, lantas jatuh nyaris punah. Demikian perjalanan perusahaan penerbitan berusia lebih dari seabad itu.

Pada awal 2010, namanya kembali dibicarakan, tapi bukan karena kesuksesannya, melainkan karena nasibnya yang merugi. Saat itu, perusahaan berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu mencoba mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah untuk melepaskan beban krisisnya.

Baca: Balai Pustaka Riwayatmu Kini

Belakangan, pemerintahan Joko Widodo berencana menghidupkan kembali kejayaan Balai Pustaka? Lantas, bagaimana negara hadir dalam upaya mengangkat kembali muruah BUMN berusia 110 tahun itu?
 

Format baru

Di bawah jajaran direksi yang baru, Balai Pustaka kini mulai menanggalkan budaya lama. Kini, Balai Pustaka lebih terbuka, berusaha mengikuti perkembangan dan dinamika perkembangan karya sastra.
 
Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji mengatakan, Balai Pustaka akan hadir lebih kekinian, Maksudnya, redaktur membuat ulang beberapa judul buku yang disesuaikan dengan selera anak muda.

“Misalnya dulu ada si Doel Anak Betawi, kalau aslinya, tentu orang-orang kuno saja yang tahu. Lalu tentang si Pitung atau semacamnya, ini dibuat kekinian. Nah bukunya ada yang dibuat kekinian,” jelas Fachrodji. 

Tidak hanya segi tulisan, Balai Pustaka juga memiliki tim kreatif yang bertugas membuat grafik dan animasi menarik yang dapat mengundang orang untuk membaca. “Untuk menarik perhatian,” kata dia. 

Fachrodji mengaku, Balai Pustaka kerap didatangi para sineas untuk mencari sumber inspirasi dalam pembuatan film. Beberapa sineas berkunjung ke perpustakan Balai Pustaka mencari judul buku yang bisa diangkat ke layar lebar dan sinema elektronik (sinetron). 

“Anaknya Idris Sardi, Lukman Sardi sama Anjasmara datang ke sini. Melihat di perpustakaan BP, mereka melihat dan bilang judulnya sangat menarik. Semuanya bisa jadi sinetron, bisa jadi film," ujarnya.

Bagi Fachrodji, tidak ada penerbit di Indonesia yang punya kekayaan sehebat BP. "Sampai ada 6.000 judul lebih, dan kami punya segalanya. Jadi, tidak mungkin mati.” 

Balai Pustaka juga tengah menjajaki kerjasama dengan salah satu perusahaan pembuatan animasi. Rencananya, ada proyek pembuatan film animasi yang ceritanya berasal dari karya sastrawan Indonesia.

“Tapi saya untuk itu belum bisa bicara banyak,” ujar Fachrodji.
 


Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji. (MI)
 

Arah dari pemerintah

Belakangan, pemerintah melalui kementerian BUMN sangat serius membantu dan memperkuat eksistensi Balai Pustaka. Kata Fachrodji, pemerintah memberikan arahan agar BP bersinergi dengan BUMN lain, guna mendorong kelancaran bisnis.
 
“Bahkan Menteri sebagai perwakilan pemerintah memberitahu kepada saya sebagai Dirut. Kalau ada Dirut yang begitu dihubungi tak mau menjawab, beritahu saya, nanti saya tegur Dirut BUMN tersebut’,” ucap Fachrodji menirukan percakapannya dengan Menteri Rini Soemarno.

Tahun ini, Balai Pustaka tengah berusaha membangun 1.000 Taman Bacaan. Konsep Taman Bacaan layaknya toko buku, hanya lokasi Taman Bacaan banyak dibangun di wilayah-wilayah terpencil. Satu taman bacaan diisi 500 buku yang tidak hanya terbitan dari Balai Pustaka.
 
“(Perusahaan penerbitan) Gramedia-pun bekerjasama dengan kami, men-display bukunya di Taman Bacaan. Karena pasti laku. Jadi sama-sama hidup, penerbit swasta hidup, kami juga hidup,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Balai Pustaka membangun Sanggar Sastra untuk memfasilitasi generasi muda yang memiliki minat di dalam bidang teater, apresiasi sastra, musikalisasi, puisi dan sebagainya. Program Sanggar Sastra sudah berjalan satu tahun setengah. 

Sanggar itu kini sudah memiliki tiga angkatan, melahirkan 300 peserta. Yang menarik, tak hanya remaja pelajar, tapi ada juga dosen, guru, dan khalayak umum.

"Kenapa angkatannya tidak banyak, karena kita menghadapi persoalan tenaga pelatih yang terbatas,  ruangan terbatas. Tapi setiap periodik terus bahkan setiap dua bulan sekali, kita diberi panggung terbuka di TIM (Taman Ismail Marzuki),” pungkas Fachrodji. 

***

SEMAKIN banyak buku yang diterbitkan di satu negara, maka menunjukkan semakin maju negara tersebut. Demikian International Publishers Association (IPA), lembaga Intenasional yang berdedikasi pada dunia penerbitan buku, membuat sebuah hipotesis.

Di negara maju, lembaga penerbitan buku melekat pada negara melalui institusi tertentu, seperti universitas. Untuk urusan penerbitan, Universitas Leiden, Belanda, memiliki kepedulian tinggi dalam urusan penerbitan dan kearsipan.

Pula, berbicara lika-liku bisnis penerbitan buku rasanya kurang jika tidak mengintip Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV) milik kampus tertua di negeri kincir angin tersebut. Ya, KITLV merupakan salah satu jaringan perpustakaan yang memiliki koleksi buku terlengkap di dunia.

Beberapa waktu lalu, Jumat, 4 Mei 2018, tim Medcom Files berkesempatan mengunjungi kantor KITLV yang berada di dalam komplek Gedung Kedutaan Kerajaan Belanda. Sore itu, kami menemui Koodinator Kolektor KITLV Boy Hidayat.
 

Berbeda dengan Balai Pustaka, KITLV justru tidak diam menunggu tulisan dari penulis. KITLV juga aktif mencari buku-buku sampai ke daerah-daerah pelosok.


“Setiap Minggu ada vendor datang ke kita. Cara kedua kita berkunjung ke instansi-instansi pemerintah di daerah, terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau,” jelas Boy.

Kendati demikian, tidak semua genre buku dapat diterbitkan di KITLV. Boy menjelaskan, ada beberapa profil buku yang bisa diterbitkan di KITLV seperti buku yang membahas tentang politik, sosial, budaya, humanis, sejarah, dan sastra.

“Tidak semua buku atau bidang buku kita ambil, dalam arti, kita tidak memiliki buku-buku teknologi, sains, ilmu pengetahuan yang sifatnya teknik,” jelas Boy saat berbincang dengan Medcom Files di Kantor KITLV, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan Timur, Setia Budi, Jakarta Selatan.

KITLV bertugas mencari buku yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. 
 

Bisnis penerbitan

KILTV bukan lembaga bisnis yang mengejar keuntungan. KITLV merupakan bagian dari Universitas Leiden yang berorientasi pada pembangunan riset. Karena itu, KITLV lebih mengedepankan manajemen perpustakan. Sebab, perpustakaan dianggap tempat perkembangan ilmu pengetahuan.

Awalnya, KITLV memiliki unit usaha bisnis penerbitan buku bernama KITLV Press sebelum akhirnya ditutup pada 2014 akibat gempuran digitalisasi dan masalah finansial. Untuk penerbitan, kini KITLV bekerjasama dengan Brill Publisher, penerbit besar yang juga milik pemerintah Belanda. 

“Masalah biaya, Belanda sempat dilanda krisis. Soal digitalisasi, gak cuma kita, lembaga serupa seperti LOC (Library of Congres) juga sama,” ungkap Boy. 

Terkait perpustakaan, KITLV memiliki koleksi buku-buku sejarah Indonesia yang sangat lengkap. Lebih lengkap daripada koleksi yang dimiliki perpusatakaan milik Indonesia.

“Mereka memiliki sistem kearsipan yang disiplin. Itu harus diakui,” pungkasnya.

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id