• Content 3 of 5
Telusur

Mengintip 'Sel Tidur' Kelompok Radikal

M Rodhi Aulia    •    01 Juni 2018 17:43

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

ISIS berangsur runtuh. Kelompok-kelompok lokal yang berafiliasi kepadanya juga mulai diburu. Tapi ada situasi penting lain yang tak bisa diabaikan. Angin terorisme global bisa berayun ke kelompok radikal transnasional lawas, Al Qaeda.


NAMANYA tersohor pascaserangan ke Gedung WTC, New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001. Glorifikasi atas Al Qaeda muncul. Peristiwa berjuluk 9/11 itu bak penyemangat gerakan jihadis global.

Besarnya 'merek' Al Qaeda membuat kelompok-kelompok radikal lokal menjadikannya kiblat perjuangan.

Perburuan sang pimpinan, Osama Bin Laden, dimulai. Kelompok lokal radikal yang terindikasi mendukung Al Qaeda mulai dipantau, bahkan diincar.

Adalah Al Jamaah Al Islamiyah (JI), salah satu kelompok radikal di Indonesia yang menjadi target perburuan gerakan antiterorisme di dunia.

JI sendiri namanya sohor pascaperistiwa Bom Bali pada 2002. Serangan ini terjadi tepat 1 tahun, 1 bulan dan 1 hari setelah peristiwa 9/11 di New York. 
 

PUPJI dan Khilafah

Siapa yang menyangka bila sebuah pabrik susu kedelai di kawasan Laweyan, Solo, Jawa Tengah adalah 'markas besar' JI. Pada Desember 2003, gabungan petugas antiteror menggerebeknya.

Dari penggerebekan tersebut, petugas menemukan sejumlah dokumen penting milik JI. Di antaranya adalah Pedoman Umum Perjuangan Al Jamaah Al Islamiyah (PUPJI).

Pedoman itu disusun sekitar 1993 oleh dua pimpinannya, Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar, di masa awal kelahiran JI.

"Itu tinggal satu-satunya (dokumen asli yang tersisa di dunia)" kata salah satu mantan penyidik kasus terorisme, Irjen Pol (purn) Benny J. Mamoto saat berbincang dengan Medcom Files di Kampus Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Mei 2018.



Abu Bakar Ba'asyir. (ANTARA)


Kepala Pusat Riset Ilmu Kepolisian dan Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI ini mengaku telah mengecek ke berbagai negara terkait PUPJI. Antara lain Malaysia dan Singapura.

Hasilnya, PUPJI yang ditulis dengan bahasa Indonesia dan Arab ini, tidak ditemukan di tempat lain. Tapi cuma di satu tempat, yakni di Mabes JI kala itu, Laweyan, Solo yang disamarkan bentuknya dengan pabrik susu kedelai.

Bahkan dokumen berbentuk soft file-nya juga nihil. JI telah lebih awal menghancurkan dokumen itu agar tidak tersebar luas.

"Jadi mereka (Singapura dan Malaysia) dapat dari kita (salinannya)," ucapnya.



Irjen Pol (purn) Benny J. Mamoto. (Medcom/Aul)


Kami pun menemui mantan Pimpinan JI Nasir Abbas. Menurut dia, PUPJI sama sekali tidak pernah dicetak massal layaknya buku pada umumnya.

"Tapi difotokopi. Itu sudah banyak," kata Nasir kepada Medcom.id di kantornya, Ruko Raffles Square, Jalan Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat, Jumat 25 Mei 2018.
 

PUPJI merupakan buku yang sangat eksklusif. Sampai-sampai anggota JI atau pengikutnya tidak tahu ihwal pedoman tersebut. Hanya elite JI yang tahu.


Nasir yang kini menyandang status sebagai Konsultan Senior di Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) UI ini menilai, tak ada gunanya juga PUPJI diketahui anggota. Menurutnya, anggota tidak akan mudah memahami kandungan PUPJI tersebut.

"PUPJI yang pegang hanya amir (pimpinan). Kalau dibaca anggota enggak paham. Dia konsep. Bukan  buku bacaan," tegas dia.

Secara garis besar PUPJI berisikan konsep mendirikan khilafah. Bagi Nasir, tidak ada konsep perjuangan kelompok bersenjata atas nama agama yang selengkap JI.

Kendati demikian, Mantan Anggota JI lainnya yang kami temui, Farihin, mengaku mengetahui adanya PUPJI. Sebab dia adalah anak dari salah satu mantan pimpinan atau pengurus JI.

Kepada kami Farihin sempat bercerita tentang inti PUPJI. Di antaranya ada takwinul jamaah (pembentukan jamaah), takwinul quwwah (pembentukan kekuatan) dan istikhdamul quwwah (penggunaan kekuatan).

Diakui pula, dalam PUPJI juga ada arahan tajnid (pelatihan militer) dan jihad fie sabilillah (memerangi mereka yang memulai peperangan terhadap Islam). Tetapi banyak disalahtafsirkan sehingga salah kaprah.

"Itu mereka salah menafsirkan. Yakni mengartikan dengan menakut-nakuti (yang dianggap) musuh Allah dengan cara meneror. Itu salah," kata Farihin saat kami sambangi kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 24 Mei 2018.



Nasir Abbas. (Medcom/Aul)

 

Lain Al Qaeda, lain ISIS

Pasca-Bom Bali 1, JI yang berkiblat kepada Al Qaeda, resmi dibubarkan dan dinyatakan sebagai kelompok terlarang.

Tapi, sebelum itu, sempat terjadi perpecahan di internal JI sendiri, ketika Abu Bakar Ba'asyir menginisiasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan menjadi Amir.

Belakangan, MMI mulai bermetamorfosis dengan berbagai nama. Di antaranya Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir, Mujahidin Indonesia Barat (MIB) yang dipimpin Bachrum Syah dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang sempat dipimpin Santoso.

Ya. Pascakematian pimpinan Al Qaeda Osama Bin Laden, di bawah pimpinannya yang baru, Ayman Al Zawahiri, nama Al Qaeda dianggap tidak lagi menarik.

Terlebih dengan kemandirian Al Qaeda Iraq (AQI) yang lambat laun memproklamirkan Negara Islam Iraq pada 2006. Kelompok baru ini melebarkan teretorinya hingga ke wilayah Suriah, dan melepaskan diri dari koordinasi Al Qaeda.

Sang pimpinan, Abu Bakar Al Baghdadi, memproklamirkan berdirinya ISIL (Islamic State of Iraq and Levant) atau lebih dikenal dengan ISIS.

Karena dianggap lebih sederhana dan konkrit, juga memiliki teretori sebagai basis pendirian sebuah negara, banyak kelompok radikal yang awalnya mendukung Al Qaeda beralih kepada ISIS. 
 

Termasuk di Indonesia, setelah Abu Bakar Ba'asyir dikabarkan mendukung ISIS, banyak pendukungnnya yang membangun kelompok-kelompok pendukung ISIS.


Jama'ah Ansharud Daulah (JAD), yang dipimpin Aman Abdurrahman, adalah satu di antaranya. Kini, Aman dan sebagian pengikutnya sudah ditangkap dan diadili, karena kasus Bom Thamrin dan Bom Kampung Melayu di Jakarta. Dan, belakangan diketahui sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas serangan teror di Surabaya.

Benny menjelaskan, dalam PUPJI sebenarnya telah diatur terkait metamorfosis organisasi. Ketika dalam situasi darurat, organisasi ini bisa berubah.

Baik dari segi strukturnya maupun namanya. "Nama suka-suka. Bayangin kelompok gonggong rebus. Namanya jauh dari Arab. Enggak keren amat. Suka-suka dia pakai nama apa," kata Benny.

Benny menegaskan pada intinya nyaris semua kelompok terduga teroris itu turunan dari JI. Ibarat DNA manusia, DNA kelompok dengan berbagai nama itu tidak terlepas dari JI.

"Muncul organisasi baru. Yang bentuk mantan orang JI. Masak DNA-nya enggak kebawa sih. Pasti kebawa. Karena dia dibentuk dengan aturan, kebiasaan yang sama," beber dia.
 

Neo-JI

Keberadaan Neo Al Jamaah Al Islamiyah (Neo-JI) bukan kabar baru. Kelompok yang konon dimotori para mantan anggota JI ini, eksistensinya nyaris tak terdengar.

Itulah sebabnya Polri menyematkan nama Neo-JI, karena diakui keberadaannya, tapi belum tau nama resminya.

Kelompok ini jarang diungkapkan sebagai salah satu bentuk metamorfosis kelompok terduga terorisme. Tidak ada deklarasi khusus terkait pendirian Neo-JI ini.

Nasir Abbas pun mengamini adanya Neo-JI, dan membenarkan bahwa para penggerakknya adalah mantan anggota JI.
 

Meski tak diketahui secara persis nama resminya, namun diyakini Neo-JI memiliki struktur kepemimpinan. Diduga berbasis di Jawa Tengah.


Neo-JI ini mulai terkuak ketika Densus 88 menangkap terduga teroris Siyono pada 2016. Siyono diindikasi sebagai salah satu otak Neo-JI.

Namun, dalam proses penangkapannya, Siyono meninggal dan menyisakan kontroversi tersendiri mengenai akibat kematiannya. Saat itulah Neo-JI meredup. "Mana ada lagi nama Neo-JI," kata Nasir.

Lantas, siapa sebenarnya pimpinan kelompok radikal yang disebut Neo-JI tadi?

Farihin mengatakan, seseorang bernama Parawijayanto berada di balik Neo-JI. Parawijayanto merupakan bekas murid Nasir Abbas ketika berada di Filipina.

"Tidak ada deklarasi. Tapi ketika membuat majelis taklim selalu mengatakan kami JI baru," ungkap Farihin.

Nasir dan Farihin mengakui sama-sama tidak tahu pasti perkembangan Neo-JI dan keberadaan Parawijayanto saat ini. Pasalnya setelah mereka keluar dari JI, tentu dijauhi oleh mereka yang masih ingin melanjutkan perjuangan JI.

Tapi, yang pasti, Neo-JI merupakan kumpulan mantan anggota JI yang menolak cara-cara penegakan daulah dan khilafah ala ISIS.

Boleh dikata, Neo-JI dimungkinkan berisi mantan anggota JI yang tidak sejalan dengan Abu Bakar Ba'asyir - saat menyatakan diri mendukung ISIS. Saat itu, bila mendukung ISIS, artinya tidak lagi di jalur Al Qaeda.
 

Diyakini, Neo-JI tidak sepakat dengan aksi-aksi JAD atau kelompok yang berbaiat kepada ISIS lainnya.


Mahfum, dalam skala global, terdapat perbedaan antara Al Qaeda dengan ISIS, yang sangat mungkin memengaruhi pola serangan yang dilakukan JI dan JAD.

Pula, perselisihan antara Al Qaeda dengan ISIS lebih dari sekadar perebutan pengaruh dalam gerakan jihadis. Keduanya juga berbeda dalam penentuan musuh utama, strategi, taktik, dan lainnya.

Neo-JI sendiri hingga kini belum pernah melakukan amaliyah atau aksi teror. Mereka lebih mengedepankan dakwah dan pelatihan militer.

Sama halnya dengan sang induk, JI dan Al Qaeda, mereka juga menolak konsep NKRI, Pancasila dan sebagainya. Tujuan akhir mereka juga untuk mendirikan khilafah. Namun, musuh utamanya tetap hegemoni barat.

Pengikut Neo-JI merupakan kumpulan mantan anggota JI yang merasa berkewajiban untuk berlatih dan memiliki senjata. Namun, belum tentu mereka melakukan aksi teror. 

"Tapi bagi polisi, memiliki senjata, berlatih, kan tetap bahaya. Jadi kita enggak tahu mereka melakukan aksi atau tidak. Jadi harus dicegah (sejak dini)," tegas Nasir.

***

Belakangan, versi lain dari Neo-JI dihadirkan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Poltak Partogi Nainggolan.

Menurutnya, Neo-JI adalah kelompok baru pasca-tewasnya Santoso di Poso, Sulawesi Tengah pada 2016.

"Sebetulnya Neo-JI ini penerus generasi ketiga. Maksudnya Santoso dan kawan-kawan (dkk) di Poso. Kalau generasi kedua Abu Bakar Ba'asyir dkk. Dan yang pertama Kartosuwiryo dkk (DI/TII)," kata Partogi kepada Medcom Files di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis 17 Mei 2018.

Menurut penulis buku Ancaman ISIS di Indonesia (2017) ini, Neo-JI menjadikan kawasan Indonesia Timur sebagai basis pelatihan militer. Khususnya di Maluku Utara.

Pemilihan tempat di kawasan itu, karena dianggap aman. Kemudian, belum terlalu banyak orang dan dekat dengan perbatasan wilayah Filipina, kelompok Abu Sayyaf.

"Sampai sekarang yang namanya Neo-JI ini masih terus dipantau intelijen," kata Partogi.



Poltak Partogi Nainggolan. (Medcom/Aul)


Partogi menambahkan, Neo-JI memiliki pengikut yang tersebar di wilayah lain. Yakni Lampung, Solo, Bima, Ambon, Poso dan wilayah lain di Sulawesi Tengah serta Maluku Utara.

Artinya, bila merujuk pada analisa Partogi, Neo-JI justru terafiliasi dengan ISIS. Bukan Al Qaeda, seperti diungkapkan Nasir Abbas.

Sementara Nasir tidak percaya jika Neo-JI meneruskan perjuangan Santoso. Tapi jika basisnya kini dipusatkan di kawasan Maluku Utara, kata dia, perlu dibuktikan lagi.

"Yang saya tahu Parawijayanto (pascatewasnya Siyono), sekarang masuk daftar pencarian orang (DPO) kasus kepemilikan senjata. Dia juga seorang insyinyur. Paham soal teknik mesin," kata dia.

Senada dengan Nasir, Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Brigjen Pol Marthinus Hukom mengatakan, Neo-JI merupakan kelompok yang berseberangan dengan sikap Abu Bakar Ba'asyir pascaberbaiat kepada ISIS. 

Pergerakan Neo-JI klandestin atau rahasia. Tidak hanya berbasis di Timur, tapi juga di seluruh Indonesia. Namun, terkait tokohnya, Marthinus mengaku tidak tahu. Pula strukturnya yang dia anggap tidak jelas.

"Tapi ada (anggota Neo-JI) yang sudah ditangkap," kata Marthinus, Selasa, 22 Mei 2018.