• Content 4 of 5
Telusur

Kedok di Balik Dana Kemanusiaan

Wanda Indana    •    18 Mei 2018 22:55

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Awal 2017, transfer dana puluhan ribu Dolar Amerika Serikat (USD) dari Suriah terdeteksi masuk ke Indonesia. Dana itu dikirim melalui Western Union, perusahaan jasa pengiriman uang asal Colorado, AS.

Selidik punya selidik, duit itu banyak dipakai buat membiayai aksi-aksi terorisme di sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk bom yang terjadi di Surabaya, Minggu 13 Mei 2018. Proses transfer dana melibatkan peran Dr Mahmud Ahmad, pria asal Malaysia. 

Mahmud menjadi penghubung yang mengatur pendanaan ISIS untuk operasi di wilayah Asia. Termasuk, membiayai operasi di Marawi, Filipina Selatan, melalui Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pro-ISIS di Indonesia. 

Pada Januari 2017, Mahmud menghubungi Achmad Supriyanto alias Damar, seorang Anggota JAD di Banten, yang pernah menjalani pelatihan singkat di Pulau Basilan, Mindanao, Filipina Selatan. 

Mahmud memberitahu, ada kiriman dana USD 10.000 (Rp 133 juta) dari Suriah ke Indonesia. Dia meminta Damar menemui seseorang tak dikenal untuk mengambil uang kiriman di sebuah kota di Jawa Timur. Komunikasi antara Mahmud, Damar, dan seorang pria misterius dilakukan melalui aplikasi layanan pesan Telegram.

Sebulan kemudian, Februari 2017, kembali terjadi aktivitas transfer dana USD 25.000 (Rp 333 juta) dari Western Union di Indonesia ke sejumlah penerima di Filipina. Transaksi tersebut dilakukan Damar atas instruksi Mahmud.
 
Pada Maret 2017, Mahmud kembali menghubungi Damar kalau ada kiriman dana USD 20.000 dolar (Rp 266 juta) dari Suriah. Mahmud meminta Damar menghubungi akun Telegram bernama Munawar, anggota JAD di Suriah, untuk mengetahui lokasi pengambilan uang. 

Pada Mei 2017, polisi menangkap Damar. Tak lama, peran Damar digantikan anggota JAD lainnya; Rochmat Septriyanto, dan Adi Jihadi. Sampai akhirnya, kedua anggota JAD itu juga berhasil ditangkap.  


Duit receh untuk terorisme

Pascakekalahan ISIS pada Juli tahun lalu, kiriman bantuan dana ke sel-sel teroris yang terafiliasi terancam mandek. Modus pendanaan perlahan bergeser. Kini, pendanaan mengandalkan sumber dana dalam negeri.
 
Pada 2015, Tim National Risk Assessment (NRA) Indonesia Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, mengeluarkan hasil penelitiannya terkait tingkat risiko pendanaan terorisme. Penelitian ini melibatkan lima lembaga negara; Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri (Densus 88), Satgas Penanganan Terorisme Kejaksaan Agung, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),  dan Mahkamah Agung (MA).
 

Hasil penelitian NRA, sumber pendanaan terorisme banyak berasal dari hasil sumbangan atau donasi, dan hasil penyalahgunaan dana yayasan. 


Sementara itu, modus pendanaan terorisme yang paling berisiko terjadi adalah pendanaan dari domestik, yang bersumber dari donasi ataupun penyalahgunaan organisasi non-profit serupa yayasan atau lembaga kemanusiaan. Dana-dana tersebut digunakan untuk pengelolaan jaringan terorisme domestik. 

Penggalangan dana ke wilayah konflik paling rentan disalahgunakan. Selama ini, pendukung ISIS dan kelompok teroris menjadikan lembaga kemanusiaan sebagai kedok mencari bantuan dana. Alasan kemanusiaan menjadi pintu masuk.

Koordinator Eksekutif Indonesia Intelligence Institute Ridlwan Habib, mengatakan, kelompok JAD sering mengumpulkan dana dari iuran anggota. Selain itu, JAD memiliki kemampuan melakukan penggalangan dana secara masif lewat donatur melalui yayasan atau lembaga kemanusiaan.

“Mereka tidak sekadar mengandalkan iuran, tapi ada juga donatur, terkadang donatur yang dimintai dana tidak tahu atau tidak sadar digunakan untuk kegiatan terorisme,” ujar Ridlwan kepada Medcom Files, di Jakarta Barat, Kamis 17 Mei 2018.
 

Bahkan, terkadang, pengurus aktif lembaga kemanusiaan juga merupakan anggota terorisme.


Karena itu, Ridlwan mengimbau kepada masyarakat untuk lebih selektif memberikan donasi. Pula, polisi menggencarkan pelacakan dana-dana ini. Pengumpulan-pengumpulan donasi untuk kegiatan terorisme harus ditindak.

"Saya kira kita harus hati-hati memberikan sejumlah uang, harus benar-benar jelas organisasinya, terdaftar apa tidak, tujuannya untuk apa,” imbau Ridlwan. 





Hal serupa diungkapakan Ahli kontra terorisme dari lembaga Certified Counter Terrorism Practioner, Rakyan Adibrata. Dia mengatakan, ada beberapa lembaga atau organisasi kemanusiaan baik internasional maupul lokal, yang menggalang dana (fundrising) untuk kegiatan terorisme.

Dulu, kata Rakyan, modus itu sering digunakan untuk membiayai perjalanan Warga Negara Indonesia (WNI) ke Suriah pada 2014-2015. Saat itu, banyak WNI menuju Suriah untuk bergabung bersama ISIS.

Selain itu, ada juga aliran dana untuk membantu pembangunan pesantren yang beraliran Takfiri (mengkafirkan muslim).

“Lembaga-lembaga itu support system dari kelompok radikal untuk para napiter dan keluarga napiter,” ungkap Rakyan saat kami hubungi, Rabu, 16 Mei 2018.

Paling tidak, menurutnya, ada tiga lembaga kemanusiaan di Indonesia yang diduga paling menonjol dalam memberikan bantuan untuk kegiatan berbau terorisme. Ketiga lembaga itu; Infaq Dakwah Center (IDC), Gerakan Seribu Sehari (GASIBU), dan Azzam Dakwah Center (ADC).
 
Berdasarkan pantauan Medcom Files, IDC sempat tersandung masalah dalam kasus pemberian bantuan kepada keluarga almarhum  Muhammad Alzahra alias Zoya, yang meninggal dihakimi massa dan dibakar di Kampung Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Agustus 2017.

Saat itu IDC menggalang dana sebesar Rp 651.582.000 untuk keluarga korban. Namun, Siti Zubaedah, istri almarhum, mengaku belum pernah menerima sumbangan itu. IDC malah menjanjikan keluarga diberikan sebuah rumah di Bekasi.

Saat dikonfirmasi Medcom Files, Ketua IDC Mulyadi Abdul Ghani membantah anggapan lembaganya memberi bantuan untuk kelompok teroris di penjara. Soal sumbangan keluarga Zoya, sisa dana bantuan tersebut digunakan untuk membantu anak yatim.

“Bukan napi teroris, tapi semua napi bisa bergabung, itu program sudah lama berhenti kira-kira dua tahun lalu, sekarang mau dimulai lagi program dakwah di penjara,”  jelas Mulyadi, Jumat, 18 Mei 2018. 

Selain bantuan, IDC juga memiliki program dakwah di penjara. Yakni menggelar pengajian untuk keluarga aktivis islam di penjara. “Ada program solidaritas aktivis islam, yang penting kita gak ada aliran-aliran terorime,” pungkas Mulyadi.

Kami juga menghubungi Mega, salah seorang perempuan dari bagian Humas Gerakan Seribu Sehari. Dia mengaku lembaganya tidak pernah menyalurkan bantuan untuk kegiatan terorisme.
 

Namun Mega mengakui, pernah mendengar ada komunitas dari lembaga kemanusiaan yang membantu pendanaan kegiatan terorisme.


“Saya memang dengar sepintas, katanya memang ada yang promote ada yang support dari komunitas mana. Alhamdulliah kita mutlak, kita menyalurkan untuk orang-orang yang benar-benar dhuafa, benar-benar membutuhkan, bisa dilihat kok kegiatan kita di IG (Instagram),” terang Mega.

Baik IDC maupun Gasibu juga menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya yang cukup tenar di kalangan masyarakat umum, seperti ACT, Rumah Zakat, dll.

Sementara itu, kami juga sudah berusaha menghubungi Azzam Dakwah Center (ADC). Namun, nomor kontak ADC, tidak bisa dihubungi. Laman Facebook ADC sudah dua tahun terakhir tidak aktif.

Nama organisasi ADC sempat muncul pada Desember 2016. Ketika itu, Tim Densus 88 Mabes Polri menangkap tujuh terduga teroris di Bekasi, Karanganyar, Ngawi, dan Klaten. 

Salah seorang yang ditangkap, bernama Wawan Prasetyawan alias Abu Umar bin Sakiman yang telah berbaiat kepada ISIS. Wawan berperan menyimpan bahan peledak dan komponen bom yang dirakit oleh Nur Solihin dengan memindahkan dari kantor ADC dan dibawa pulang ke rumahnya.

AS cukup dikenal di antara para aktivis jihad di Solo Raya, terutama di kalangan bekas anggota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Setelah JAT bubar, Wawan mendirikan ADC. Organisasi ADC bergerak dalam bidang dakwah dan berkantor di sebuah rumah tokoh (Ruko) yang ikut digeledah tim Densus 88.

ADC merupakan lembaga resmi, terdaftar dan mendapatkan hibah pemerintah. Selain aktif mengadakan pengajian, ADC juga menggalang bantuan dana. 

Berdasarkan keterangan polisi, mereka hendak merencanakan aksi bom bunuh diri di Istana Kepresidenan. Dalam penangkapan di Bekasi, polisi menemukan bom berdaya ledak tinggi yang dirakit dalam panci (rice cooker bomb) berbobot 3 kilogram yang siap meledak.

Ketujuh terduga teroris diduga memiliki hubungan dengan Bahrun Naim, warga Indonesia yang menjadi tokoh ISIS yang berada di balik serangan teror di Jakarta.