• Content 4 of 6
Telusur

Tertimpa Rindu di Becakayu

Lis Pratiwi    •    23 Februari 2018 20:10

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Langit memerah, sebentar lagi gelap. Lalu lintas di dekat Gerbang Tol Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur sore itu semakin memadat. Hampir semua mata tertuju ke sisa peristiwa nahas dini hari tadi.
 
Selasa, 20 Februari 2018, sekitar pukul 03:00 WIB, bekisting pierhead dari salah satu pilar di proyek tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) ambruk. Tujuh pekerja menjadi korban.
 
Tak lama, petugas pun memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian. Pula para pewarta, hilir mudik melaporkan peristiwa tersebut. Beberapa orang lain sengaja berkumpul sekadar memuaskan hasrat ingin tahu mereka.
 
Tak ketinggalan Adin, Ari, dan Asep, duduk melongok ke arah tiang penyanggah itu. Keberadaan mereka beralasan, sebab mereka adalah tiga dari ratusan pekerja proyek Tol Becakayu itu.
 
Ketiganya adalah perantau dari Jawa Barat. Adin dan Asep dari Garut, sementara Ari dari Sukabumi.
 
Ari bercerita, kedatangannya ke Jakarta karena ajakan teman untuk bekerja. Sebelumnya, dia adalah pengemas barang di sebuah pabrik garmen di Sukabumi, namun berhenti. Demi istri dan seorang anaknya, tawaran si teman pun diterima.
 
“(Teman saya) bilangnya daripada diam di rumah ayo kita berangkat kerja. Sama istri juga diizinin, kata istri yang penting sehat, selamat. Akhirnya ke Jakarta,” kenang dia saat berbincang dengan Medcom.id.
 
Tak mudah tentu. Selain meninggalkan keluarga, jenis pekerjaannya pun penuh risiko. Cuaca panas, hujan, bekerja di ketinggian, mengangkat alat berat, hingga area konstruksi yang dipenuhi material berbahaya, menjadi tantangan yang harus diterima. Maklum, tidak ada pilihan lain.
 
Ari dan Adin mengaku baru dua minggu bekerja di proyek, sementara Asep sudah hampir dua bulan. Dalam kurun itu, Asep pun telah beberapa kali kembali ke Garut untuk bertemu keluarganya. Seandainya bisa memilih, dia ingin pekerjaan yang dekat dengan anak dan istrinya.
 
“Lebih enak di Garut, di kampung ada istri yang ngurusin. Di sini mah apa atuh. Kalau ada kerjaan di Garut juga mending balik,” tutur Asep seraya menundukkan kepala. Ari dan Adin pun tampak tersenyum, seolah menyetujui pernyataan sang kawan.



Bekisting pierhead dari salah satu pilar di proyek tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang ambruk, Selasa, 20 Februari 2018. (Medcom/Lis)


Kangen rumah
 
Klakson bus yang saling bersautan kerap menghentikan percakapan kami di tepi jalan raya itu. Sementara Ari dan Asep sesekali menyesap rokok dan memainkan hembusan asapnya. Entah untuk mengusir dingin akibat hujan sore tadi, atau mengurangi kecanggungan karena perbincangan kami.
 
Kebisuan kami dipecahkan oleh Asep yang kembali bercerita perihal awal mula kedatangannya ke ibu kota. Dia bersama tujuh orang temannya datang dengan bis dari Garut, lantas turun di Cililitan. Setiap gajian, dua minggu sekali, salah satu dari rombongan tersebut akan pulang.
 
“Setiap habis gajian pasti ada yang pulang, nanti yang lain bisa titip uang untuk keluarga masing-masing, jadi gantian,” sambung pria berusia 25 tahun ini.
 
Pekerja proyek biasanya mendapat upah Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, jika bekerja dari jam 8 pagi hingga 4 sore. Jika lembur, dari jam 5 sore hingga pukul 10 malam, gaji mereka ditambah dua kali lipat. Dan, jika lembur hingga pukul 2 pagi, menjadi tiga kali lipat.
 
Dengan demikian, setiap pekerja akan mendapat hasil berbeda, tergantung jam lemburnya. Asep sendiri dalam dua minggu biasanya mendapat Rp 1,6 juta. Angka ini sudah dipotong hutang makan di warung dekat lokasi proyek.
 
Suara klakson bus kembali bergaung. Kali ini dari bus berwarna putih dengan garis merah di sisinya. Tulisan “Garut-Jakarta” terpampang tegas di bagian depan. Asep memandang sekilas. Lalu tersenyum dan menggelenggakan kepala.
 
“Ingin pulang ya kalau lihat bus?” tanya saya.
 
“Iya. Tapi lebih ingin pulang lagi kalau pegang uang (habis gajian). Setiap pegang uang, nggak tahu kenapa, kangen saja sama yang di rumah. Ingin bahagiain keluarga,” ucapnya dengan malu.
 
 
Keluarga baru
 
Dari tepi Jalan D.I. Panjaitan, kami menyambangi sebuah rumah kontrakan yang dihuni para pekerja. Tempatnya tak jauh dari lokasi bekisting pierhead yang roboh.
 
Jalan tanah yang basah membuat langkah kami sedikit lebih hati-hati. Tak lama, berbelok ke arah gang yang hanya dapat dilalui pejalan kaki. Di muka gang, tampak belasan helm proyek berwarna kuning, rompi, dan sepatu boots tertata.
 
Dinding biru dengan jendela tanpa gorden menjadi penanda kontrakan mereka. Pintu geser berwarna cokelat di depannya sudah terbuka saat kami tiba.



Suasana rumah kontrakan kuli proyek Tol Becakayu, Selasa, 20 Februari 2018. (Medcom/Lis)


Di dalam, puluhan pakaian tergantung tak beraturan. Sementara di bawahnya terdapat karpet tipis sebagai alas tidur para pekerja, dengan kamar mandi dan tangga di sisi kirinya.
 
Kontrakan berukuran 6x3 meter tersebut terdiri dari dua lantai. Berbeda dengan lantai bawah yang pintunya langsung berhadapan dengan jalan, di lantai dua terdapat balkon mini untuk duduk-duduk dan melihat pemandangan.
 

Rumah kontrakan yang disediakan perusahaan tersebut ditempati oleh 16 pekerja.


Ramainya “rumah baru” tersebut membuat suasana akrab mudah tercipta. Gitar akustik biru tua yang tersandar di dinding kontrakan, menjadi penghibur dikala lelah melanda.

“Walaupun jauh dari keluarga, tapi ada enaknya juga, bisa ketemu teman baru. Meski bukan satu daerah, tapi bisa sama-sama. Ngariung, cek Sunda mah,” kata Adin.

Adin, Ari, Asep, dan ribuan kuli proyek lainnya tengah mengukir sejarah mereka sendiri. Menanamkan sidik jari dan tetes keringat mereka dalam ragam infrastruktur di Indonesia. Sebuah kebanggaan yang bisa diceritakan ke anak cucu di kemudian hari.
 

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id