• Content 4 of 5
Telusur

Pahlawan itu Bernama Kuli Proyek

Lis Pratiwi    •    23 Februari 2018 19:55

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Tak usainya Almarhum Kisin membanggakan diri. Sampai-sampai, dari anak hingga cucu, nyaris bosan mendengar ceritanya; engkong lah yang membangun Gelora Bung Karno.


Jakarta: Ketuk palu keputusan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games IV tahun 1962 dijatuhkan pada 1958. Padahal, Indonesia yang masih berusia belasan tahun itu belum memiliki infrastruktur olahraga yang mumpuni dan dibanggakan.
 
Tantangan penyelenggaraan Asian Games dijawab Presiden Soekarno. Senayan ditunjuk sebagai lokasi pembangunan gelanggang olahraga.
 
Dalam kurun waktu empat tahun, megaproyek itu berhasil diselesaikan. Area yang dulunya perkampungan, disulap menjadi sebuah istana olahraga, berjuluk Gelora Bung Karno (GBK). Termasuk wisma atlet, juga didirikan.
 
Dan, yang paling membanggakan, stadion sepak bola megah dengan tribun beratap melingkar. Kala itu diklaim sebagai yang pertama di dunia.
 
Ya. Bung Karno menaruh idealisme dan ambisi di atap Stadion Utama GBK. Sulit untuk membuat stadion sepakbola dengan atap ‘temu gelang’ 56 tahun lalu. Tapi, terwujud dan dipamerkan pada Asian Games 1962.
 
Proses pembangunannya terhitung kilat. Bayangkan, direncanakan pada 1959, lantas Juni 1961 gelanggang renang berkapasitas 8.000 penonton rampung. Diikuti selesainya pembangunan arena tenis, stadion madya, gedung bola basket, juga stadion utama.
 

Tepat satu bulan sebelum perhelatan Asian Games, pada 24 Agustus 1962 proses pembangunan GBK kelar.


Masih dalam paket persiapan Asian Games, patung Selamat Datang di Bundaran HI - sebagai lambang keramahan bangsa Indonesia, dibuat untuk menyambut kedatangan kontingen asing.
 
Tak berhenti di sana, rencana sang proklamator kian mengganda. Perbaikan Bandara Kemayoran, pembuatan Bundaran Semanggi, hingga Jalan MH Thamrin semakin mempermegah wajah Indonesia di kancah dunia.
 

Berbagai pujian terlontar, salah satunya dari utusan Jepang, yang menyebut Indonesia sebagai “bangsa gila” - karena cepatnya pembangunan itu. Padahal, saat itu Jepang terkenal sebagai negara dengan kemajuan infrastruktur luar biasa.


Sayangnya, aksi mengagumkan tersebut seolah hanya milik penguasa. Banyak orang lupa bahwa ada pihak lain yang turut berjasa. Mereka adalah para pekerja, para kuli, yang tangan, langkah, juga peluhnya sudah menjejali proyek tersebut – jauh sebelum semua diresmikan.
 
Tapi, bukan masalah bagi almarhum Kisin dan keluarganya. Kuli megaproyek stadion utama GBK asal Depok, Jawa Barat itu tetap bangga, karena terlibat langsung dalam sejarah yang fantastis.
 
Alasannya sederhana; sama dengan prajurit yang bertempur dalam peperangan, justru bangga dan ikhlas bila sang jenderal pengatur serangan yang disegani, juga dikagumi khalayak.
 
Dalam perbincangan kami dengan sang cucu, Irwan (41), Kisin kerap bercerita ihwal keterlibatannya sebagai kuli megaproyek Stadion Utama GBK. Kendati begitu, ada pula cerita duka yang kerap muncul, tapi tenggelam dengan rasa bangganya.
 
Dalam kisahnya, kala itu banyak kuli yang tidak tinggal sementara di lokasi proyek. Usai sehari pekerjaan, banyak yang kembali ke rumah masing-masing.
 
Engkong Kisin tuh jalan kaki dari rumah (Tanah Baru, Depok) ke Senayan,” ucap Irwan memulai cerita singkatnya, Selasa, 20 Februari 2018.
 

Kondisi demikian dianggap maklum, pasalnya, kala itu angkutan umum ke arah Depok masih mengandalkan kereta api, itu pun hanya di waktu tertentu. Satu sisi, jalan kaki dianggap menghemat pengeluaran.

 
Tapi, saat pulang, biasanya Kisin dan rekannya yang juga asal Depok nebeng truk sampai kawasan Pancoran, lantas kembali berjalan kaki sampai rumah.
 
Aktivitas ini dilakoni ‘si engkong’ selama tiga tahun, hingga proses pembangunan rampung.



Pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno, April 1962. (Wikipedia)


Gelombang migran
 
Demi tercapainya target pembangunan 1962 itu, gelombang kaum migran pun bermunculan. Mereka mengadu nasib dalam gempita proyek negara sebagai kuli bangunan dan tenaga kerja pendukung.
 
Ketua tim sidang pemugaran Provinsi DKI Jakarta Bambang Eryudhawan bercerita, di masa pembangunan GBK, pekerja proyek berasal dari Jakarta dan sekitarnya; seperti Bekasi, Tangerang, dan Bogor, dalam jumlah puluhan ribu.
 
“Zaman dulu tidak seperti sekarang, dulu mudah mengidentifikasi pemborong-pemborong kecil. Kuli juga banyak waktu itu, tidak seperti sekarang, orang kerja kantoran,” katanya saat dihubungi Medcom.id, Kamis 22 Februari 2018.
 

Kala itu, penggerak pembangunan GBK berada di bawah TNI AD; dikomandoi Mayjen TNI Suprayogi, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Kompartemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dalam Kabinet Dwikora I.


Menurut pria yang karib disapa Yudha ini, saat itu Indonesia tidak memiliki pengalaman dalam membangun proyek megalitik semacam GBK. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Ditambah proses pengerjaan yang diburu waktu demi menjadi tuan rumah perhelatan olahraga akbar.
 
“Kalau dibayangkan dulu dari nol (membangunnya). Pak Suprayogi yang pegang semua proyek pada masa itu. Sistemnya agak rumit, tapi jalan sih,” tambahnya.
 
Belakangan, pada Januari 2018, Stadion Utama GBK baru selesai direnovasi. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, Yudha mengatakan pembangunan di masa lalu lebih sulit, karena proses dan alat-alat yang masih konvensional.



Wajah baru Stadion Utama GBK pascarenovasi, Januari 2018. (ANTARA)


Tidak dikenal

Di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia kembali gencar membangun juga melakukan perbaikan infrastruktur. Percepatan ekonomi melalui akses-akses baru yang memangkas waktu, menjadi tujuannya. Di antaranya jalan tol trans Jawa, Sumatera, hingga Papua.
 
Sayangnya, keberhasilan pembangunan itu diwarnai dengan beberapa insiden. Dalam dua tahun, sekurangnya terdapat 14 kecelakaan proyek infrastruktur.
 
Kecelakaan ini bervariasi, mulai dari robohnya crane, jalan tol dan jembatan yang ambles. Yang terbaru, jatuhnya bekisting pierhead proyek tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), Selasa, 20 Februari 2018 dini hari.
 
Dalam peristiwa tersebut, umumnya yang menjadi korban adalah para pekerja proyek yang tengah membangun.





Agus, salah satu pekerja di proyek tol Becakayu, mengatakan, bidang yang digelutinya memang penuh risiko. Untuk itu, mematuhi instruksi dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap menjadi kewajiban.
 
Belasan tahun menjadi pekerja proyek, Agus bersyukur, karena bisa berpartisipasi dalam berbagai pembangunan infrastruktur. Terlebih, selama bekerja dia tidak pernah terluka parah.
 
“Saya pernah di Setiabudi (Jakarta) bangun gedung 56 lantai, juga pembangunan LRT di Jakabaring, yang sebentar lagi mau percobaan. Banyak lah, nggak kehitung,” beber dia sambil tersenyum.
 
Baik mendiang Kisin maupun Agus, hanyalah dua kuli berbeda zaman - di antara ribuan pahlawan pembangunan lainnya, yang bekerja mengubah wajah Indonesia. Semoga tangan-tangan ‘kasar’ juga peluh bercampur debu itu, diingat selalu.
 

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id