• Content 4 of 4
Telusur

Di Bawah Helm Proyek

Lis Pratiwi    •    23 Februari 2018 19:25

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Jakarta: “Atos rengse damelna, dinten iyeu henteu lembut, istirahat heula. Mugi-mugi sing salamat salamina”. (Sudah selesai kerjanya, hari ini tidak lembur, istirahat dahulu. Doakan semoga selamat terus).

Ada nada khawatir dalam percakapan Adin dengan istrinya. Dari mess-nya di Jakarta, kuli proyek tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) itu menelepon sang istri yang sedang berada di rumahnya, di Sukabumi, Jawa Barat, Selasa, 20 Februari 2018.

Kabar kecelakaan di area proyek yang sedang digarap Adin dini hari tadi membuat keluarga khawatir. Apalagi, korban ambruknya bekisting pierhead dari salah satu pilar di proyek jalan tol itu adalah temannya.



Pekerja beraktivitas didekat tiang pancang yang roboh pada proyek kontruksi pembangunan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa, 20 Februari 2018. (ANTARA)


Kedatangan pria berusia 40 tahun ini ke Jakarta berawal dari ajakan seorang teman. Hal ini menjadi lumrah bagi para pekerja proyek. Saling menghubungi kala ada tawaran pekerjaan.

Apalagi, bicara kuli proyek, Adin termasuk senior. Pekerjaan ini telah digelutinya selama 21 tahun. Berbagai proyek besar di Indonesia telah dicicipi, termasuk stadion internasional di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu. Wajar pula bila tawaran pekerjaan kerap menghampirinya.
 
Adin, yang hanya berbekal KTP, berhasil mencari nafkah di perantauan.
 
Nggak ada syarat apa-apa kalau di proyek mah. Bebas. Cuma kerjanya harus hati-hati. Banyak sabar dan fokus karena kerjanya berat, panas-panasan, dan sering bahaya juga,” kisahnya saat berbincang dengan Medcom.id.

Kini, di proyek tol Becakayu, Adin merasa nyaman. Dia mendapat mandor yang juga berasal dari Jawa Barat.


Daerah penyuplai kuli
 
Jumadi, manajer proyek underpass Mampang, Jakarta, mengatakan, saat ini di proyeknya terdapat sekitar 11 mandor - membawahi total 60 pekerja untuk tahap akhir alias penyelesaian.
 
Diakuinya, keberadaan mandor sangat vital, sebagai jembatan komunikasi antara kontrakor dan pekerja di lapangan.
 
Selain itu, daerah asal para mandor biasanya daerah-daerah yang dikenal sebagai pemasok pekerja, seperti dari Jawa Tengah; yaitu Tegal, Purwodadi, Salatiga, Boyolali. Atau dari Jawa Barat, seperti Garut dan Sukabumi.
 
Dari semua daerah itu, Jumadi punya penilaian dan pengalamannya sendiri.
 
“Rata-rata yang saya nilai bagus itu orang-orang dari Purwodadi. Biasanya orang dari sana semangat juangnya tinggi, kalau untuk lembur dan kejar target bisa, kualitasnya bagus lah,” jelasnya kala berbincang santai dengan Medcom.id di area proyek underpass Mampang, Rabu, 21 Februari 2018.
 

Untuk menjadi mandor biasanya dibutuhkan sertifikat. Berbeda dengan kuli yang hanya melampirkan KTP dan surat keterangan sederhana.


Mandor bersertifikat dipercaya lebih menguasai metode kerja, mengatur anak buah, dan pengalaman kerja yang terpercaya.
 
Mandor pun diharapkan mempunyai modal yang besar untuk menalangi pembayaran transportasi pekerja dari kampung halaman ke lokasi proyek, atau jika pembayaran gaji terhambat dari kontraktor.
 
Menurut Jumadi, mandor yang baik biasanya memiliki anggota atau kuli yang berkualitas pula. Kualifikasi mandor yang berbeda-beda juga dapat mempengaruhi kemampuan dan jenis pekerjaan kuli yang dibawahinya.
 
“Kalau orang arsitektur dia memang tenaga-tenaga yang bagus secara finishing, kalau orang struktur mungkin dia yang menggunakan kecepatan untuk menyelesaikannya seperti struktur beton, jembatan,” tambah Jumadi.



Proses pembangunan underpass Mampang. (ANTARA)


Tanpa kontrak
 
Ikatan kerja antara kuli dengan mandor hanya sebatas kesepakatan lisan. Tidak ada kontrak atau batasan waktu kerja. Dengan begitu, mandor dapat memulangkan kuli ke kampung halaman jika tenaganya sudah tidak dibutuhkan. Pun pekerja bisa sebebasnya meminta berhenti jika sudah tidak ingin berkuli.
 
Jumadi menjelaskan, kesepakatan kerja itu hanya antara kontraktor dengan mandor. Sistem yang digunakan adalah borongan. Para mandor di lapangan diberikan kebebasan, termasuk memilih pekerja dan penempatannya.
 
Aby, seorang mandor yang telah mengerjakan puluhan proyek, mengaku tak terlalu sulit menggaet kuli ke Jakarta. Ibu kota diyakini masih menjadi suaka bagi para pemburu kerja.
 
“Dia punya sedikit kebutuhan kita bantu, dalam artian kita kasih support. Biasanya kalau sudah sekali dua kali dengan sendirinya dia (kuli) akan ikut,” jelas mandor yang kini mengawasi proyek underpass Mampang ini.
 
Aby mengaku sempat membawahi 60 orang kuli pada Desember 2017 lalu. Jumlah itu lebih besar dari sebelumnya, karena periode tersebut pekerjaannya lebih banyak.
 
Kini, seiring berkurangnya pekerjaan yang harus dilakoni, jumlah kuli yang diawasinya tinggal 25 orang.
 
“Mereka freelance (pekerja lepas) semua. Cuma ada beberapa yang saya andalkan, dalam artian paling saya butuh, saya biarkan tetap bekerja. Yang lain dipulangkan ke Garut (Jawa Barat),” lanjut dia.
 
Aby bercerita, kala mencari pekerja, dia tidak turun tangan secara langsung. Beberapa kuli yang sudah biasa menginduk padanya akan membantu menpersuasi teman-temannya yang lain.
 
Menurut Aby, yang terpenting adalah memenuhi hak-hak para pekerja, utamanya pembayaran upah tepat waktu, agar mereka memiliki uang untuk dikirim ke keluarga.
 

Seorang mandor pun biasanya menanggung ongkos para kuli dari kampung halaman ke lokasi proyek, biaya rumah kontrakan, serta sesekali memberikan hadiah tambahan.


“Ya dibelikan baju koko, dibelikan sarung, sesekali. Hanya untuk penyemangat saja,” kata dia.
 
Harapannya, setelah kebutuhan terpenuhi, anggotanya bisa lebih fokus sehingga meningkatkan performa dan mengurangi risiko kecelakaan kerja.
 
Aby juga mengaku tidak ingin membebani kuli untuk bekerja terlalu keras. Bahkan, pekerjanya diizinkan pulang ke kampung halaman sebulan sekali.
 
“Kita tidak membebani, tapi kita kasih semangat saja. Dengan pengawasan juga yang penuh, Insya Allah bisa selesai sesuai target,” tutupnya.