Dari Pecinan ke Pecinan
3Contents

DARI PECINAN KE PECINAN

Updated 16 Februari 2018 17:14
  1. Dari Pecinan ke Pecinan
  2. Perang Kuning dan Klenteng Tua di Pantura
  3. Tionghoa di Keraton Jogja
  • Content 1 of 3
Telusur

Dari Pecinan ke Pecinan

Lis Pratiwi    •    16 Februari 2018 17:02

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

AROMA hio atau dupa yang dibakar langsung menyeruak begitu memasuki area Klenteng Jin De Yuan di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Cuaca cerah pada Jumat, 2 Februari 2018 itu membuat sinar matahari saling berpantul dengan cat merah yang mendominasi bangunan dan hiasan klenteng.

Klenteng yang juga disebut Vihara Dharma Bhakti ini merupakan tujuan pertama saya saat menapaki jejak peradaban Tionghoa di Pulau Jawa dalam Ekspedisi Imlek Medcom.id.

Tak banyak orang yang hadir di klenteng kala saya bertandang. “Karena hari ini bukan tanggalan yang biasanya ramai beribadah,” terang salah satu jemaat yang kami temui. Pria itu mengatakan, klenteng akan ramai saat malam sebelum tahun baru Imlek.

Dari klenteng, saya pun melenggang ke Pasar Petak Sembilan yang masih satu area. Pasar ini menjadi sentra penjualan pernak-pernik khas Tiongkok, seperti; lampion, hiasan pintu, hingga setelan cheongsam, berjajar sepanjang jalan. Rasanya seperti bukan di Jakarta.

Dari Ibu kota, saya bertolak ke Tegal, Jawa Tengah. Meski kental dengan budaya Jawa, tapi akulturasi Tionghoa sangat terasa di sini.

Selain keberadaan Klenteng Tey Hak Kiong, budaya Tionghoa di Kota Bahari semakin terasa dengan tersebarnya makanan tradisional khas negeri tirai bambu, yakni, kue keranjang. Hmmm....



Klenteng Tek Hay Kiong, Tegal, Jawa Tengah. (Medcom/Lis)


Bahkan, saat menyambangi kawasan pecinan di Tegal Barat, saya sempat mampir ke tempat pembuatan kue keranjang bermerek Sido Makmur yang telah berusia hampir empat puluh tahun.
 
Sang pemilik, Mindayani Wirjono, tampak sibuk melayani permintaan kue keranjang. Apalagi menjelang Imlek, setidaknya dia harus memproduksi seribu kue per hari.
 
Makanan yang karib disebut dodol cina itu diproduksi di ruangan luas tak bersekat. Belasan pekerja tampak disibukkan dengan tugasnya masing-masing, mulai dari mencampur adonan hingga pengemasan. Mengabaikan sisa terigu yang berserakan di lantai.
 

Mindayani bercerita, ide usaha kue keranjang ini dimulai dari saran tetangganya - yang biasa disapa Uwak. Sosok wanita jawa itu pula yang mengajarkannya cara membuat dodol cina.


Kini kue keranjang Sido Makmur tak hanya dipasarkan di Tegal, kota lain di Pulau Jawa, seperti Bandung, Solo, dan Jakarta juga masuk ke dalam pangsanya.
 
“Jadi resep aslinya itu dari orang Jawa, dan terus bertahan sampai sekarang,” jelas Mindayani dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.



Proses pengemasan kue keranjang di Sido Makmur. (Medcom/Lis) 


Khas
 
Usai mencicipi kue keranjang dan menikmati keramahan Tegal, saya pun melanjutkan perjalanan ke jalur pantai utara Jawa. Melewati jalan-jalan berlubang bersama truk pengangkut barang, akhirnya tiba di Semarang, Jawa Tengah.
 
Klenteng terbesar, Tay Kak Sie, sudah tentu menjadi tujuan pertama saya di Kota Lumpia ini.
 
Julukan ‘terbesar’ yang disematkan kepada klenteng ini bukan merujuk luas areanya, melainkan jumlah dewa yang dipuja di dalamnya.
 

Yang menarik, pembangunan Klenteng Tay Kak Sie pada 1750-an melibatkan tukang-tukang yang langsung didatangkan dari Tiongkok.


Bangunannya sangat khas, kaya ornamen dan simbol-simbol yang berhubungan dengan kepercayaan Tionghoa. Salah satunya, atap klenteng yang berhias sepasang naga yang sedang memperebutkan matahari.
 
Awalnya, klenteng yang berlokasi di Gang Lombok itu didirikan untuk memuja Yang Mulia Dewi Welas Asih Koan Sie Im Po Sat. Seiring waktu, berkembang menjadi tempat pemujaan berbagai Dewa Dewi dari aliran Tao maupun Konfusianisme.



Klenteng Tay Kak Sie, Semarang, Jawa Tengah. (Medcom/Lis)


Dari Tay Kak Sie, saya bertandang ke Sam Poo Kong, salah satu klenteng paling terkenal di Indonesia. Kompleks klenteng ini pun merupakan yang terluas di Pulau Jawa.
 
Dibandingkan sarana peribadatan, Sam Poo Kong lebih menyerupai objek wisata. Sehari-hari, klenteng ini dipenuhi para pelancong. Mafhum, arsitekturnya begitu cantik hingga pantas diabadikan dan dibagikan di media sosial.



Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah. (Medcom/Gilang Akbar)
 

Tiongkok Kecil di Kota Santri
 
Usai jelajah Semarang, saya melanjutkan perjalanan ke kawasan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis, 8 Februari 2018.
 
Berbeda dengan kota-kota sebelumnya, akulturasi budaya Tionghoa di sini lebih kental; mulai dari arsitektur, kuliner, hingga motif batiknya. Tak heran jika Lasem dijuluki Tiongkok Kecil.
 
‘Rumah Merah’ menjadi salah satu tujuan saya. Siapapun di Lasem, pasti akrab dengan nama tersebut. Saya pun dengan mudah menemuinya. Sesuai namanya, warna merah mendominasi bangunan pusat pembelajaran budaya, yang juga rumah singgah ini.
 


Rumah Merah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Medcom/Gilang Akbar)
 
Masih di Lasem, tak lupa saya menyambangi salah satu produsen batik khas kawasan ini. Motif dan narasi batik Lasem memiliki aneka kisah dan simbolisme yang diambil dari kisah sejarah, alam, dan budaya Jawa-Tionghoa.
 

Kota Lasem orang poen sering seboet Kota Batik,
kerna Batikindustrie di sana ada besar sekali dan penting.
Bagimana besar dan pentingnja itoe batikindustrie jang berada seanteronja dalem tangannja fihak Tionghoa di Lasem, itoelah orang bisa bajangken sendiri. Ampir sasoeatoe anak Tionghoa dari Lasem kaloe di tanja oleh orang tentang pakerdjahan apa jang orang toeanja diroemah ada lakoeken, selaloe kasi penjaoetan:
“Peroesahan batik!” 

Kengpo, 25 November 1934


Andri, salah satu pemilik rumah produksi batik, menyempatkan diri untuk menemani saya melihat-lihat. Dia juga bercerita seputar corak delapan dewa atau naga yang menjadi khas batik Lasem.
 
“Tapi biasanya batik bercorak Tionghoa kainnya untuk dipajang, karena motifnya melebar. Kalau untuk baju sulit,” ucapnya seraya memperlihatkan sehelai batik bercorak merah dan biru.



Pengrajin memperlihatkan batik Lasem. (Medcom/Lis)
 

Selain Tiongkok Kecil, Lasem juga mendapat julukan Kota Santri. Saking berpadunya budaya di sini, arsitektur salah satu pondok pesantrennya pun bak klenteng.
 
Pondok Pesantren Kauman Lasem di Desa Karangturi tampaknya sukses mencomot perhatian saya. Dari pos keamanannya saja, sebagai objek yang paling terlihat saat memasuki area pesantren, dibentuk serupa klenteng.
 

Pula di beberapa bagian bangunan, terlihat lampion hingga aksara-aksara Cina. Boleh dikata, tampilan ini tak jamak ditemukan di kebanyakan pesantren di tanah Jawa.


“Bangunan pesantrennya ada nuansa Jawa dan Tionghoa. Ini bukti tingginya toleransi di Lasem,” kata pembina pondok pesantren Zaim Ahmad Mashoem saat kami berbincang santai di ruangannya.
 
Lain hal di Yogyakarta - kota terakhir yang saya sambangi, kendati pecinan tak terlalu tampak, namun keakraban budaya Tionghoa – Jawa bisa dirasakan di sini. Malah tak hanya Tionghoa, ragam budaya lain pun bisa harmoni dengan si Kota Pelajar.



Gapura khas Tionhoa di muka Kampung Ketandan, pecinan di Yogyakarta. (Medcom/Vicka)


“Di Yogyakarta kami juga mengajarkan warga untuk saling menghargai dan menghormati budaya atau agama lain, tidak hanya Tionghoa,” jelas Ketua Komisi A DPRD Yogyakarta Eko Suwanto, Jumat, 9 Februari 2018.
 
Dari pecinan ke pecinan; dari klenteng hingga kuliner, terpotret jelas dalam perjalanan saya ihwal lawasnya akulturasi budaya Tionghoa dalam kehidupan masyarakat di tanah Jawa. Bhinneka Tunggal Ika itu nyata.



 

Dari Pecinan ke Pecinan
3contents

DARI PECINAN KE PECINAN

Updated 16 Februari 2018 17:14
  1. Dari Pecinan ke Pecinan
  2. Perang Kuning dan Klenteng Tua di Pantura
  3. Tionghoa di Keraton Jogja

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id