Dari Pecinan ke Pecinan
3Contents

DARI PECINAN KE PECINAN

Updated 16 Februari 2018 17:14
  1. Dari Pecinan ke Pecinan
  2. Perang Kuning dan Klenteng Tua di Pantura
  3. Tionghoa di Keraton Jogja
  • Content 2 of 3
Telusur

Perang Kuning dan Klenteng Tua di Pantura

Lis Pratiwi    •    16 Februari 2018 16:00

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Awalnya orang Tionghoa berdiaspora dari tanah kontinennya ke selatan, hingga sampai di Indonesia, dan ada yang menetap di pulau Jawa. Puncaknya pada abad ke-17”.

 
DEMIKIAN sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Djoko Suryo mengawali perbincangan kami ihwal akulturasi budaya Tionghoa di nusantara, di Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Sabtu, 10 Februari 2018.

Gelombang migrasi etnis Tionghoa, lanjut Djoko, dipelopori oleh kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kongsi dagang Belanda tersebut mendirikan loji-loji dan pangkalan perdagangan di Jawa, termasuk Batavia.
 
Sentra perkotaan buatan Belanda itu menjanjikan pertumbuhan ekonomi, menarik minat berbagai pendatang untuk bermukim. Mereka yang datang lantas mendirikan perkampungan sesuai komunitas etnisnya masing-masing, termasuk Tionghoa.

Ivan Taniputera dalam buku History of China mengatakan, sebelum abad ke-17, kedatangan etnis Tionghoa ke nusantara berlangsung secara sporadis dan kontinyu, dalam jangka waktu yang lama. Peristiwa tersebut terus berlanjut hingga eksodus Tionghoa ke Indonesia terakhir pada 1949.

Dalam imigrasi besar pertama, pada 1850-an, nusantara kedatangan 318 ribu orang, 40 persen di antaranya atau sekitar 128 ribu jiwa memilih bermukim di Jawa. Ini pula yang membuat Pulau Jawa menjadi perhimpunan utama etnis Tionghoa.
 
Maklum, tanah Jawa mendukung pertanian, juga banyak pusat perdagangan. Beberapa lokasi pun dianggap memiliki kemiripan khusus dengan negeri Tiongkok.
 
Pada 1900, jumlah etnis Tionghoa di nusantara sudah melebihi setengah juta jiwa. Tercatat, 277 ribu orang berada di Jawa dan Madura, dan sekitar 260 ribu lain tersebar di pulau-pulau sekitarnya.



Warga keturunan Tionghoa melakukan ritual Sang Sin di Klenteng Ling Hok Bio di kawasan pecinan Semarang, Jawa Tengah, Jumat (9/2). (ANTARA)


Masa kelam
 
Kondisi ekonomi terbuka yang ditawarkan VOC membuat munculnya kampung-kampung berbagai etnis, seperti Kampung Ambon, Kampung Melayu, Kampung Bali, dan lain-lain. Pula pendatang dari ‘Timur Asing’, seperti Kampung Arab, juga Pecinan – istilah khas kawasan etnis Tionghoa.
 
Meski secara tidak langsung Belanda mengundang Tionghoa ke nusantara, nyatanya hubungan keduanya tak selalu harmonis.
 
Pada 1740 misalnya. Kondisi ekonomi politik tampaknya tak berpihak kepada etnis Tionghoa. Akibat jatuhnya harga gula, pemerintah kerap merepresi etnis ini, hingga berkurangnya pendapatan warga Tionghoa.
 
Waktu itu, 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier tak segan memerintahkan pembantaian terhadap etnis Tionghoa. Sekitar 10 ribu orang Tionghoa di Batavia tewas, 500 lainnya mengalami luka berat, dan lebih dari 600 bangunan milik Tionghoa dijarah dan dibakar. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Geger Pecinan.
 

Saat itu, orang Tionghoa yang selamat mengungsi ke Jawa Tengah dan sepanjang pantai utara (Pantura).


Tak diam. Dalam perjalanan pengungsian itu, mereka yang murka menyerang pos-pos perdagangan Belanda, dan bergabung dengan pasukan kerajaan Jawa di bawah pimpinan Sultan Mataram.

Pertempuran Tionghoa-Jawa melawan Belanda menyebar di berbagai wilayah di Jawa. Konflik ini dikenal dengan sebutan Perang Kuning. 


Klenteng di Pantura
 
Dari pergeseran orang Tionghoa inilah akulturasi budaya peranakan mengental di kawasan Pantura.

Tak hanya budaya, kenyataan heterogenitas yang berkembang membuahkan tempat-tempat peribadatan, tersebar di kota-kota tempat etnis Tionghoa bermukim.

Tegal, Jawa Tengah salah satunya. Keberadaan Klenteng Tek Hay Kiong bak salah satu markah kota ini. Rumah peribadatan berusia 305 tahun itu memiliki tuan rumah Dewa Tek Hay Cin Jin yang bernama asli Kwee Lak Wa.

Para peneliti sejarah beranggapan bahwa Kwee Lak Kwa adalah seorang tokoh dalam Perang Kuning atau 'Perang Cina' (1741-1742).

 
“Untuk memuja jasa dan kebaikannya dibuatkan klenteng ini,” jelas rohaniawan Klenteng Tek Hay Kiong, Chen Li Wei Daochang, saat kami temui di Tegal, Jawa Tengah, Selasa, 6 Februari 2018.



Klenteng Tek Hay Kiong, Tegal, Jawa Tengah. (Medcom/Lis)


Lain Tegal, lain pula di Semarang. Di kota ini bahkan terdapat klenteng terbesar di Jawa Tengah, Tay Kak Sie. Julukan ‘terbesar’ yang disematkan kepada klenteng ini bukan merujuk luas areanya, melainkan banyaknya jumlah dewa yang dipuja di dalamnya.
 
Klenteng ini kaya akan ornamen bergaya Tionghoa, salah satunya sepasang naga sedang memperebutkan matahari yang menghias atapnya. Mahfum, klenteng ini dibangun langsung oleh tukang-tukang yang didatangkan dari negeri tiongkok.
 
Serupa Klenteng Tek Hay Kiong Tegal, klenteng di kawasan Pecinan Gang Lombok, Semarang ini juga dinilai berkaitan dengan persebaran Tionghoa di Pantura. Waktu pembuatannya berdekatan dengan Perang Cina, yakni 1746.



Klenteng Tay Kak Sie, Semarang, Jawa Tengah. (Medcom/Lis)


Jejak persebaran budaya Tionghoa juga terekam dalam Klenteng Jin De Yuan di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Pula di Cirebon dalam klenteng tertuanya, Hok Keng Tong.
 
Ada pula Klenteng Hian Thian Siang Tee di Welahan, Kabupaten Jepara, yang dipercaya menjadi klenteng tertua di Indonesia, dibangun pada 1600. Dan, sudah tentu di Lasem, Kabupaten Rembang, yang dijuluki Tiongkok Kecil, terdapat Klenteng Cu An Kiong dan Klenteng Gie Yong Bio.
 
Di dalam kedua klenteng ini terdapat altar khusus bagi pahlawan Perang Kuning. Ya, untuk menghormati mereka yang gugur melawan kekuasaan VOC di Semarang (1741-1742) dan Lasem (1750) - masih terkait Geger Pecinan di Batavia.
 
Kini, keberadaan klenteng di kota-kota itu menjadi saksi keakraban budaya Jawa dan Tionghoa. Sekaligus penanda sejarah perlawanan terhadap Belanda di sepanjang Pantura.

Dari Pecinan ke Pecinan
3contents

DARI PECINAN KE PECINAN

Updated 16 Februari 2018 17:14
  1. Dari Pecinan ke Pecinan
  2. Perang Kuning dan Klenteng Tua di Pantura
  3. Tionghoa di Keraton Jogja