• Content 9 of 9
Telusur

Teater, Seni Kritik Simbol

Lis Pratiwi    •    06 Februari 2018 17:35

Ilustrasi: ANTARA Ilustrasi: ANTARA

Jakarta: Negara yang bagus, negara yang pemerintahnya siap dikritik. Dan teater, adalah empunya.

Abdullah Wong, salah satu sutradara dan penulis naskah itu tengah mencoba mengenalkan sisi lain teater. Katanya, seni drama yang sudah eksis sejak abad 6 sebelum Masehi ini bukan cuma andal-andalan bermain peran, tapi juga memborong kemampuan menyusun artikulasi, nilai artistik, eksplorasi multimedia, hingga kesadaran ideologi dalam dialog yang dimainkan.

"Itulah teater," kata Abdullah, kepada Medcom.id, Selasa 30 Januari 2018.

Pertunjukan teater, masih kata dia, kerap disulap menjadi wadah ekspresi bagi seniman guna menyampaikan aspirasi. Kondisi ini bukan barang baru. Ia tak hanya berlangsung dalam pentas teater modern yang belakangan digelar di gedung mewah dengan tiket yang tak murah.



Abdullah Wong. (Istimewa)


Teater Yunani klasik yang telah ada sejak 2300 tahun lalu juga tak luput dari muatan kritik terhadap tokoh-tokoh terkenal di masanya. Jenis teater ini, menjadi naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog di antara para karakter yang dimainkan. Lepas itu, hadir pula teater Romawi kuno yang banyak menceritakan kesenjangan hidup di masyarakat.

Kritik yang dilakukan dalam pentas teater dinilai lebih netral. Pasalnya, ia digerakkan ooleh masyarakat yang berada di luar area pemerintahan, tanpa agenda khusus. Kepentingan yang dibawa para seniman, menurut Abdullah Wong, adalah meningkatkan kecerdasan emosional dan kepekaan sosial masyarakat.
 

Sayang, di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap teater selalu setengah hati. Bahkan tak banyak pejabat yang tertarik melihat luapan kegelisahan para pekerja seni. Kebanyakan dari mereka, malah khawatir kritik teater akan mengganggu kekuasaan yang tengah digenggam.


Lain di cerita di negeri orang. Tadashi Suzuki, misalnya. Seorang maestro teater Jepang yang kerap mengkritik pemerintah ini justru mendapat perhatian saat pertunjukannya mandek lantaran kehabisan dana. Fasilitas pelatihan dan bantuan finansial pun diberikan pemerintah setempat agar kritik tetap bisa berjalan dan menggema.

“Indonesia diharapkan bisa seperti itu (pemerintahnya memberi banyak bantuan). Kalau semakin siap untuk berbenah, semakin beradab, seharusnya pemerintah siap untuk dikritik,” imbuh sutradara “Suluk Sungai” ini.


Pesan dalam simbol

Bentuk komunikasi yang disampaikan pertunjukan teater tak hanya berupa kata-kata langsung, melainkan juga melalui simbol-simbol. Pemilihan wujud, warna, musik, tubuh pemain, narasi, hingga segala bunyi merupakan suatu interpretasi. Singkatnya, semua yang ada di atas panggung bisa menjadi tanda.   

Hal inilah yang menyebabkan, animo masyarakat terhadap teater juga menunjukkkan perkembangan peradaban di kalangan tersebut. Sebab, masyarakat elite atau kaum dengan intelektual tinggilah yang dipercaya bisa lebih mudah memahami simbol-simbol yang ditampilkan.

Budayawan Radhar Panca Dahana, dalam Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia (2001)  bilang, kebijakan tidak akan menemukan bahasa yang sama dalam kerja artistik apa pun karena kedua bahasa tersebut sangat berbeda. Maka, yang kemudian terjadi adalah pertemuan di tingkat paling dasar dari kedua entitas itu, yakni lewat simbol.

Teater pun dianggap sebagai substitusi tepat dengan memberikan panggung ihwal ketidakberdayaan menanggapi keadaan. Secara tidak langsung terdapat pengaruh penetrasi simbolik ideologi oleh negara terhadap simbol-simbol artistik sebuah pertunjukan teater.

“Karena panggung diolah sedemikian rupa sehingga mampu mengolah simbol-simbolnya baik secara intelektual maupun spiritual,” jelas Ken Zuraida, sutradara sekaligus pengelola Bengkel Teater Rendra (BTR) di kediamannya di Depok, Jawa Barat, Selasa 30 Januari 2018.



Ken Zuraida. (Medcom/Lis)


Penuh perenungan

Pengolahan naskah yang penuh makna bukanlah hal instan. Perlu perenungan panjang untuk menghasilkan satu skenario lakon yang apik dan menggugah pemahaman masyarakat. Memang tak semua kelompok teater menyajikan cerita yang mengkritik pemerintah, ada pula yang bercerita tentang keresahan lain.

Pun tak semua kelompok teater menyajikan cerita dari hasil perenungan, ada pula yang mengadaptasi naskah terkenal dari penyair terkenal, seperti Romeo and Juliet karya William Shakespeare, The Crucible milik Arthur Miller, atau Sumur Tanpa Dasar oleh Arifin C. Noer.
 

Pemilihan cerita dari naskah terkenal cenderung lebih mudah karena hanya membutuhkan penambahan artistik, tanpa peneluran ide murni. Berbeda dengan kisah yang berangkat dari kegelisahan di sekitar tentang situsasi sosial politik atau masalah kemanusiaan.


Sutradara kelompok Teater Kubur, Dindon, W.S., berharap pegiat teater lebih mengutamakan kisah yang berkaitan dengan situasi terkini dengan memberi kesaksian dan kritik. Ia mengistilahkan hal itu sebagai tanggung jawab moral seorang seniman.

“Saya pribadi saya lebih banyak bikin naskah sendiri karena dengan itu saya melakukan pementasan karena kesaksian saya terhadap realitas, itu kewajiban saya. Saya merasa butuh untuk memberi kesaksian itu, ada nilai-nilai yang menarik,’ jelasnya, Selasa, 30 Januari 2018.



Teater Kubur mementaskan teaterikal "X Kilometer" karya Dindon W.S. di halaman Gelangang Planet Senen, Jakarta Pusat, Februari 2009. (MI)


Dindon tidak menyalahkan kelompok yang menggunakan naskah lama untuk dipentaskan kembali. Namun, kontemplasinya akan kurang terasa tanpa kesaksian terhadap realitas kini. Baginya, nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi bangsa bahkan bisa hancur jika tidak dikritisi. Untuk itu, teater harus bergulir untuk mengangkat cerita sesuai zamannya.

Di masa Orde Baru misalnya, saat berhadapan dengan rezim pemerintah, semua kelompok teater memiliki kegelisahan dan mengkritik dengan suara serupa. Begitu Orde Baru selesai, bahasan tersebut berubah lagi.

Tentu ada konsekuensi dalam hal ini. Radhar Panca Dahana, masih dalam buku yang sama menuliskan, teater termasuk cabang kesenian yang paling banyak menjadi korban pelarangan pemerintah. Setidaknya, ada anggapan bahwa teater masa kini merupakan salah satu bentuk kesenian yang menimbulkan kecurigaan penguasa.

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id