Setengah Hati Merawat Sejarah
4Contents

SETENGAH HATI MERAWAT SEJARAH

Updated 02 Februari 2018 17:47
  1. Setengah Hati Merawat Sejarah
  2. Anggaran Kecil untuk Tugas Besar
  3. Kala Sejarah Dilalap Jago Merah
  4. Yang Alpa di Museum
  • Content 1 of 4
Telusur

Setengah Hati Merawat Sejarah

Lis Pratiwi    •    02 Februari 2018 17:46

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” pekik Presiden Soekarno dalam pidatonya yang terakhir pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1966.
 
Meski saat itu si ‘Bung Besar’ berbicara dalam lingkup kelompok-kelompok yang ikut berjuang meraih kemerdekaan, namun, banyak yang menganggap kalimat itu bisa mencakup konteks yang lebih luas.
 
Jelas, jika meninggalkan sejarah, generasi selanjutnya bisa-bisa kesulitan, bahkan tidak tahu ihwal kebesaran bangsanya sendiri.
 
Sebab itu, instrumen pengenalan sejarah pun harus diperkuat. Mulai dari buku pelajaran hingga barang peninggalan. Salah satunya, museum.



Seorang anak mengamati salah-satu koleksi di Museum Nasional, Sabtu, 20 Januari 2018. (Medcom/Lis)


Kini, Indonesia memiliki 435 museum yang dikelola Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan swasta. Pemerintah pun berusaha serius mengelola aset tersebut dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.
 
Sayangnya, sistem pengelolaan cagar budaya dinilai belum optimal. Salah satu faktornya adalah; masing-masing instansi yang terkait dengan museum dilanda ego sektoral.
 
Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) permuseuman juga belum memadai. Boleh dikata, ketersediaan ahli masih terbatas.

Kasubdit Permuseuman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Sri Patmiarsi Retnaningtyas menjelaskan, ahli yang dibutuhkan adalah; mulai dari bidang registrasi, kurator, konservator, edukator, penata pameran, hingga promosi.
 
“Namun tidak semua museum memiliki SDM (di enam bidang) itu, terutama museum di daerah. Ada yang tidak punya humas (promosi) dan kurator, padahal ini sangat penting,” ucapnya saat berbincang dengan Medcom.id, Rabu, 17 Januari 2017.





Kurang perhatian
 
Persoalan melestarikan sejarah memang kerap disepelekan di negeri ini. Buktinya, kata Ketua Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali, banyak orang tua yang tidak rela anaknya kuliah di jurusan sejarah, arkeologi, atau museologi.
 
“Jurusan itu kerap dianggap “madesu” alias masa depan suram,” terang Asep dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis, 18 Januari 2018.
 
Pandangan serupa juga melekat pada bidang kebudayaan, seperti menjadi dalang atau penari tradisional. Mahfum, sebab urusan sejarah dan kebudayaan kurang diperhatikan, kurang pula mensejahterakan pekerjanya.
 
“Akarnya dari situ. Antara RI di tangan kanan dengan Rp (kesejahteraan) di tangan kiri, tidak seimbang. Antara idealisme dengan realitas,” ketusnya.



Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia. (MI)


Demikian pula pengelolaan aset sejarah, jika dibandingkan dengan museum di negara-negara tetangga, seperti di George Town, Kuching, dan Serawak di Malaysia, serta Kawasan Keong Saik Road alias kota tuanya Singapura, Indonesia tertinggal.
 
Memang ukuran ‘tetangga’ relatif kecil dan lebih mudah dikelola, tapi, pemerintahnya memiliki regulasi yang jelas. Sementara di Indonesia, banyak pemerintah daerah yang tidak peduli bahkan memotong anggaran pengelolaan museum.
 
“Pemda, Pemprov, terutama di daerah-daerah, melihat bahwa museum ini adalah satu tempat yang memang membuang uang, ngabisin anggaran,” tambah anggota Tim Penilai Standarisasi Museum Kemendikbud ini.
 
Jika museum di Ibu Kota saja kerap diabaikan, di daerah jauh lebih memprihatinkan. Salah satunya Museum Samparaja di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Padahal, di sana tersimpan naskah-naskah kuno yang menggambarkan Bima dalam sejarah.
 
Serupa, Museum Balaputradewa di Palembang, Sumatera Selatan, kondisi penerangannya minim, atap bocor, dan lantainya tak terawat. Pengunjung pun sulit mendapatkan informasi mengenai museum karena kurangnya petugas.
 
“Museum di daerah rata-rata begitu masuk baunya enggak enak, terus banyak sarang laba-laba, atapnya bolong-bolong, kucel. Bahkan ada yang atapnya ambruk, sudah turun, masih dibuka untuk umum,” beber Asep.



Arca Budha dari perunggu peninggalan Kerajaan Sriwijaya abad XI di Museum Balaputradewa hilang pada Maret 2009. Ditaksir, arca tersebut bernilai ratusan juta. (MI)


Tantangan
 
Masalah pengelolaan aset sejarah dan cagar budaya mendapat perhatian dari banyak pihak. Pada Maret 2017, para menteri kebudayaan dari kelompok negara G7, yakni; Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Perancis, Kanada, dan Italia mengadakan pertemuan di Florence, Italia.
 
Pertemuan tersebut mendesak seluruh negara menerapkan langkah kuat melawan perusakan dan perdagangan warisan serta cagar budaya. Para menteri G7 juga meminta kepada semua negara, terutama yang berada dalam konflik, untuk mengidentifikasi dan melarang perdagangan artefak budaya hasil curian.
 
Ketua Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta Bambang Eryudhawan menjelaskan, pengelolaan cagar budaya sebenarnya merupakan hal baru bagi banyak negara. Indonesia, kata dia, masih terus belajar untuk menjaga kelestarian setiap benda bersejarah, baik yang masih berada di tempat aslinya (in-situ), maupun yang sudah diangkat dari situsnya (ex-situ).
 
“Memang (butuh) ongkos karena (menjaga) barang tua. Ini memang dilematis antara anggaran terbatas, SDM terbatas, tapi barang sulit diurus. Ini memang resiko ya,” ujarnya kepada kami, Rabu, 17 Januari 2018.
 
Tantangan lain, kata Bambang, seringnya terjadi mutasi pegawai, juga kekuasaan pemerintahan yang kerap berganti. Sementara pihak swasta tidak banyak yang fokus membantu di bidang sejarah dan budaya. “Dianggap melelahkan.”

Setengah Hati Merawat Sejarah
4contents

SETENGAH HATI MERAWAT SEJARAH

Updated 02 Februari 2018 17:47
  1. Setengah Hati Merawat Sejarah
  2. Anggaran Kecil untuk Tugas Besar
  3. Kala Sejarah Dilalap Jago Merah
  4. Yang Alpa di Museum

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id