Setengah Hati Merawat Sejarah
4Contents

SETENGAH HATI MERAWAT SEJARAH

Updated 02 Februari 2018 17:47
  1. Setengah Hati Merawat Sejarah
  2. Anggaran Kecil untuk Tugas Besar
  3. Kala Sejarah Dilalap Jago Merah
  4. Yang Alpa di Museum
  • Content 4 of 4
Telusur

Yang Alpa di Museum

Lis Pratiwi    •    02 Februari 2018 16:47

Ilustrasi: Medcom Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Alunan gamelan menggema di Museum Nasional, Jakarta. Bunyi indah itu datang dari komunitas yang sedang berlatih di lantai satu gedung tersebut, Sabtu, 20 Januari 2018.

Di sekitarnya, pengunjung tampak antusias melihat ragam koleksi sejarah Indonesia dalam berbagai patung dan diorama.

Museum yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat itu adalah museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Museum Gajah, demikian karib disapa.



Gedung Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. (MI)


Museum ini memiliki lebih dari 150 ribu koleksi bernilai tinggi. Tempat ini pun menjadi museum milik pemerintah dengan tingkat keamanan nomor wahid.
 
Kamera pantau, peralatan darurat kebakaran, serta sensor keamanan khusus yang diaktifkan kala malam hari, melengkapi museum. Petugas jaga pun tampak rutin berkeliling. Bahkan terlihat beberapa pos keamanan dalam satu lantai.
 
“Semua petugas di sini rutin memantau museum, tidak hanya keamanan, termasuk saya juga” kata Kepala Seksi Kemitraan Museum Nasional Syafei saat berbincang dengan Medcom.id, Sabtu, 20 Januari 2018.
 
Lantai empat yang berisi khasanah emas dan keramik bahkan memiliki sistem yang lebih ketat. Jalur keluar masuk ruangan ini dipersempit. Menuju ke sana, pengunjung hanya disediakan lift. Berbeda dengan lantai lain yang dilengkapi eskalator.
 
Di Museum Gajah ini,  pengunjung yang datang dilarang memotret benda koleksi di dalamnya, untuk menghindari peniruan benda seni. Jika ada yang melanggar, petugas jaga tidak segan menegurnya.
 
Namun, dengan ketatnya sistem keamanan tersebut, Museum Nasional ternyata belum bisa membuntukan otak para pelaku kejahatan. Tercatat, museum yang didirikan sejak masa pemerintah Hindia Belanda ini telah mengalami lima kali pencurian.
 
Pertama, pencurian emas dan permata pada 1961. Kemudian pencurian koleksi uang logam pada 1979, disusul pencurian koleksi keramik senilai Rp1,5 miliar.
 
Aksi pembobolan keempat adalah dicurinya lukisan Basoeki Abdullah, Raden Saleh, dan Affandi pada 1996. Dan terakhir, pada 2013, empat koleksi emas raib.
 

Lebih miris lagi, beberapa kasus pencurian tersebut belum terpecahkan hingga kini.


Beberapa museum lain yang juga memiliki pengalaman serupa adalah Museum Radya Pustaka di Jawa Tengah, pada 2007. Termasuk dua museum di Yogyakarta, yakni, Museum Sonobudoyo (2010), dan Museum Affandi (2016).
 


Pengunjung mengamati karya lukisan koleksi Museum Affandi di Caturtunggal, Sleman, DI Yogyakarta. (MI)


Rawan bencana
 
Panduan Keamanan di Museum yang dikeluarkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebutkan; selain petugas keamanan 24 jam, museum sebaiknya dilengkapi alarm kebakaran, peralatan pemadam, kamera pemantau, hingga alarm pendeteksi gerak.
 
Sayangnya, di Indonesia, hampir semua museum belum memenuhi standar tersebut. Museum Bahari yang tempo hari terbakar misalnya, bangunan berusia ratusan tahun itu tidak dilengkapi sistem pemadam kebakaran yang cukup.
 
Selain itu, kamera pemantau di  Museum Bahari juga terbatas, ditambah absennya sistem alarm kebakaran. Padahal, UNESCO menyebut api dan air adalah musuh utama bagi sebuah museum.
 

Mengelola museum bukanlah perkara gampang. Salah langkah, sistem yang diterapkan bisa menjadi bumerang di kemudian hari.


Kasus Museum Bahari contohnya, untuk melindungi koleksi dari rayap dan air, museum tersebut menggunakan pelindung berupa seng atau aluminium di beberapa bagian bangunan.
 
Benar, udara dan air tidak mudah masuk, namun sistem ini pula yang menyebabkan tim pemadam sulit menjinakkan api saat kebakaran 16 Januari 2018 lalu.



Kebakaran di Gedung Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta, Selasa, 16 Januari 2018. (ANTARA)


Ketua Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengatakan, satu-satunya langkah mengatasi hal ini adalah menerapkan sistem keamanan terbaik meski biayanya tak sedikit.
 
“Karena koleksi museum, gedungnya sendiri, itu tidak ternilai. Sayangnya, anggaran pengelolaan museum kerap dipangkas dan dianaktirikan,” jelas dia, Rabu, 17 Januari 2018.
 
 
Abai masalah keamanan
 
Mengelola museum butuh dedikasi dan keseriusan, salah satunya terlihat pada The J. Paul Getty Museum di Los Angeles, Amerika Serikat.
 
Bak menantang alam, museum itu justru dibangun di Pegunungan Santa Monica yang rawan kebakaran. Padahal, Paul Getty bisa dikelaskan sebagai museum ‘miliaran dolar’ - berisi karya seni kelas dunia yang tak ternilai.
 
Arsitekturnya dirancang untuk mengurangi dampak bencana. Material bangunannya menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar, yakni travertine, sejenis batu kapur Italia. Sementara panelnya terbuat dari aluminium.



J. Paul Getty Museum. (www.getty.edu)


Di dalam gedung, sistem penyaringan udara canggih diaktifkan jika terjadi kebakaran. Sistem ini mengubah sirkulasi udara dan memaksa udara keluar dari galeri, kemudian menutup galeri dari asap dan api. Tanaman dengan kadar air tinggi juga ditanam di sekeliling bangunan.
 
Jauh memang jika dibandingkan dengan Indonesia. Jangankan untuk menjaga benda mati, nyawa manusia pun berkali-kali tergadai akibat kelalaian keamanan ini.
 
Ya. Sehari sebelum peristiwa kebakaran Museum Bahari, mezanin tower II Bursa Efek Indonesia (BEI) runtuh. Peristiwa itu memakan korban sedikitnya 72 orang luka-luka. Faktor keamanan dan kesalahan kontruksi dinilai sebagai penyebabnya.
 
Pula dalam peristiwa meledaknya sebuah pabrik petasan di Kosambi, Tangerang, pada 26 Oktober 2017. Akibat rendahnya standar keamanan, tercatat, 48 pekerja pabrik tewas akibat gagal menyelamatkan diri.
 

Menyoal keamanan bangunan, istilah mencegah sejak dini seperti tidak dikenal dalam kamus Indonesia. Yang muncul hanya evaluasi setelah bencana terjadi.


Cara pandang ini persis seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiati.

“Kita mengambil hikmah dari (kebakaran) ini. Supaya semua pengelola bangunan cagar budaya memperhatikan keamanan dari bangunannya, baik itu kebakaran, pencurian, juga bencana alam,” ujarnya pascakebakaran Museum Bahari, Rabu, 17 Januari 2018.

Setengah Hati Merawat Sejarah
4contents

SETENGAH HATI MERAWAT SEJARAH

Updated 02 Februari 2018 17:47
  1. Setengah Hati Merawat Sejarah
  2. Anggaran Kecil untuk Tugas Besar
  3. Kala Sejarah Dilalap Jago Merah
  4. Yang Alpa di Museum

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id