Sukaesih, 58, istri almarhum Rudi, saat berziarah di TPU Prumpung, Jakarta Timur, Minggu 28 April 2019. (M. Rodhi Aulia).
Sukaesih, 58, istri almarhum Rudi, saat berziarah di TPU Prumpung, Jakarta Timur, Minggu 28 April 2019. (M. Rodhi Aulia).

Kisah Pilu dalam Pemilu

Medcom Files Harga Sebuah Demokrasi
M Rodhi Aulia • 30 April 2019 18:55
Rudi Mulia Prabowo kebelet buang hajat. Rudi tak mau beranjak dari tempat pemungutan suara (TPS). Tak ada dalam pikirannya menanggalkan tanggung jawab.
 
Rudi selalu berada di TPS. Dari awal dibuka sampai benar-benar selesai. Tuntas. Dia tak mau ada kecurangan di TPS tempat dia bertugas.
 
Tapi, demi panggilan alam, dia pun lekas menuju ke kamar kecil. Rudi berat hati meninggalkan TPS walau sebentar. Khawatir terus. Dia tak ingin aktivitas penghitungan suara lepas dari pantauannya. Apalagi, penghitungan surat suara masih berlangsung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Meski begitu, Rudi tak hilang akal. Dia pun memanfaatkan fitur video call pada gawainya yang tersambung ke salah seorang rekan yang berada di TPS. Dengan begitu, Rudi bisa memantau aktivitas penghitungan suara secara langsung lewat layar ponselnya. Ya, selama beberapa menit di kamar kecil, Rudi tetap menonton suasana penghitungan suara di TPS 009, Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur.
 
Rudi memastikan gawai lawan bicaranya dapat memantau keadaan sekitar. Siapapun tak boleh menghalangi pandangannya. Termasuk putri semata wayangnya, Inez, yang kebetulan berada di lokasi penghitungan suara.
 
Rudi sempat marah ketika Inez coba mengganggu. Putri kesayangannya tak sengaja menghalangi pandangannya. Rudi pun naik darah. Menegur Inez.
 
Inez sontak bingung dengan tingkah ayahnya. Sebab Rudi dikenal sosok ayah yang kalem dan penyayang. Hampir tak pernah marah. Namun, saat penghitungan suara di TPS, Rudi benar-benar beda.
 
Inez semula tidak menyadari ada suara yang menegur dirinya. Ia sangat mengenal suara itu. Tapi tidak jelas dari mana. Ia celingak-celinguk. Kemudian ia mendapati wajah ayahnya dari layar telepon genggam yang ditaruh di atas salah satu meja TPS.
 
"Lebay woi," kata Inez menghardik ayahnya via Video Call.
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
Inez (kiri) anak almarhum Rudi di Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, Kamis 25 April 2019. (M. Rodhi Aulia).

 

Rudi bergeming. Mata dan telinganya tetap fokus mengawasi proses penghitungan suara. Meski matanya merah karena nyaris tak istirahat dan makan, beberapa hari sebelumnya.
 
Hari itu, Rudi menunjukkan sikap tak biasa. Rudi bukan sosok Ayah yang gampang marah. Dia tak pernah memarahi Inez. Bahkan, Rudi pernah membanting pintu kamar tidur dengan sangat keras. Ketika ia tahu putri semata wayangnya, sedang ditegur oleh Sukaesih. Ibu kandung Inez.
 
Padahal teguran Sukaesih itu sudah tepat. Sebagai ibu, ia tak rela Inez menyia-nyiakan makanan yang sudah terhidang di depan mata. Namun, Rudi tetap tak rela anaknya dibuat sedih. Rudi tak ingin putrinya dimarahi oleh siapapun.

Beban Psikis

Sebagai Ketua KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) dengan sejumlah anggota yang belum berpengalaman, membuat Rudi harus bekerja ekstra keras. Dari mulai mendirikan tenda, melaksanakan semua kewajiban administrasi sebelum dan selama hari H, serta merobohkan tenda karena mengganggu lalu lintas.
 
Rudi memang berpengalaman sebagai petugas KPPS di berbagai Pemilu sebelumnya. Tapi, sekadar anggota. Pun semula di Pemilu 2019.
 
Ia direkrut oleh pejabat RT (rukun tetangga) setempat sebagai anggota. Tapi sepulang rapat, ia ditunjuk sebagai Ketua KPPS di TPS 009, Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Tugas dan amanah yang tidak pernah dibayangkan Rudi. Tapi, Rudi sebagai pensiunan Satpam, menerimanya dengan tangan terbuka.
 
"Papa itu orangnya SOP (Standar Operasional Prosedur) banget. Dia bukan tipe orang yang suka membuat kebijakan," terang Inez saat berbincang dengan Medcom Files, Kamis 25 April 2019.
 
Berdasarkan hitungan Inez, ayahnya bekerja kurang lebih 50 jam. Dari sebelum hari H, hari H, dan pascahari H. Inez sempat menyesali inisiatifnya. Semula yang direkrut menjadi anggota KPPS adalah dirinya. Namun Inez menawarkan tugas itu kepada ayahnya. Hal itu karena ia masih memiliki seorang bayi perempuan. Satu-satunya cucu yang dimiliki Rudi.
 
"Kalau saya tahu jadi begini, mending saya yang kasih uang Rp530 ribu untuk papa. Honor Rp550 ribu dan dipotong pajak, Rp30 ribu yang durasi kerjanya begitu lama itu, sungguh tak rasional," kata dia.
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
 

Rudi di mata keluarga, bukanlah seorang yang doyan nongkrong. Kongko-kongko. Kesehariannya sejak pensiun pada 2016, lebih banyak dihabiskan di rumah.
 
Ia banyak menghabiskan hari-harinya merawat ibu kandungnya yang berusia 89 tahun. Rudi, satu-satunya anak, yang sigap pergi ke pasar untuk memenuhi segala kebutuhan ibunya. Seperti popok, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
 
Pun pascahari H Pemilu serentak 2019. Rudi masih setia merawat ibunya. Ia memindahkan ibunya dari ranjang ke kursi roda dan sebaliknya. Kendati ia juga merasakan fisiknya mulai melemah karena kelelahan bertugas di TPS.
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
Kartu Tanda Pengenal Petugas KPPS milik almarhum Rudi. (M. Rodhi Aulia).
 

Rudi juga tak ketinggalan memantau pemberitaan di media televisi. Ia sangat ingin tahu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang menang di Pemilu 2019. Pemberitaan miring terhadap dugaan kecurangan petugas KPU, tak luput dari perhatiannya. Seketika itu pula, Rudi terpukul. Ia tak bisa menerima begitu saja tuduhan yang tak berdasar.
 
Hatinya sakit. Pikiran dan perasaannya semakin terbebani lantaran tuduhan curang itu sangat masif di layar kaca. Rudi merasa sudah sangat berhati-hati. Misalnya ia rela mendekap kotak suara dengan kedua kakinya sambil terkantuk-kantuk.
 
Bahkan Rudi sempat membongkar kotak suara lantaran mengira ada selisih satu surat suara dengan jumlah yang tertera pada Daftar Pemilih Tetap (DPT). Padahal faktanya surat suaranya lengkap tak ada selisih. Saking lelahnya.
 
"Petugas KPU masih disalahkan saja. Padahal papa sudah mati-matian," ujar Rudi seperti yang disampaikan ulang oleh Inez.
 
Rudi mendengar masukan dari putrinya. Bahwa tudingan curang itu bukan diarahkan kepada dirinya seorang. Tapi Rudi tetap tidak bisa menerimanya.
 
Pada Pemilu sebelumnya, Rudi tak begitu terbebani menjalankan tugas sebagai petugas KPPS. Rudi sangat menikmati dan bersemangat dalam menjalankan tugasnya.
 
"Tapi Pemilu tahun ini malah melelahkan dan membebani. Papa sudah bekerja sangat keras. Cukup sampai di papa saja," harap Inez.
 
Kini sosok Rudi yang ulet itu tak lagi ada. Rudi mengembuskan napas terakhirnya pada Senin 22 April 2019 siang pada usia 56 tahun. Diduga karena kelelahan dan serangan jantung. Jenazah Rudi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Prumpung, Jatinegara, Jakarta Timur.
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
Sukaesih, 58, istri almarhum Rudi, saat berziarah di TPU Prumpung, Jakarta Timur, Minggu 28 April 2019. (M. Rodhi Aulia).
 

Sukaesih, 58, istri Rudi, merasa kaget dengan kepergian suaminya yang begitu cepat. Ia mengaku belum bisa berpisah dengan suaminya. Namun ia percaya akan takdir Illahi. Ia berharap suaminya dapat beristirahat dengan tenang di alam kubur.
 
"Saya berharap Pemilu ke depannya, pemerintah wajib pikirkan rakyat (petugas lapangan) yang jalanin tugasnya," ujar Sukaesih.
 
Tak hanya Rudi, kisah serupa juga dituturkan petugas KPPS lainnya. Iis Rosnawati, salah satu petugas KPPS di Majalengka, Jawa Barat, mengakui hal yang sama. Ia merasa beban petugas di lapangan sangat berat. Bahkan honornya tak sebanding dengan risikonya.
 
Namun Iis tetap menyimpan suatu kebanggaan. Di antaranya bisa turut andil dalam menyukseskan Pemilu serentak 2019.
 
"Mungkin andil kami tidak begitu besar dibanding dengan yang lainnya. Tapi kami tetap bangga untuk masa depan demokrasi Indonesia," katanya kepada Medcom Files.

Evaluasi

Sejumlah pemangku kebijakan berkumpul dalam Forum Ngopi Bareng Ombudsman pada Selasa 30 April 2019. Forum itu bertajuk "Penghormatan bagi Pahlawan Pelayanan Publik dalam Pemilu 2019.
 
Para pimpinan Ombudsman termasuk Ketuanya, Amzulian Rifai serta pegawainya kompak mengenakan pita hitam di lengan. Pita itu sebagai simbol simpati dan empati bagi petugas yang wafat. Tak hanya dari kalangan KPPS, tapi juga Panwaslu, Polri dan lain-lain yang terlibat langsung dalam Pemilu 2019.
 
Komisioner KPU Pramono Ubaid Tantowi yang hadir dalam forum itu sepakat Pemilu serentak ini perlu dievaluasi total. Apalagi hingga data Selasa pagi, 30 April 2019, tercatat 318 petugas KPPS yang wafat.
 
"Desain apapun Pemilu ke depan, harus mengurangi beban petugas (lapangan)," ujar Pramono.
 

Kisah Pilu dalam Pemilu
Forum ngopi bareng Ombudsman pada Selasa 30 April 2019. Forum itu bertajuk "Penghormatan bagi Pahlawan Pelayanan Publik dalam Pemilu 2019. (M. Rodhi Aulia).
 

Pramono memastikan santunan bagi korban yang wafat dan sakit akan segera dibagikan. Saat ini, KPU tengah merampungkan petunjuk teknis terkait pencairan santunan.
 
"Harus didetailkan. Data diverifikasi KPU kabupaten/kota. Soal pencairan, secara teknis apakah dihadirkan ramai-ramai ke KPU, atau diserahkan ke rumahnya masing-masing, itu sedang dikaji," beber dia.
 
Anggota Ombudsman Alvin Lie menuturkan, pihaknya turut serta memberi perhatian khusus kepada evaluasi Pemilu serentak 2019. Pihaknya pun telah menyambangi sejumlah rumah duka.
 
"Kita mencari apa yang kurang baik, bukan mencari siapa yang salah. Kami lebih ke pelayanan publik. Tidak merecoki Komnas HAM, KPU, Bawaslu, dll," beber dia.
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif