Ilustrasi: Medcom
Ilustrasi: Medcom

Gatekeeper, Kesayangan Para Pencuci Uang

Medcom Files Sang Gatekeeper
Wanda Indana • 02 April 2019 20:12
PAGI buta pria ini sudah terbangun dari tidurnya. Buru-buru menuju laptop yang masih menyala di atas meja kerja.
 
Layar laptopnya berisi angka-angka dengan setumpuk dokumen di sisi kanan dan kiri. Mukanya tegang. Matanya terus menatap tajam ke arah deretan digit transaksi perbankan. Sesekali melingkari angka-angka di secarik kertas.
 
Tiba-tiba dia memaki-maki dirinya sendiri. Seperti ada yang salah dengan pekerjaannya. Dengan sedikit kesal, dia kembali mencorat-coret sesuatu di kertas berbeda. Di selembar kertas itu ada berbagai skema pelarian uang yang diyakini tak terpantau aparat penegak hukum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Saat itu hari Rabu, sudah deadline. Laporan harus rampung untuk segera diserahkan ke klien. Diapun panik. “Masih ada loopholes (celah),” katanya gusar sembari memegang erat kepalanya.
 
Pria misterius yang berkutat dengan angka-angka tadi adalah seorang gatekeeper. Sebuah pekerjaan yang mendesain dan memastikan transaksi terbebas dari masalah hukum. Dia tak boleh membuat kesalahan. Sekali buat salah, nyawa bisa melayang.
 
Istilah gatekeeper awalnya muncul dalam pertemuan Menteri Keuangan G-8 di Moskow pada Oktober 1999. Sebutan itu merujuk pada profesional di bidang keuangan dan hukum dengan keahlian, pengetahuan, dan akses khusus kepada sistem keuangan global.
 
Gatekeeper memanfaatkan keahliannya untuk menyembunyikan hasil tindak pidana. Cara kerjanya, merancang transaksi bernilai miliaran hingga triliunan rupiah untuk kepentingan pencucian uang tanpa melanggar hukum.
 
Fulus sebanyak itu bersumber dari pejabat korup dan pengusaha hitam yang menjadi kliennya. Kepentingannya, untuk menyembunyikan dan menyamarkan harta hasil kejahatan. Bisa pula untuk penghindaran pajak.

Setelah ‘dicuci’ oleh gatekeeper, si klien bisa menikmati harta hasil kejahatan tanpa ketahuan asal-usulnya.


Profesi asli gatekeeper bisa advokat, akuntan, bankir, notaris dan PPAT, perencana keuangan, dan bisa pula konsultan pajak. Jika diperhatikan, profesi-profesi ini memang dibutuhkan dalam proses-proses Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
 
Merekalah orang di balik layar yang membantu penjahat kerah putih untuk melarikan aset dengan nilai yang sangat fantastis ke luar negeri.
 
Beberapa waktu lalu tim Medcom Files menemuinya di sebuah tempat yang kami rahasiakan. Kami bersepakat untuk menyembunyikan identitasnya dengan alasan keselamatan.
 
Pria ini ada di balik salah satu skandal di republik ini. Kasusnya diduga melibatkan sejumlah petinggi negara. Kasus korupsi itu belum tuntas, masih menyandera beberapa elit.
 
Untuk kepentingan penulisan artikel ini, kami menyebut pria misterius ini dengan panggilan; Johan. Nama samaran.

Di balik layar

Sederhana, itulah kesan yang muncul saat pertama kali bertemu Johan. Tak ada yang mencolok darinya. Tapi, dia ngelotok kalau berbicara soal pencucian uang.
 
Rupanya itu sudah menjadi ciri khas seorang gatekeeper. Mereka tipe orang yang menjauhi publikasi. Tak ada data diri Johan di internet. Mereka tak butuh ketenaran. Identitasnya sangat rahasia.
 
Pekerjaan Johan berisiko tinggi. Orang-orang besar di republik ini banyak yang memakai jasanya. Mulai dari pejabat, pengusaha, hingga mafia.
 
“Saya enggak perlu publikasi, ngapain? cari mati?” ucapnya.
 
Mereka tak pernah menawarkan jasa. Selalu klien yang pertama kali mencari dan menghubungi gatekeeper. Informasi jasa gatekeeper tersebar dari mulut ke mulut. Hanya kalangan terbatas yang tahu. Ini buat menghindari risiko jebakan.
 
“Biasanya yang tahu kontak gatekeeper orang-orang yang tidak sekali-dua kali melakukan pencucian uang,” ujarnya.
 
Pertemuannya dengan klien dilakukan di tempat-tempat khusus, seperti di clubhouse di dalam gedung perkantoran elite dengan sistem pengamanan berlapis. Tak sembarang orang bisa masuk ke sana.
 
“Di sana (menyebut nama gedung di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat), itu sangat restricted banget," kata Johan.
 

Gatekeeper, Kesayangan Para Pencuci Uang
Gatekeeper, Kesayangan Para Pencuci Uang
Gatekeeper, Kesayangan Para Pencuci Uang
 

Biasanya, pada pertemuan pertama klien tak langsung bicara soal memindahkan uang. Obrolan pertama yang diperbincangankan justru soal kehidupan pribadi gatekeeper. Pertanyaan umum yang ditanya klien seperti pengalaman, tempat tinggal, pekerjaan, keluarga, hingga tempat anak bersekolah.
 
Pertemuan kedua, klien juga belum mau membicarakan maksud sebenarnya. Klien akan menguji kemampuan gatekeeper dengan meminta pembuatan skema transaksi yang jumlah nominalnya kecil, masih di angka miliaran rupiah. Jika kerja gatekeeper dinilai bagus, pertemuan akan terus berlanjut.
 
“Jadi pelan-pelan, pertama kasih isu yang kecil dulu, ini tentang kepercayaan. Kalau uang terlacak akan mati. Karena uangnya bukan ratusan atau ribuan dolar, tapi jutaan dolar,” kata Johan membisik. Sejak saat itu, obrolan kami tambah serius.
 
Setelah tiga-empat kali pertemuan, tak ada basa-basi lagi. Klien datang dengan permintaan skema transaksi dengan nilai yang lebih fantastis. Klien selalu meminta transaksi dibikin aman dan harus cepat.
 
“Klien bilang ‘tolong kirim uang ini ke sini’, kita langsung tahu maksudnya apa,” beber Johan.
 
Jika sudah mendapat ‘sinyal’ dari klien, seorang gatekeeper baru bisa memulai memformulasikan skema transaksi. Mereka tak kerja sendiri, selalu ada tim yang diisi dari beberapa profesi yang berkaitan erat dengan TPPU seperti akuntan, bankir, konsultan pajak, pengacara, hingga notaris.
 
Johan memiliki pranala di beberapa bank, kantor hukum, hingga kantor notaris. Lembaga-lembaga ini ‘dimanfaatkan’ untuk membantu menyusun transaksi legal. Seorang gatekeeper wajib memiliki ‘orang dekat’ yang bisa diajak berkompromi.
 
“Mereka punya peran merancang sebuah transaksi yang transaksi itu ditujukan sebenarnya untuk penyelundupan hukum atau penghindaran pajak, macam-macam,” ujarnya.
 
Johan selalu membuat banyak skema transaksi. Masing-masing skema harus bebas dari masalah hukum. Kalaupun terdeteksi, transaksi itu tidak bisa diperkarakan. Sebab dia menciptakan transaksi yang kebal hukum alias legal.
 
“Semua transaksi yang kami rancang legal, bisa dipertanggungjawabkan di hadapan hukum,” jelas dia.

Bertaruh nyawa

Karena berisiko, imbalan yang diterima seorang gatekeeper bikin melongo. Tak ada tarif pasti, tapi biasanya seorang gatekeeper mendapatkan rata-rata satu persen dari jumlah uang yang harus disulapnya menjadi bersih. Ya, kita sedang bicara satu persen dari miliaran atau triliunan rupiah.
 
“Bisa langsung beli rumah, (mobil) Alphard, jalan-jalan ke Eropa sekeluarga, macam-macam. Makanya kita bekerja sangat detil,” ujar Johan.
 
Johan sendiri, pernah mendapat bayaran dengan nilai yang sangat besar dari kliennya pada 2011. Namun, dirinya tak bersedia mengungkapkan kasus apa yang dia tangani saat itu.

Meski menggiurkan, ada beberapa gatekeeper diduga tewas karena transaksinya bocor. Biasanya itu terjadi karena si gatekeeper bermain sendiri tanpa melibatkan tim. Alhasil banyak kebocoran dalam transaksi dan membahayakan kepentingan klien.


Johan bercerita, pada 2012, salah seorang teman dekatnya yang juga seorang gatekeeper berinisial R mendapat pesanan pengiriman uang Rp70 miliar. Uang itu mau dikirim ke seorang pejabat di salah satu daerah di Pulau Jawa. Duit itu berasal dari seorang mafia di Jakarta. Si R meminta Johan untuk membuat skema transaksinya.
 
Beberapa waktu kemudian, Johan sempat ditelepon R. Dia menanyakan keberadaan Johan. Johan pun kaget karena nada bicara temannya itu tersengal-sengal, seperti ada masalah. “Lu di mana? Gua dikejar-kejar nih,” kata Johan menirukan perkataan R. Saat itu, posisi Johan ada di Puncak, Bogor, Jawa Barat, ada acara.
 
“Nadanya ketakutan. Hari itu terakhir kita komunikasi. R sampai sekarang enggak tahu hilang di mana. Kemungkinannya hanya satu, dia melakukan transaksi tersebut sendirian sehingga transaksi tercium dan dia ketahuan. Kalau ketahuan apa? Mati,” tutur Johan.

Pekerjaan besar

Johan masuk ke dalam dunia pencucian uang sejak 2007. Kebetulan, pekerjaannya saat itu banyak berkaitan dengan transaksi-transaksi perbankan.
 
Suatu hari, salah seorang koleganya mengajak Johan dalam sebuah proyek besar. Proyek itu sempat menggemparkan khalayak. Lagi-lagi, Johan meminta kami agar tidak menuliskan nama kasusnya dalam cerita ini.
 
Singkatnya, pada proyek itu Johan bertugas membuat skema transaksi untuk kepentingan seorang klien agar asetnya bisa dipindahkan ke luar negeri. Duit yang yang dimaksud diduga uang negara yang dicuri oleh sang klien. Nilainya sangat besar.
 
Dibuatlah pertemuan antara pelaku dengan Johan beserta timnya, membahas skema dan skenario transaksi. Pada pertemuan itu disepakati jenis transaksi yang akan digunakan. Transaksi itu menggunakan produk perbankan yang diyakini bebas dari pantauan aparat penegak hukum. Namun Johan enggan merinci jenis yang dimaksud.
 
Di negara tujuan, duit bernilai fantastis itu dicuci kembali melalui beberapa instrumen investasi dan disebar ke berbagai negara suaka pajak. Sebagian uang kembali dikirim ke Indonesia. Duit itu mengalir ke salah seorang yang cukup berpengaruh.
 
“Memang disusun sangat rapi jadi orang enggak sadar,” kata Johan.
 
Misi Johan selesai. Namun, belakangan, kasusnya terbongkar. Lagi-lagi pelakunya tidak dapat ditangkap. Pula uang negara yang dirampasnya, masih nyangkut di luar negeri. Uang itu sudah sulit dilacak. Kalaupun berhasil dilacak, akan sulit ditarik ke dalam negeri.
 
Baca Juga: Peluh Jokowi Memulangkan Uang
 
Setelah kasus mulai mereda, rentang 2011-2012 Johan terbang ke negeri tempat dia melarikan uang itu. Dia mendatangi kantor unit intelijen keuangan di sana untuk mencari tahu informasi transaksi tersebut.
 
Johan bertanya kepada petugas anti-pencucian uang di sana. “Apakah Anda tahu tentang transaksi ini (transaksi pelaku)? Petugas menjawab, ini adalah transaksi legal, tidak ada masalah.”
 
“Lihat? Masalahnya adalah, penegak hukum kita tidak tahu transaksi yang saya pakai waktu itu adalah transaksi untuk menyembunyikan aset,” tekan dia.
 

Gatekeeper, Kesayangan Para Pencuci Uang
 

Bukan cuma soal uang

Bukan semata karena uang. Johan nekat masuk ke dunia gatekeeper didorong rasa penasaran. Dia tipe pria yang sangat tertarik memecahkan satu masalah yang kompleks dan strategis. Seperti bisa meloloskan satu transaksi ‘terlarang’ tanpa menimbulkan kecurigaan.
 
Johan atau umumnya seorang gatekeeper tertarik sesuatu yang detil dan spesifik. Sesuatu yang tak banyak diketahui orang lain. Selama menjadi gatekeeper, selalu ada hal baru yang dia dapat.
 
“Itu yang bikin saya happy, brain exercise. Banyak kejutan,” ucap Johan, mengangguk-angguk.
 
Johan tidak pernah bertanya asal-usul uang yang dia tangani. Masa bodoh, itu bukan urusannya. Dia hanya fokus menyelesaikan apa yang menjadi pekerjaannya. Ketika tuntas dia puas.
 
“Transaksi one-off (selesai), enggak ada hubungan komunikasi lagi antara klien dengan gatekeeper,” kata Johan.
 
Selain itu, bermain di dunia gatekeeper membuat Johan mengerti betapa lemahnya penegakan hukum terkait TPPU.

Jika diibaratkan balap mobil, kerja gatekeeper bagai mobil supercar. Sementara pemerintah menggunakan mobil biasa. Dalam aksi pelacakan aset, pemerintah akan selalu kesulitan mengejar kecepatan gatekeeper dalam menyembunyikan aset.


“Penegak hukum kita terikat pada apa yang mereka baca, norma, prosedur dan aturan. Jadi mereka hanya di-train (dilatih) untuk mengikuti apa yang mereka baca. Itu bukan salah mereka. Sistemnya yang membuat mereka menjadi seperti itu” tutur Johan.
 
Belum lagi urusan birokrasi, proses kerja sama, disposisi sana sini, semakin membuat penegak hukum lamban dalam melacak aset ke luar negeri. Sementara Johan hanya butuh waktu 5 menit untuk memindahkan uang antarnegara.
 
Pada sisi lain, sebagai warga negara, Johan ingin pemberantasan TPPU bisa lebih maksimal. Dia kecewa dengan cara kerja investigasi penegak hukum yang lamban dan tidak efektif dalam melacak transaksi-transaksi ilegal. Bekerja ketika ada laporan.
 
“Saya ingin beri sesuatu ke negara ini, karena saya pernah di sana. Been there, done that. Pengalaman yang pemerintah dan penegak hukum tidak pernah masuk ke dalam dunia itu. Kasarnya gini, lu (pemerintah) kan enggak pernah ke sana, sini gua ajarin,” ketus Johan geregetan.
 
Ya, Johan sudah meninggalkan dunia pencucian uang. Dia berharap suatu hari bisa membantu pemerintah mempercepat upaya penegakkan hukum terkait TPPU dan melacak aset-aset orang Indonesia di luar negeri.
 
Johan sudah lama keluar dari dunia gatekeeper. Kini, keahlian dan pengalaman masa lalunya dilirik oleh salah satu firma di Amerika Serikat di bidang investigasi tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Johan sendiri merupakan orang Indonesia ketiga yang masuk ke dalam tim ini sejak firma tersebut didirikan.
 
Kliennya perusahaan kelas dunia. Tugas dia memeriksa orang-orang tertentu dalam perusahaan dari sisi integritas, keuangan, hukum, rekam jejak di media, pengadilan dan pemerintahan. Dan, kurang dari 24 jam Johan berhasil menyelesaikan analisanya. Hal ini menggambarkan betapa cepatnya kerja seorang gatekeeper.
 
Pekerjaan ini ditekuni Johan sejak 2018. Hingga saat ini sudah lebih dari 50 kasus yang diselesaikannya dengan mulus. Sayangnya Johan enggan mengungkapkan kisaran pendapatannya dalam setiap kasus.
 
“Yang pasti besarannya cukup buat ongkang-ongkang kaki sebulan hidup di Jakarta,” katanya.
 
Dengan durasi kerja secepat tadi, lumrah bila Johan geregetan dengan pola penyelidikan dan analisa penegak hukum yang dianggapnya lamban.
 
“Sementara aparat kita harus menerjunkan beberapa tim, waktu, dan hasilnya saya enggak tau bagaimana. Tidak efektif dan efisien,” kata dia. “Datangkan praktisi. Bukan sekadar pakar yang tau teori belaka!”
 
Saat kami bertanya soal upaya pemerintah menjalin kerjasama timbal balik -- Mutual Legal Agreement (MLA) -- dengan Konfederasi Swiss, sejenak Johan terdiam.
 
Sebab, harapan kerjasama itu adalah memudahkan proses hukum bagi WNI yang terlibat masalah TPPU, juga mempermudah penelusuran dan penarikan aset-aset haram WNI yang berada di Swiss.
 
Dari diamnya, Johan tiba-tiba nyengir. Baginya, kerjasama MLA seperti menabur garam di laut.
 
“With all due respect, MLA is a good thing. Tapi itu di tataran formalitas. Karena dia sebenarnya tidak memberikan efek apapun bagi gatekeeper,” pungkas Johan, seolah dia tahu apa yang sebetulnya harus dilakukan pemerintah.

***


DIREKTUR Hukum Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Fithriadi Muslim, sempat membuka data terkait meningkatnya jumlah TPPU yang menggunakan jasa gatekeeper. Dia bilang, gatekeeper banyak berasal dari kalangan pengacara dan notaris. Profesi itu memang rentan disalahgunakan.
 
Dari laporan yang dihimpun sejak 2010 sampai 2013, ada 61 laporan keterlibatan gatekeeper dalam upaya pencucian uang. Peningkatan tertinggi terjadi pada 2012 (22 laporan) ke 2013 (10 laporan). Fithriadi mempertegas, lebih dari 80 persennya berasal dari uang hasil korupsi.
 
“Kita menemukan profesi tersebut disalahgunakan untuk menyembunyikan tindak pidana,” kata Fithriadi di Jakarta beberapa waktu lalu.
 
Harus diakui, profesi semacam advokat, notaris, bankir, dan lain-lain yang disalahgunakan tadi memiliki aturan kerahasiaan nasabah atau klien.
 
Tapi, bagi aktivis antikorupsi dari Indonesian Legal Rountable (ILR) Erwin Natosmal Oemar, penegak hukum sebenarnya bisa menembus batas-batas kerahasiaan profesi itu melalui pasal perbuatan menghalang-halangi proses penegakkan hukum (obstruction of justice). Sebab sejumlah profesi tersebut akan menutup-nutupi kejahatan korupsi.
 
Pasal obstruction of justice yang dimaksud adalah Pasal 21 Undang-Undang 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
“Atas dalih profesionalisme, profesi-profesi itu menggunakan keahliannya untuk menyembunyikan kejahatan,” pungkas Erwin.
 


 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif