PM Israel Benjamin Netanyahu klaim dapat izin Amerika Serikat untuk caplok Tepi Barat. Foto: AFP
PM Israel Benjamin Netanyahu klaim dapat izin Amerika Serikat untuk caplok Tepi Barat. Foto: AFP

PM Israel Paksa Palestina Patuhi Kontrol Keamanan

Internasional palestina israel
Fajar Nugraha • 29 Mei 2020 13:06
Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membahas seluk beluk rencana pemerintah untuk mencaplok bagian-bagian Tepi Barat. Netanyahu minta Palestina menyetujui kontrol keamanan Israel.
 
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan surat kabar Israel, Israel Hayom, Netanyahu mengatakan bahwa hanya akan ada negara Palestina jika Palestina menyetujui kontrol keamanan Israel.
 
“Warga Palestina di daerah yang dicaplok tidak akan menerima kewarganegaraan Israel,” ujar Netanyahu, kepada Israel Hayom, seperti dikutip Al-Monitor, Jumat, 29 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Mereka perlu mengakui bahwa kita mengendalikan keamanan di semua bidang. Jika mereka menyetujui semua ini, maka mereka akan memiliki entitas mereka sendiri yang didefinisikan oleh Presiden (Donald) Trump sebagai negara,” ucap Netanyahu.
 
Wawancara ini menawarkan sekilas ke dalam rencana aneksasi pemerintah bersama yang baru dibentuk Netanyahu bersama Benny Gantz. Rencana aneksasi itu akan ditandatangani oleh Knesset (Parlemen Israel) pada Juli menjelang pemilihan presiden AS.
 
Israel bermaksud untuk memperluas kedaulatan atas pemukiman Yahudi di Tepi Barat, yang secara internasional diakui sebagai wilayah Palestina. Langkah ini memicu perlawanan yang signifikan dari komunitas internasional dan Palestina, yang menginginkan daerah itu menjadi bagian dari negara Palestina yang merdeka di masa depan dan menganggap Israel sebagai kekuatan pendudukan di sana.
 
Beberapa pemukim Yahudi dan kaum nasionalis garis keras Israel juga telah menyuarakan keprihatinan atas rencana itu, mengatakan itu menyiratkan bahwa nonaneksasi daerah Tepi Barat lainnya akan mengarah ke Palestina yang merdeka. Netanyahu mencela kritik kanan dalam wawancara, menunjuk dukungan AS untuk aneksasi Israel atas Dataran Tinggi Golan, agar Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel dan sekarang aneksasi Tepi Barat.
 
“Apakah mereka memberikan prospek kedaulatan dari Amerika? Siapa yang mengirimnya? Untuk pertama kalinya sejak berdirinya negara, saya berhasil mendapatkan pengakuan Amerika,” katanya.
 
Netanyahu mengatakan bahwa perundingan tentang negara Palestina hanya akan berlanjut dalam kondisi tertentu. “Kondisi itu adalah kedaulatan Israel di sebelah barat Sungai Yordan, melestarikan Yerusalem yang bersatu, menolak menerima pengungsi (Palestina), tidak mencabut komunitas Yahudi, dan kedaulatan Israel dalam petak besar Yudea dan Samaria,” ucap Netanyahu.
 
PM Netanyahu juga mengatakan bahwa Palestina di daerah yang dicaplok tidak akan menjadi warga negara Israel.
 
"Tidak. Mereka akan tetap menjadi daerah kantong Palestina. Mereka akan tetap menjadi subyek Palestina jika Anda mau. Tetapi kontrol keamanan juga berlaku untuk tempat-tempat ini,” tegasnya.
 
Tepi Barat adalah rumah bagi sekitar tiga juta orang. Mereka kebanyakan adalah warga Palestina yang tidak memiliki kewarganegaraan Israel. Daerah tersebut saat ini dibagi menjadi daerah-daerah yang dikendalikan langsung oleh militer Israel dan bagian-bagian di bawah kendali Otoritas Palestina (PA).
 
Rencana aneksasi tersebut bertepatan dengan meningkatnya dukungan di antara warga Israel dan Palestina untuk solusi satu negara untuk konflik, yang bertentangan dengan dua negara. Namun, visi Israel dan Palestina untuk sebuah negara akan sangat beragam, termasuk mengenai masalah kewarganegaraan dan hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina yang tinggal di negara-negara tetangga Israel.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif