Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kecam pembunuhan ilmuwan Iran. Foto: Yeni Safak
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kecam pembunuhan ilmuwan Iran. Foto: Yeni Safak

Erdogan: Pembunuhan Ilmuwan Iran Ancam Perdamaian Kawasan

Internasional konflik armenia-azerbaijan Recep Tayyip Erdogan Mohsen Fakhrizadeh Hassan Rouhani
Fajar Nugraha • 04 Desember 2020 16:21
Ankara: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan sambungan telepon dengan Presiden Iran Hassan Rouhani. Pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh jadi isu percakapan.
 
“Pembunuhan ilmuwan Iran Mohsen Fakhrizadeh menargetkan perdamaian kawasan. Tetapi mereka yang menargetkan stabilitas kawasan akan gagal,” ucap Presiden Erdogan, yang disuarakan oleh Direktorat Komunikasi Turki, seperti dikutip kantor berita Yeni Safak, Jumat 4 Desember 2020.
 
“Mengekspresikan kesedihan yang mendalam atas kehilangan Fakhrizadeh, Pemerintah Turki menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran dan keluarga ilmuwan,” imbuh pernyataan itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fakhrizadeh dibunuh oleh pria bersenjata tak dikenal di pinggiran ibu kota Teheran pada 30 November. Kematiannya menjadi ilmuwan nuklir Iran kelima yang dibunuh sejak 2010.
 
Selama panggilan telepon dengan Presiden Hassan Rouhani, Erdogan juga membahas masalah Upper Karabakh saat ia menyebutkan "periode baru" di kawasan itu. Erdogan juga menekankan pentingnya hati-hati menghindari tindakan apa pun yang dapat menutupi integritas teritorial dan kedaulatan Azerbaijan.
 
“Perdamaian dan stabilitas di Upper Karabakh akan memberikan peluang baru, yang akan menguntungkan negara-negara di kawasan, termasuk Armenia,” tambah Erdogan.
 
Baca: Azerbaijan Sebut 2.783 Tentaranya Tewas di Nagorno-Karabakh.
 
Kedua pemimpin juga membahas langkah-langkah untuk meningkatkan hubungan bilateral, serta masalah regional.
 
Hubungan antara bekas republik Soviet telah tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh yang juga dikenal sebagai Upper Karabakh. Wilayah ini diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan.
 
Ketika bentrokan baru meletus pada 27 September, tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan serta melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
 
Selama konflik, Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan Armenia.
 
Kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia pada 10 November untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif.
 
Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan Azerbaijan dan kekalahan Armenia, yang angkatan bersenjatanya telah ditarik sesuai dengan kesepakatan.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif