Pemberontak Houthi menuduh kapal Rwabee membawa peralatan militer. (AFP/Al-Huthi Group Media Office)
Pemberontak Houthi menuduh kapal Rwabee membawa peralatan militer. (AFP/Al-Huthi Group Media Office)

DK PBB Desak Houthi Bebaskan Kapal Berbendera UEA

Internasional konflik yaman wni Pemberontak Houthi Yaman perlindungan wni ABK WNI DK PBB
Willy Haryono • 15 Januari 2022 08:03
New York: Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengecam penahanan sebuah kapal berbendera Uni Emirat Arab (UEA) yang dilakukan pemberontak Houthi di Yaman. DK PBB pun mendesak Houthi untuk segera membebaskan kapal tersebut beserta seluruh krunya.
 
Dari semua kru di kapal tersebut, salah satunya adalah anak buah kapal warga negara Indonesia (ABK WNI).
 
Baca:  Pemilik Kapal Didesak Tanggung Jawab Bebaskan WNI yang Ditahan Houthi

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semua pihak harus segera menyelesaikan isu ini dengan menggarisbawahi pentingnya kebebasan bernavigasi di Teluk Aden dan Laut Merah sesuai hukum internasional," ungkap pernyataan resmi DK PBB, dikutip dari The New Arab, Jumat, 14 Januari 2022.
 
Penahanan kapal Rwabee oleh Houthi pada 3 Januari lalu bertepatan dengan peringatan dua tahun kematian jenderal Iran Qaasem Soleimani yang dibunuh di Irak pada 2020. Selama ini, Iran diyakini sebagai negara pendukung gerakan Houthi di Yaman.
 
Houthi mengaku menahan kapal Rwabee di lepas pantai Hodeida, pelabuhan terbesar di Yaman, karena mencurigainya membawa peralatan militer. DK PBB mengecam langkah tersebut.
 
"Menggarisbawahi pentingnya memastikan keselamatan kru hingga mereka semua dibebaskan," sebut DK PBB.
 
Kamis kemarin, misi PBB yang memonitor implementasi gencatan senjata dan penarikan pasukan rival dari Hodeida dan dua pelabuhan lainnya di Salif dan Ras Issa, menuliskan via Twitter bahwa personel mereka melihat kapal Rwabee di kejauhan. Misi tersebut tidak memberikan detail lebih lanjut.
 
Penahanan Rwabee menandai aktivitas terbaru Houthi di Laut Merah, sebuah rute krusial bagi perdagangan internasional.
 
Yaman dilanda perang sipil sejak 2014, di saat Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara di negara tersebut. Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke wilayah selatan, kemudian ke Arab Saudi hingga saat ini.
 
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengintervensi konflik Yaman pada 2015, berusaha membantu memulihkan pemerintahan Hadi.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif