NEWSTICKER
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif. (Foto: AFP
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif. (Foto: AFP

Iran Sebut Sanksi AS Hambat Upaya Penanganan Covid-19

Internasional Virus Korona Coronavirus virus corona covid-19 Berita Virus Corona Hari Ini
Marcheilla Ariesta • 23 Maret 2020 15:20
Jakarta: Iran menjadi salah satu negara dengan kasus infeksi virus korona (covid-19) tertinggi di dunia setelah Tiongkok dan Italia. Namun, akibat sanksi ekonomi yang dikeluarkan AS untuk Iran, negara itu kesulitan menerima bantuan internasional dalam menghadapi pandemi.
 
"Terorisme ekonomi AS telah menghambat usaha menjadikan Iran sebagai negara yang membutuhkan bantuan internasional," kata Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam pernyataan yang diterima Medcom.id, Senin 23 Maret 2020.
 
Iran berharap negara-negara di dunia dapat menyesuaikan tindakan mereka di bidang perdagangan, kesehatan dan protokol internasional sesuai dengan imbauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak 8 Mei 2018, Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir (JCPOA) dengan Iran. AS juga menjatuhkan sanksi sepihak terhadap ekonomi, investasi, industri minyak, petrokimia, perusahaan asuransi, dan berbagai individu serta perusahaan yang berhubungan dengan Iran.
 
"Saat ini sanksi sepihak dan ilegal AS kepada kami adalah ancaman bagi kesehatan internasional," kata Kedubes Iran.
 
"Rakyat dan pemerintah Iran terus bekerja keras untuk memerangi covid-19, tetapi sanksi AS menghambat upaya mereka," imbuhnya.
 
Teheran mengatakan sanksi dan tekanan AS kepada mereka telah membuat pendapatan dari sektor industri minyak menurun. Ini menyebabkan biaya penanggulangan covid-19 menjadi semakin tinggi.
 
Selain itu, Iran juga menuding AS telah menakut-nakuti berbagai negara dan perusahaan di dunia untuk tidak menjual obat-obatan dan fasilitas medis kepada mereka. Mengambil saran dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk menyatakan perang terhadap covid-19 dengan meningkatkan bekerja sama antarnegara, maka Iran meminta AS untuk mencabut sanksi ekonomi.
 
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB 12 Maret lalu, menyampaikan pentingnya mencabut sanksi sepihak AS terhadap Iran.
 
"Meskipun Iran memiliki kemampuan ilmiah untuk memerangi covid-19, tapi sanksi dan prasyarat AS untuk mencegah penjualan obat-obatan dan peralatan medis menyebabkan upaya memerangi virus korona di Iran menghadapi kendala yang sangat serius," kata Javad dalam suratnya.
 
Karenanya, Iran berharap komunitas internasional tidak berdiam diri dan membiarkan AS melanjutkan sanksi ekonomi yang dianggap mereka sebagai tindakan terorisme.
 
"Iran percaya bahwa mengalahkan covid-19 adalah tanggung jawab internasional. Kini, tiba waktunya bagi komunitas internasional untuk menghadapi sikap arogansi anti-hukum dan anti-kemanusiaan AS, dan tidak membiarkan sanksi kejam AS terhadap Iran memengaruhi upaya menghadapi virus mematikan ini," lanjut mereka.
 
Sementara itu, Iran berterima kasih kepada negara-negara yang sudah mengirim paket bantuan untuk melawan wabah covid-19. "Pemerintah dan rakyat Iran tidak akan pernah melupakan sahabat pada kondisi sulit seperti ini," sambung mereka.
 
Hingga hari ini, Senin 23 Maret 2020, jumlah warga Iran yang terjangkit virus korona mencapai 21.638 kasus. Sebanyak 7.913 orang di antaranya telah sembuh, dan 1.685 meninggal dunia.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif