Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu gagal bentuk pemerintahan baru. Foto: AFP
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu gagal bentuk pemerintahan baru. Foto: AFP

PM Israel Gagal Bentuk Pemerintahan Baru, Perpanjang Kebuntuan Politik

Internasional Israel pemilu israel Benjamin Netanyahu
Yogi Bayu Aji • 05 Mei 2021 05:25
Tel Aviv: Batas waktu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk membentuk pemerintahan baru Israel berakhir Rabu 5 April 2021 pagi waktu setempat. Perdana menteri terlama di Negara Yahudi itu gagal memecahkan lebih dari dua tahun kebuntuan politik.
 
Juga tidak ada jaminan bahwa, setelah petahana konservatif tidak dapat membentuk koalisi baru, partai-partai di luar pemerintahan sementara dapat menjembatani perbedaan mereka dan menggulingkannya.
 
Netanyahu, telah menjabat Perdana Menteri Israel sejak 2009 dan juga menjabat selama tiga tahun pada 1990-an. Dia telah berjuang untuk memegang kendali melalui empat pemilihan yang tidak meyakinkan sejak 2019 dan diadili atas tuduhan korupsi yang terus dia bantah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seperti dikutip AFP, Rabu 5 Mei 2021, dengan telah lewatnya tenggat waktu tengah malam, Presiden Reuven Rivlin dapat menugaskan tugas pembangunan koalisi kepada anggota parlemen lainnya. Secara luas pembentukan pemerintahan ini diharapkan adalah Yair Lapid.
 
Partai sentris Yesh Atid yang dipimpin Lapid, menempati posisi kedua setelah Partai Likud pimpinanNetanyahu dalam pemungutan suara 23 Maret lalu.
 
Blok Netanyahu yang terdiri dari partai-partai sayap kanan dan agama Yahudi gagal memenangkan mayoritas. Tetapi begitu pula sebuah kubu yang bertujuan untuk menggulingkannya, yang harus menyertakan saingan sayap kanannya serta lawan sayap kiri dan sentris tradisional.
 
Kedua belah pihak telah meminta dukungan dari partai-partai yang mewakili sekitar 20 persen minoritas Arab Israel, yang berpotensi memberi mereka suara atas Kabinet untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
 
Naftali Bennett, pimpinan partai ultranasionalis, Yamina telah muncul sebagai seorang raja. Politikus berusia 49 tahun itu, telah menyuarakan preferensi untuk bergabung dengan Netanyahu tetapi mengatakan dia akan mencari kemitraan dengan lawan perdana menteri untuk menghindari pemilihan kelima ketika Israel membuka kembali ekonominya setelah peluncuran vaksinasi covid-19 yang cepat dan bergulat dengan tantangan program nuklir Iran.
 
Kesepakatan rotasi di mana Bennett dan Lapid akan bergantian sebagai perdana menteri juga telah diperdebatkan secara luas.
 
Sebagian besar kebuntuan berasal dari masalah hukum Netanyahu. Beberapa calon sekutu telah berjanji mereka tidak akan mendukung pemerintahan di bawah perdana menteri yang sedang diadili.
 
Jika calon baru yang dipilih oleh Rivlin gagal membentuk koalisi dalam 28 hari, presiden dapat meminta parlemen untuk menyetujui calon dalam waktu tiga minggu. Jika tidak bisa, Israel akan menggelar pemilu lagi.
 
"Kami 60 persen menuju pemilihan baru dan 40 persenmenuju pemerintahan baru," pungkas Yoav Krakovsky, koresponden urusan politik radio publik Kan, meramalkan dalam siaran pagi.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif