Sekelompok pemuda pendukung gerakan Fatah menggelar sebuah aksi solidaritas di kota Nablus, 4 Januari 2022. (JAAFAR ASHTIYEH / AFP)
Sekelompok pemuda pendukung gerakan Fatah menggelar sebuah aksi solidaritas di kota Nablus, 4 Januari 2022. (JAAFAR ASHTIYEH / AFP)

Petinggi Fatah Sebut Biden Tak Jauh Berbeda dari Trump

Internasional Amerika Serikat Palestina israel palestina Israel joe biden donald trump
Willy Haryono • 26 Januari 2022 15:33
Ramallah: Seorang petinggi kelompok Fatah mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat Joe Biden atas isu Palestina, yang disebutnya "tidak jauh berbeda" dari pemerintahan sebelumnya di bawah Donald Trump.
 
Sabri Saidam, anggota Komite Sentral Fatah, menuding Joe Biden telah "menyerah" kepada langkah-langkah "penindasan" yang dilakukan Israel terhadap masyarakat Palestina.
 
"Kepemimpinan Palestina menginginkan tindakan nyata, bukan kata-kata saja, dari pemerintahan Biden," ucap Saidam kepada kantor berita Anadolu Agency dan dilansir Yeni Safak, Rabu, 26 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyebut Palestina memandang pemerintahan Biden sebagai "generasi kedua" dari "Perjanjian Abad Ini," merujuk pada proposal perdamaian yang diajukan Trump untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Palestina menolak keras proposal tersebut.
 
Saidam mengatakan, Washington di bawah Biden hanya menawarkan "lip service" tanpa adanya perubahan konkret dalam hal kebijakan, dengan pengecualian soal kembalinya dukungan finansial terhadap Agensi PBB untuk Pengungsi Palestina atau UNRWA.
 
US adalah donor terbesar UNRWA, namun pendanaannya dipangkas Donald Trump di tahun 2018. Biden memulihkan pendanaan tersebut tahun lalu.
 
UNRWA menyokong kehidupan ribuan Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Bantuan diberikan dalam bentuk kegiatan sekolah, layanan kesehatan dan ketahanan pangan.
 
"Ada hal positif secara verbal dalam hubungan kami dengan AS," tutur Saidam. "Tapi apa yang kita lihat sejauh ini hanya kata-kata, tapi hasilnya nol," sambung dia.
 
Menurut Saidam, apa yang paling diminta Palestina adalah meluncurkan kembali proses perdamaian dengan Israel dengan berbasis pada Solusi Dua Negara (Two-State Solution).
 
Dialog damai antara Palestina dan Israel berakhir di tahun 2014 karena Tel Aviv menolak membebaskan sejumlah narapidana. Israel juga menolak menghentikan proyek permukiman ilegal di tanah Palestina.
 
Saidam mengatakan, Biden memang mendukung kelanjutan dialog damai Israel-Palestina, tapi sejauh ini belum ada langkah-langkah praktis dan nyata.
 
Baca:  Biden Janji Bantu Bangun Kembali Gaza
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif