Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Seorang Imam di Arab Saudi Lolos dari Tuduhan Pelecehan Seksual Terhadap ART

Internasional pelecehan seksual arab saudi
Fajar Nugraha • 13 Januari 2022 10:25
Makkah: Seorang imam masjid di Arab Saudi dituduh melecehkan seorang asisten rumah tangganya (ART). Namun, pengadilan di wilayah Makkah mengeluarkan putusan yang membebaskan imam masjid itu dari tuduhan melecehkan secara seksual.
 
“Pengadilan menolak kasus tersebut dengan alasan bahwa penggugat gagal membuktikan tuduhan dengan bukti yang cukup. Pengadilan Tinggi akhirnya menguatkan putusan tersebut dan memberikan persetujuan akhir,” menurut putusan tersebut, yang salinannya dapat dilihat oleh Okaz/Saudi Gazette, Kamis 13 Januari 2022.
 
Jaksa Penuntut Umum merujuk kasus tersebut ke pengadilan setelah melakukan penyelidikan atas pengaduan pelecehan yang diajukan terhadap imam masjid, yang merupakan warga negara Saudi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam putusan bersejarah, pengadilan Arab Saudi baru-baru ini menghukum seorang pria yang dihukum karena pelecehan seksual dengan menyebut nama dan mempermalukan di depan umum. Dia juga menerima hukuman penjara dan denda.
 
Pengadilan Kriminal di Madinah menghukum Yasser Muslim Al-Arawi delapan bulan penjara dan denda sebesar 5.000 Riyal Arab Saudi atau sekitar Rp19 juta karena melecehkan seorang wanita dengan menggunakan kata-kata cabul.
 
Ini adalah vonis pertama yang dikeluarkan oleh pengadilan Saudi untuk menyebut dan mempermalukan pelaku dalam kasus pelecehan seksual, khususnya setelah Dewan Menteri menyetujui undang-undang yang menyerukan pengungkapan secara terbuka identitas individu yang dinyatakan bersalah melakukan pelecehan seksual.
 
Pada Januari 2021, Dewan Menteri menambahkan paragraf baru pada Pasal 6 Undang-Undang Anti Pelecehan Kerajaan, yang menyatakan bahwa putusan dalam kasus pelecehan seksual akan dirangkum di surat kabar lokal dengan mengorbankan terpidana.
 
Opini muncul dari seorang pengacara, Saleh Al-Ghamdi, mantan anggota Jaksa Penuntut Umum mengatakan, bahwa UU Anti Pelecehan, yang disahkan pada Mei 2018, terdiri dari tujuh pasal, dan Pasal 6 diubah dengan menambahkan ayat 3 sesuai dengan keputusan kerajaan yang dikeluarkan pada Januari 2021.
 
Amandemen itu berbunyi sebagai berikut: “Diizinkan untuk memasukkan hukuman yang dikeluarkan untuk menentukan hukuman yang dimaksud dalam pasal ini dan untuk menerbitkan ringkasannya atas biaya orang yang dihukum di satu atau lebih surat kabar lokal, atau dengan cara lain yang sesuai, menurut dengan beratnya kejahatan dan dampaknya terhadap masyarakat, dan ini akan terjadi setelah dikeluarkannya putusan akhir dalam kasus ini.”
 
Amandemen mencatat bahwa teks Ayat 1 Pasal 6 menetapkan bahwa siapa pun yang melakukan kejahatan pelecehan akan dihukum penjara untuk jangka waktu tidak lebih dari dua tahun dan denda tidak melebihi 100.000 Riyal Saudi (sekitar Rp381,7 juta) atau salah satu dari dua hukuman ini. Hukuman tersebut akan berlaku untuk narapidana pria dan wanita.
 
Sementara di pihak Al-Arawi, kuasa hukumnya, Kholoud Al-Ahmadi mengatakan, bahwa Pasal 1 UU tersebut mendefinisikan tindak pidana pelecehan sebagai setiap pernyataan, tindakan atau tanda yang berkonotasi seksual dari bagian seseorang terhadap orang lain dan itu melalui sentuhan tubuh atau kehormatan.  Termasuk juga melanggar kesopanan, dengan cara apa pun, termasuk melalui berbagai sarana teknologi modern.
 
“Pengadilan pidana bertanggung jawab untuk mengeluarkan hukuman atas kejahatan pelecehan setelah merujuk kasus tersebut oleh Penuntut Umum,” pungkasnya.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif