Ilustrasi Turki/AFP
Ilustrasi Turki/AFP

Badan Pengawas Keuangan Global Memasukkan Turki ke Daftar Abu-abu

Internasional politik turki turki Investasi Asing
M Sholahadhin Azhar • 23 Oktober 2021 02:50
Ankara: Badan pengawas keuangan global, Financial Action Task Force (FATF), memasukkan Turki ke daftar abu-abu. Turki dinilai karena gagal memerangi pendanaan teroris dan pencucian uang.
 
Status ini dinilai akan berdampak serius dan dapat mengikis investasi asing di Turki. Selain Turki, badan bentukan negara-negara G7 itu juga memasukkan Mali dan Yordania dalam kategori serupa. Sedangkan, Botswana dan Mauritius masuk dalam 23 negara yang dikeluarkan dari daftar tersebut karena telah melakukan perbaikan.
 
Turki menjadi negara paling besar yang masuk daftar abu-abu. Presiden FATF Marcus Pleyer menyebut Turki mesti menunjukkan itikad baik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Turki perlu menunjukkan itikat baik bahwa mereka secara efektif menangani kasus pencucian uang yang kompleks, dan juga melakukan penuntutan atas sumber pendanaan kepada teroris ... dan memprioritaskan kasus organisasi teroris yang dilarang PBB seperti ISIL dan al Qaeda," kata Marcus dikutip dari Reuters, Sabtu, 23 Oktober 2021.
 
Baca: Erdogan Bakal Ganti Konstitusi Turki Jadi Lebih Demokratis
 
Selain memengaruhi investor, status daftar abu-abu juga berdampak pada hubungan Turki dan bank asing. Kemudian, membebani nilai tukar mata uang Turki. 
 
Pada 2019, FATF memperingatkan Turki tentang "kekurangan serius" termasuk perlunya meningkatkan langkah-langkah untuk membekukan aset yang terkait dengan terorisme dan proliferasi senjata pemusnah massal.
 
Negara-negara daftar abu-abu FATF lainnya termasuk Pakistan, Maroko, Albania dan Yaman. Penelitian Dana Moneter Internasional tahun ini menemukan bahwa daftar abu-abu mengurangi aliran masuk modal sekitar 7,6% dari produk domestik bruto (PDB), sementara investasi langsung asing (FDI) dan aliran portofolio juga terpukul.
 
Di sisi lain, Investor asing telah meninggalkan Turki dalam beberapa tahun terakhir. Mereka melihat ada campur tangan politik dalam kebijakan moneter, inflasi dua digit, dan cadangan mata uang asing resmi yang rendah.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif