Presiden interim Mali Assimi Goita (mengangkat tangan) usai percobaan penikaman. Foto: AFP
Presiden interim Mali Assimi Goita (mengangkat tangan) usai percobaan penikaman. Foto: AFP

Kengerian Penikaman Presiden Mali Usai Salat Iduladha

Internasional Idul Adha konflik mali penikaman
Marcheilla Ariesta • 21 Juli 2021 16:57
Bamako: Presiden interim Mali, Assimi Goita menjadi sasaran penikaman usai melakukan salat Iduladha di Masjid Besar Bamako. Saat ini, sang presiden dinyatakan dalam keadaan baik.
 
"Penyerang sudah ditangkap pihak keamanan. Investigasi saat ini tengah berlangsung," ucap kantor kepresidenan dalam unggahan di Twitter, Selasa, 20 Juli 2021.
 
Presiden sementara itu dibawa pergi usai penusukan terjadi. Namun, pada Selasa malam, Goita mengumumkan dirinya baik-baik saja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini (risiko) menjadi seorang pemimpin. Selalu ada ketidakpuasan," ucapnya dalam sebuah pernyataan di saluran televisi pemerintah, ORTM.
 
"Ada orang yang ingin mengganggu kestabilan di negara ini," imbuh Goita, dikutip dari Al Jazeera.
 
Serangan itu terjadi ketika seorang imam mengarahkan jamaah di luar masjid untuk mengikuti ritual kurban hewan. Laporan menyebutkan, pelaku berpura-pura menjadi pengantar kurban ke masjid.
 
"Ketika Goita lewat, penyerang menerjangnya," tutur responden Al Jazeera di Nigeria.
 
Pada Agustus 2020, Goita memimpin kudeta militer yang menggulingkan Presiden Ibrahim Boubacar Keita. Pada akhir Mei lalu, Goita yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden Mali di pemerintahan transisi, menjadi presiden hingga Februari 2022.
 
Ia menuding Presiden sementara kala itu, Bah Ndaw dan Perdana Menteri Moctar Ouane gagal berkonsultasi dengannya mengenai perombakan kabinet.
 
Ketidakstabilan politik di Mali terjadi sejak 2012, ketika tentara pemberontak menggulingkan presiden yang sudah memimpin selama satu dekade. Kekosongan kekuasaan menyebabkan para pemberontak menguasai kota-kota di negara itu, termasuk Timbuktu dan Gao.
 
Sebuah perjanjian damai ditandatangani pada 2015 silam oleh tiga pihak – pemerintah, koalisi kelompok-kelompok yang mencari otonomi di Mali utara dan milisi pro-pemerintah. Namun, para pemberontak dengan cepat berkumpul kembali dan melancarkan serangan ke tentara Mali dan sekutunya.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif