Aksi protes berlangsung di dekat kediaman PM Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem, 29 Agustus 2020. (Foto: Emmanuel Dunand/AFP)
Aksi protes berlangsung di dekat kediaman PM Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem, 29 Agustus 2020. (Foto: Emmanuel Dunand/AFP)

Aksi Protes Mengecam Netanyahu Masuki Pekan ke-11

Internasional israel Benjamin Netanyahu
Willy Haryono • 30 Agustus 2020 12:34
Yerusalem: Puluhan ribu orang kembali berunjuk rasa di Yerusalem dalam mendesak mundur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Demonstran geram karena PM Netanyahu terjerat dugaan korupsi dan juga tidak kompeten dalam menangani krisis virus korona (covid-19).
 
Media lokal melaporkan, sekitar 20 ribu orang ikut serta dalam aksi protes di Yerusalem pada Sabtu 20 Agustus. Namun pihak penyelenggara mengklaim angkanya mencapai 37 ribu, yang diklaim dapat dipantau dari jumlah gelang yang habis dibagikan ke semua pengunjuk rasa.
 
Dilansir dari Al Jazeera, Minggu 30 Agustus 2020, rangkaian foto di media sosial dan kantor berita memperlihatkan sejumlah pedemo diseret dan digiring polisi di dekat kediaman PM Netanyahu di Yerusalem. Unjuk rasa berujung bentrok dalam menuntut mundur PM Netanyahu ini telah memasuki pekan ke-11.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aksi protes berskala lebih kecil juga terjadi di sejumlah wilayah Israel, termasuk di luar rumah pribadi PM Netanyahu di kota Caesaria.
 
Dalam demonstrasi utama di Yerusalem, para pedemo berkumpul di pintu masuk kota tersebut dan bergerak bersama-sama menuju kediaman PM Netanyahu. Banyak dari mereka membawa bendera Israel dan juga bendera hitam sebagai simbol dari gerakan protes.
 
"Sudahi perpecahan saat ini! dan "Ini bukan politik, ini kejahatan" merupakan dua dari beberapa tulisan yang tertulis di spanduk para demonstran.
 
Koalisi PM Netanyahu berhasil bertahan dari keruntuhan pekan ini usai menyepakati perjanjian dengan "PM alternatif" Benny Gantz. Keduanya sepakat untuk menunda pemungutan suara mengenai anggaran negara hingga Desember mendatang.
 
Jika kedua tokoh tersebut tidak menyepakati penundaan, maka pemerintahan Israel akan runtuh sehingga pemilihan umum harus kembali digelar -- yang akan menjadi kali keempat dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
 
Penanganan PM Netanyahu terhadap krisis covid-19 memicu gelombang protes. Usai mengendalikan penyebaran covid-19 di fase pertama pada musim semi, Israel dinilai terlalu cepat dalam membuka kembali perekonomian di bulan Mei, yang berujung pada melonjaknya jumlah kasus covid-19.
 
Jumlah kasus terkonfirmasi covid-19 di Israel telah melampaui 113 ribu, dengan angka kematian mendekati 1.000.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif