Seorang anak Palestina mengisi jeriken air di Jalur Gaza. (Mahmud Hams/AFP)
Seorang anak Palestina mengisi jeriken air di Jalur Gaza. (Mahmud Hams/AFP)

Krisis Air di Jalur Gaza Perlahan Racuni Warga Palestina

Internasional Palestina Jalur Gaza Krisis Air di Jalur Gaza Jalur Gaza Palestina
Medcom • 13 Oktober 2021 18:50
Gaza: Institut Global untuk Air, Lingkungan dan Kesehatan serta Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan, air minum di Jalur Gaza "tidak dapat diminum" dan "perlahan-lahan meracuni" para warga.
 
Krisis air di Jalur Gaza yang memprihatinkan selama bertahun-tahun diperburuk gempuran Israel pada Mei lalu. Krisis air ini mempengaruhi setiap satu dari dua juta penduduk di Jalur Gaza.
 
Dilansir dari Al Jazeera, Rabu, 13 Oktober 2021, terdapat banyak warga Jalur Gaza yang harus membeli air minum dari pemasok swasta. Hal ini dikarenakan air keran kota sering tidak berfungsi akibat lamanya pemadaman listrik. Selain itu, air keran di Jalur Gaza dinilai terlalu asin untuk diminum

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sumber air yang sangat tercemar di jalur ini berdampak serius pada kesehatan masyarakat Palestina, dengan anak-anak, khususnya, menghadapi risiko penyakit yang ditularkan melalui air. Pengungsi Kamp Al-Shati, Falesteen Abdelkarim, 36, menyatakan, air di daerahnya "tidak bisa diminum."
 
"Rasanya seperti berasal dari laut. Kami tidak bisa menggunakannya untuk minum, memasak, atau bahkan mandi,” kata Abdelkarim.
 
Blokade serta gempuran militer Israel terhadap kelompok pejuang Palestina semakin memperparah krisis air di Jalur Gaza.
 
Baca:  Bantuan Kemanusiaan Mulai Masuk ke Jalur Gaza
 
Abdelkarim mengatakan, para warga hanya memiliki akses ke air kota sebanyak tiga kali seminggu. Terkadang, air itu juga telah "tercampur limbah" karena infrastruktur yang rusak di sejumlah kamp pengungsi.
 
"Hidup di kamp-kamp pengungsi sangat menyedihkan. Kami selalu membeli air minum dari pedagang kaki lima," keluh ibu lima anak ini.
 
Hingga kini, terdapat banyak pedagang swasta di Gaza yang menyaring garam pada air dan menjualnya kepada sejumlah warga dengan harga rata-rata USD7. Tanaman di Jalur Gaza juga dilaporkan mengering dan mati karena salinitas air dan klorida yang tinggi. (Nadia Ayu Soraya)

 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif