Presiden Joko Widodo berpidato pertama kali di Sidang Majelis Umum PBB. Foto: BPMI/UNTV.
Presiden Joko Widodo berpidato pertama kali di Sidang Majelis Umum PBB. Foto: BPMI/UNTV.

Jokowi Harusnya Jabarkan Alasan Palestina Belum Merdeka di Pidatonya

Internasional palestina
Marcheilla Ariesta • 23 September 2020 20:14
Jakarta: Pidato perdana Presiden Joko Widodo di Sidang Umum PBB mendapat sorotan dari berbagai pihak. Namun, beberapa pihak merasa kurang puas dengan pidato yang berdurasi sekitar sembilan menit itu.
 
Pengamat internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah mengatakan ada beberapa yang kurang dilengkapi dalam pidato Jokowi tersebut, salah satunya dalam hal kemerdekaan Palestina. Meski demikian, Rezasyah memahami bahwa membahas semua hal dalam waktu singkat sangat sulit.
 
"Isu mengenai Palestina sudah benar dimasukkan dalam pidato. Namun, seharusnya beliau menjabarkan mengapa Palestina belum merdeka," kata Rezasyah kepada Medcom.id, Rabu, 23 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Salah satunya kan karena PBB-nya lemah. Beliau bisa mengatakan, mekanisme di PBB belum memungkinkan rakyat Palestina mendapat hak dasarnya," imbuhnya.
 
Menurut dia, hal itu diperlukan agar masyarakat internasional tahu akar masalahnya. Dia tidak mengungkapkan jika Presiden Jokowi kurang tegas, namun seharusnya penjelasan presiden dalam pidato lebih panjang lagi.
 
Namun, kata dia, mungkin hal itu dilakukan karena Presiden Jokowi tidak ingin berkonflik dengan Amerika Serikat. Pasalnya, saat ini AS tengah membantu Israel untuk menjalin hubungan dengan Timur Tengah.
 
Menurutnya, Israel sedang naik daun. Dan baik AS maupun Israel sangat sistematis dalam berdiplomasi saat ini.
 
Ia juga berpendapat, Jokowi tidak ingin Israel menggunakan kata-katanya untuk mengadu Indonesia dan Iran. Tentunya timbul pertanyaan, mengapa Indonesia dan Iran menjadi 'target diadu' oleh Israel.
 
Pasalnya, saat ini beberapa negara Timur Tengah dan Arab sudah mulai membuka hubungan dengan Negeri Zionis tersebut. Indonesia tentu menentangnya karena tidak sesuai dengan konstitusi bangsa.
 
Dalam konstitusi Indonesia, jelas tertulis bahwa semua bangsa harus merdeka. Sementara, saat ini Palestina belum merdeka.
 
Sementara itu, Iran dalam perang peradaban.
 
"Kalau mereka berhasil, berarti akan ada Israel and the rest of the world versus Indonesia and Iran," kata Rezasyah.
 
Indonesia dan Iran, kata Rezasyah, dinyatakan sebagai satu suara. Namun, dua negara ini memiliki perbedaan dalam keyakinan, Iran menganut Islam Syiah, sementara Indonesia mayoritas Islam Sunni.
 
Hal ini diduga akan berpengaruh ke dalam negeri Indonesia. Karenanya, ujar Rezasyah, Presiden Jokowi memilih kata yang lebih hati-hati dalam pidato perdananya.
 
Dalam pidato pertamanya di Sidang Majelis Umum PBB, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan tekad Indonesia untuk terus berkontribusi bagi perdamaian dunia sesuai amanah konstitusi.
 
Bagi mantan Gubernur DKI Jakarta itu, Indonesia akan terus memainkan peran sebagai bridge builder, sebagai bagian dari solusi.
 
Persamaan derajat inilah yang ditekankan oleh Bapak Bangsa Indonesia, Soekarno, Bung Karno, kata Presiden. Hal itu disampaikan oleh Soekarno saat Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.
 
"Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konferensi Bandung yang sampai sekarang belum menikmati kemerdekaannya," sebut mantan Wali Kota Solo itu.
 
"Indonesia terus konsisten memberikan dukungan bagi Palestina untuk mendapatkan hak-haknya," tegas Jokowi.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif