Dubes Al Busyra Basnur dalam seminar nasional bertajuk Gastro Diplomacy Goes to Africa. (Foto:KBRI Addis Ababa)
Dubes Al Busyra Basnur dalam seminar nasional bertajuk Gastro Diplomacy Goes to Africa. (Foto:KBRI Addis Ababa)

Banyak Orang Afrika Mencari Kuliner Indonesia

Internasional Indonesia-Ethiopia
Willy Haryono • 29 September 2020 06:46
Addis Ababa: Kuliner Indonesia banyak dicari di Afrika. Bisnis masakan Indonesia berpeluang besar memasuki pasar Afrika.
 
Hal ini disebabkan antara lain, pertama, Indonesia dikenal luas dan sangat baik di Afrika, apalagi dikaitkan dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955; kedua, Afrika terdiri dari ratusan etnik dan budaya dengan makanan yang beragam seperti Indonesia; ketiga, kerjasama perdagangan antar negara dan perusahaan Indonesia yang berinvestasi di Afrika terus berkembang; dan keempat, orang Indonesia kian banyak bepergian ke, bekerja dan hidup di Afrika.
 
Demikian disampaikan Al Busyra Basnur, Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika dalam seminar nasional bertajuk Gastro Diplomacy Goes to Africa, serial Indonesia-Afrika: Bersinergi membangun bersama di masa pandemi virus korona (covid-19) yang diselanggarakan secara virtual pada Senin, 28 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seminar diadakan Pusat Studi Afrika, FISIP Universitas Airlangga (Unair), bekerja sama dengan Indonesia Gastronomy Community (IGC) dan Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI).
 
Dubes Al Busyra lebih lanjut memaparkan bahwa tantangan utama yang dihadapi sekarang adalah sebagian besar orang Indonesia belum mengenal perkembangan terkini, potensi dan peluang berbisnis makanan Indonesia di Afrika.
 
"Lihat, di benua dengan 55 negara dan penduduk 1,3 miliar jiwa, terdapat hanya empat restoran Indonesia, yaitu di Mesir, Afrika Selatan, Rwanda dan Sudan. Sementara restoran dari berbagai negara lain seperti Tiongkok, Jepang, Korea, India, Vietnam, Timur Tengah, Italia dan Amerika Serikat, menjamur di Afrika," kata Dubes Al Busyra, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Selasa 29 September 2020.
 
Ia menambahkan, tantangan lain yang dihadapi adalah transportasi bahan dan bumbu masakan Indonesia, karena jarak Indonesia dan negara-negara Afrika cukup jauh dan frekuensi penerbangan masih terbatas.
 
"Namun dengan Ethiopia, terdapat penerbangan langsung Addis Ababa-Jakarta yang dilayani maskapai Ethiopian Airlines," jelas Dubes Al Busyra.
 
Selain Dubes Al Busyra Basnur, hadir sebagai pembicara pada acara tersebut adalah Paramitaningrum Ph.D dari Indonesia Gastronomy Community Universitas Binus, dan Dr. Pinky Saptandari, Ketua Pusat Studi Afrika Unair, dengan moderator Dian Rosdiana Sekjen Asosiasi Antropologi Indonesia.
 
Ketika membuka seminar, Dr. Falih Suaedi, Dekan FISIP Unair, mengatakan bahwa acara ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia tentang Afrika, serta meningkatkan kerja sama Indonesia-Afrika, khususnya di bidang Gastro Diplomacy.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif