Menlu Iran Javad Zarif tuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron picu ekstremisme. Foto: AFP
Menlu Iran Javad Zarif tuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron picu ekstremisme. Foto: AFP

Menlu Iran Tuduh Presiden Prancis Memiicu Ekstremisme

Internasional iran Kartun Nabi Muhammad Emmanuel Macron
Fajar Nugraha • 27 Oktober 2020 17:35
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memicu ekstremisme. Khususnya setelah Macron membela penerbitan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.
 
Bagi Zarif, Macron telah mengipasi kelompok ‘ekstremisme’. "Muslim adalah korban utama dari 'pemujaan kebencian' yang diberdayakan oleh rezim kolonial dan diekspor oleh klien mereka sendiri," tulis Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif dalam Twitter, Senin 26 Oktober 2020, yang dikutip Al Arabiya, Selasa 27 Oktober 2020.
 
"Menghina 1,9 miliar Muslim -,dan kesucian mereka,- karena kejahatan menjijikkan dari ekstremis semacam itu adalah penyalahgunaan kebebasan berbicara oportunistik. Itu hanya memicu ekstremisme,” tegasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Imbas Kartun Nabi, Prancis Peringatkan Warganya di Indonesia Terkait Ancaman.
 
Komentar Zarif muncul di tengah perselisihan yang meningkat atas dukungan Paris untuk hak publikasi karikatur Nabi Muhammad.
 
Pekan lalu, Macron memuji Samuel Paty, seorang guru sekolah Prancis yang terbunuh karena mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.
 
“(Paty terbunuh) karena dia mewujudkan Republik yang hidup setiap hari di ruang kelas, kebebasan yang disampaikan dan diabadikan di sekolah," ucap Macron.
 
"Samuel Paty dibunuh karena para Islamis menginginkan masa depan kami dan karena mereka tahu bahwa dengan pahlawan pendiam seperti dia, mereka tidak akan pernah memilikinya,” tegasnya.
 
Penggambaran Nabi Muhammad dilarang dalam Islam. Pada Jumat, kartun tersebut diproyeksikan ke gedung-gedung pemerintah di Prancis.
 
Macron telah membela ‘hak untuk menghujat’ pada September, dan awal Oktober ini berjanji untuk melawan apa yang disebutnya ‘separatisme Islam’. Dia juga menyebut Islam sebaga negara yang dalam krisis.

Boikot dan protes terhadap Prancis

Pada Sabtu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan presiden Prancis membutuhkan ‘perawatan mental’ untuk pernyataannya. Erdogan juga mengecam Eropa atas apa yang dia gambarkan sebagai ‘meningkatnya Islamofobia’.
 
"Masalah apa yang dimiliki orang bernama Macron ini dengan Muslim dan Islam? Macron membutuhkan perawatan pada tingkat mental," kata Erdogan dalam pidatonya di kongres provinsi partai AK.
 
"Apa lagi yang bisa dikatakan kepada seorang kepala negara yang tidak memahami kebebasan berkeyakinan dan yang berperilaku seperti ini kepada jutaan orang yang tinggal di negaranya yang merupakan anggota dari agama yang berbeda?,” tutur Erdogan.
 
Perselisihan semakin dalam pada Senin, dengan Erdogan meminta orang-orang Turki untuk menghindari membeli barang-barang Prancis. Di banyak negara mayoritas Muslim, aktivis dan kelompok perdagangan telah membuat kampanye boikot, mengedarkan daftar produk yang harus dihindari termasuk perusahaan seperti Lancôme, Yves Saint Laurent, Louis Vuitton, Chanel dan Givenchy.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif