Bentrokan antara demonstran anti-kudeta dan pasukan Sudan berlangsung di Khartoum, 17 Januari 2022. (AFP)
Bentrokan antara demonstran anti-kudeta dan pasukan Sudan berlangsung di Khartoum, 17 Januari 2022. (AFP)

Aksi Protes Kudeta Berlanjut di Sudan, 7 Orang Tewas dalam Bentrokan

Internasional unjuk rasa Kudeta Sudan Sudan Abdalla Hamdok
Willy Haryono • 18 Januari 2022 07:48
Khartoum: Koordinator aksi protes di ibu kota Sudan mengumumkan unjuk rasa dan aksi pembangkangan sipil selama dua hari usai pasukan keamanan menggunakan kekerasan dalam membubarkan demonstrasi menentang kudeta pada Senin kemarin. Bentrokan tersebut dikabarkan telah menewaskan setidaknya tujuh orang.
 
Angka kematian tersebut merupakan salah satu yang tertinggi sejak masyarakat Sudan melakukan unjuk rasa menentang kudeta militer yang terjadi di negara tersebut pada 25 Oktober 2021.
 
Tujuh kematian ini dipastikan semakin memperdalam kebencian para demonstran terhadap militer Sudan. Menurut seorang saksi mata, pasukan keamanan Sudan menembakkan serangkaian as air mata dalam menghalangi pedemo yang bergerak menuju istana kepresidenan di Khartoum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut laporan Komite Sentral Dokter Sudan, polisi juga menggunakan peluru tajam dan granat kejut. Alhasil, tujuh orang pun tewas akibat luka tembak di beberapa bagian tubuh.
 
"Militer memang sudah berniat membantai kami hari ini, padahal kami hanya meminta adanya pemerintahan sipil dan demokrasi," kata seorang pengunjuk rasa, Mohamed Babaker, dilansir dari Metro.us, Senin, 17 Januari 2022.
 
Seorang juru bicara kepolisian Sudan mengatakan, pernyataan resmi akan segera dikeluarkan terkait bentrokan terbaru di Khartoum. Menurut data polisi, korban tewas mencapai tiga orang.
 
Unjuk rasa di Sudan terus bergulir setelah Perdana Menteri Abdalla Hamdok mengundurkan diri.
 
Hamdok digulingkan dari kekuasaan dalam kudeta militer pada Oktober 2021. Satu bulan setelahnya, militer Sudan memulihkan jabatan Hamdok melalui sebuah perjanjian demi meredakan situasi.
 
Namun perjanjian semacam itu tak lantas meredam gelombang unjuk rasa. Aksi protes tetap berlanjut, dan para demonstran menyerukan agar pemerintahan di Sudan benar-benar hanya terdiri dari jajaran sipil tanpa ada sedikit pun pengaruh militer.
 
PM Hamdok memutuskan mundur pada awal Januari, usai bentrokan antar pasukan keamanan dan pengunjuk rasa berujung pada tewasnya tiga orang. Kala itu, PM Hamdok mengaku gagal mencari kompromi antara jajaran militer dan gerakan pro-demokrasi.
 
Baca:  PM Sudan Mengundurkan Diri Usai Kematian 3 Demonstran Anti-Kudeta
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif