Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)
Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)

Taktik Pengalihan Trump Tidak Bisa Berlangsung Lebih Lama

Internasional amerika serikat donald trump
Arpan Rahman • 13 Januari 2019 17:56
New York: Salah satu korban kepresidenan Donald Trump adalah 'sejarah,' bahkan 'sejarah' yang belum lama ini berlalu. Masyarakat dibombardir berita kontroversial terkait Trump pada setiap harinya, atau bahkan dalam hitungan jam.
 
Sulit rasanya bagi warga AS untuk mengingat apa-apa saja yang telah terjadi dalam sepekan terakhir, bulan lalu atau bahkan satu tahun silam. Dalam isu kontroversial terbaru, Trump mengancam akan merebut kekuasaan Kongres dengan mendeklarasikan status darurat nasional untuk membangun tembok besar di perbatasan selatan.
 
Pertarungan politik atas tembok perbatasan pada dasarnya adalah pengalihan perhatian, dan dari sudut pandang Trump, ia telah mencapai tujuannya. Sebulan silam, dia mengalami dua pekan terburuk sejak dia terpilih.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertama, ia memecat John Kelly, kepala stafnya. dan kesulitan dalam mencari pengganti. Kemudian Michael Cohen, mantan pengacaranya, yang dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.
 
Tidak berhenti sampai di situ, Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan New York merilis dokumen pengadilan yang mengonfirmasi Trump secara pribadi terlibat dalam skema ilegal untuk membungkam wanita yang mengaku telah berselingkuh dengannya. Terakhir, James Mattis, Menteri Pertahanan, yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas pengumuman sepihak Presiden tentang penarikan pasukan AS dari Suriah.
 
Di ujung periode yang penuh gejolak ini, banyak orang di Washington berspekulasi tentang apakah Trump dapat bertahan sampai akhir masa jabatannya. Dalam upaya memaksa Kongres agar proposal dana USD5,7 miliar atau setara Rp80 triliun untuk pembangunan tembok diterima, Trump berusaha mengubah topik pembicaraan dan mengerahkan basis pendukungnya ke isu imigrasi.
 
Trump berhasil. Selama tiga pekan terakhir, perdebatan mengenai tembok perbatasan telah mendominasi semua berita lainnya di AS. Tapi langkah pengalihan itu sudah hampir berakhir. Dalam waktu dekat, Trump harus menerima kekalahan terkait proposal dana tembok, atau menindaklanjuti ancamannya terkait status darurat nasional.
 
Jika dia memilih opsi kedua, maka akan timbul kekhawatiran baru di tengah masyarakat atas kecenderungan Trump menjadi pemimpin otoriter dan kelayakannya untuk tetap memimpin. Kekhawatiran ini juga akan muncul di kalangan para anggota Senat dari Partai Republik, di mana dukungan mereka merupakan hal krusial bagi trump yang memisahkan antara dapat tetap memimpin atau dimakzulkan.
 
Jadi apa yang akan dia putuskan? Sesuai dengan sejarahnya sebagai bintang acara televisi, ia berusaha mempertahankan ketegangan. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Kamis 10 Januari, saat dia berkunjung ke Rio Grande di McAllen, Texas, ia berkata, "Kami memiliki hak mutlak untuk menyatakan status darurat federal."
 
Tetapi, ia menambahkan, "Saya pikir, kita akan melihat perkembangan apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan." Pada Jumat sore, dalam pertemuan di Gedung Putih dengan para pejabat penegak hukum dan politisi lokal, Trump kembali mengubah sikap.
 
"Apa yang kami tidak ingin lakukan sekarang adalah mendeklarasikan status darurat nasional. Kami ingin Kongres mengerjakan tugasnya," ungkap Trump.
 
Jumat malam, Wall Street Journal melaporkan bahwa Badan Manajemen dan Anggaran sedang mempersiapkan rencana darurat untuk mempersiapkan hal terburuk jika shutdown berlangsung hingga akhir Februari. Namun, tekanan politik agar Trump mengakhiri shutdown semakin meningkat. Shutdown memasuki hari ke-23 pada Minggu 13 Januari 2019.
 
Baca:Trump Ingatkan Shutdown Dapat Berlangsung Selama Mungkin
 
Terlepas dari upaya sejumlah sekutu Trump, tidak terlihat ada tanda-tanda bahwa upaya presiden dalam melimpahkan tanggung jawab kepada Partai Demokrat atas shutdown bisa berhasil.
 
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan YouGov untuk The Economist, menunjukkan bahwa 50 persen orang Amerika menyalahkan Trump atas shutdown, dan 32 persen menyalahkan Demokrat di Kongres. Di kalangan independen, 47 persen menyalahkan Trump, dan hanya 26 persen yang menuding Demokrat di balik shutdown.
 
Tampaknya kegelisahan ditunjukkan sejumlah politikus di kubu Republik. Awal pekan ini, tiga tokoh Republik berhaluan moderat meminta Gedung Putih mengakhiri shutdown. Ketiga tokoh itu adalah Lamar Alexander, dari Tennessee; Susan Collins, dari Maine; dan Lisa Murkowski, dari Alaska.
 
Akhir kata, terlepas dari beberapa pernyataan sebelumnya, Trump bisa saja mendeklarasikan status darurat nasional sewaktu-waktu. Keputusannya akan dibuat bukan berdasarkan pembagian kekuasaan, tapi mengenai langkah apa yang dapat membuat dirinya tetap aman di Washington. Saat ini Trump seperti sedang bertahan hidup, dan dia harus tahu, taktik pengalihan perhatian tidak dapat berlangsung lebih lama lagi.
 
Dalam keterangan terbarunya pada Sabtu 12 Januari, Trump menyatakan tidak akan mendeklarasikan status darurat nasional.
 
(Opini ini dikutip Medcom.id dari New Yorker, Jumat 11 Januari 2019; ditulis oleh John Cassidy, staf penulis di New Yorker sejak 1995. Dia juga menulis kolom tentang politik, ekonomi, dan banyak lagi untuk newyorker.com.)
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif