Krisis kebakaran hutan Australia periode 2019-2020 disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam sejarah Negeri Kanguru. (Foto: AFP)
Krisis kebakaran hutan Australia periode 2019-2020 disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam sejarah Negeri Kanguru. (Foto: AFP)

Kebakaran Australia, Perubahan Iklim atau Kelalaian?

Internasional kebakaran hutan australia
Arpan Rahman • 15 Januari 2020 19:18
Arizona: Dengan lebih dari 14 juta ekar (setara 5,6 juta hektare) lahan terbakar habis dalam kebakaran hutan di Australia, perubahan iklim merupakan ancaman nyata bagi semua warga dan juga posisi Perdana Menteri Negeri Kanguru, Scott Morrison.
 
Petaka ini disorot oleh kolumnis tamu Evan Karlik di Arizona Daily Sun, Rabu 14 Januari 2020. Karlik adalah Mayor Laut di Angkatan Laut AS yang juga terafiliasi dengan Pusat Studi Universitas Georgetown tentang Australia, Selandia Baru, dan Pasifik. Pada 2018, ia bertugas sebagai pakar pertahanan di Dewan Perwakilan Rakyat AS.
 
Berikut, sorotannya:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Warga di sejumlah kota yang dilanda kebakaran hutan Australia menolak jabat tangan PM Morrison dan mencela rombongannya. Ibu kota Australia, Canberra, memulai hari perdana di tahun 2020 dengan kenyataan pahit: kualitas udaranya dinyatakan terburuk di dunia. Banyak warga terjebak antara api dan laut dalam kebakaran hutan di wilayah pesisir. Evakuasi mereka disebut-sebut sebagai operasi penyelamatan maritim terbesar dalam sejarah masa damai di Australia.
 
Tim petugas pemadam kebakaran asal Amerika Serikat merasakan hubungan kekerabatan dengan rekan seprofesi mereka di Australia. Lebih dari 100 petugas pemadam asal AS telah dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan di Australia, sebuah benua yang juga disebut Down Under.
 
Masyarakat AS tidak asing dengan kebakaran hutan, dan mereka kemungkinan besar menyadari bahwa krisis kebakaran hutan di Australia saat ini -- yang berlangsung sejak tahun lalu -- sedikit banyak dipengaruhi kebijakan politik negara tersebut, terutama terkait isu iklim.
 
Pada 2000, sebuah laporan komite parlemen Australia mengakui bahwa emisi karbon per kapita Negeri Kanguru merupakan yang tertinggi di dunia. Laporan itu juga menyoroti fakta mengenai rentannya Australia terhadap dampak-dampak buruk dinamika iklim.
 
Tiga tahun kemudian, sebuah laporan dari Dewan Iklim, sebuah organisasi nirlaba independen Australia, menunjukkan kemungkinan munculnya cuaca berbahaya akibat melonjaknya temperatur, kondisi kekeringan dan juga gelombang panas yang durasinya berlangsung lebih lama dari normal.
 
Dalam sebuah survei pada November lalu, 60 persen warga Australia meyakini bahwa negara mereka harus lebih banyak berbuat dalam memerangi perubahan iklim. Namun para politisi Australia yang berkuasa saat ini seolah tutup mata dan telinga.
 
Greg Mullins, mantan komisioner dinas pemadam kebakaran di negara bagian New South Wales, belum lama ini mengatakan kepada National Public Radio bahwa pemerintah pusat seolah telah "dinyatakan hilang dalam hal kepemimpinan."
 
Kebakaran Australia, Perubahan Iklim atau Kelalaian?
PM Morrison saat memantau kebakaran hutan. (Foto: AFP)
 
Morrison dengan gembira menggenggam sepotong batu bara seukuran kepalan tangan di lantai Parlemen pada 2017. Satu setengah tahun kemudian, partai sayap kanannya menggulingkan PM saat itu, dan menjadikan Morrison sebagai kepala negara.
 
Jurnalis Australia Hugh Rimington mengaku geram atas pemerintahan Australia saat ini yang terus menggunakan batu bara sebagai salah satu sumber energi utama. Ia menyebut Australia sebagai "sebuah negara yang terbakar di bawah kepemimpinan para pengecut."
 
Novelis asal Tasmania Richard Flanagan membandingkan krisis kebakaran hutan di Australia dengan nuklir Chernobyl, merujuk pada bencana lingkungan besar yang terjadi di Uni Soviet pada 26 April 1986.
 
Flanagan juga membandingkan PM Morrison dan kelambanan responsnya terkait krisis kebakaran hutan ini dengan Nero, seorang kaisar Romawi kuno. Nero dikenal sebagai kaisar yang malah bermain biola saat api membakar sebagian besar kota Roma kala itu.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif