Nuklir Korut dan Jalan Damai di Semenanjung Korea
Pertemuan bersejarah Moon Jae-in dan Kim Jong-un akan memberikan angin segar di Semenanjung Korea (Foto: AFP).
Jakarta: "Kami sudah terlalu lama berpisah dengan Korea Utara". Kata itu disampaikan oleh Duta Besar Korea Selatan (Korsel) untuk Indonesia Kim Chang-beom, 19 April 2018 lalu.
 
Klise memang, tetapi paling tidak kalimat itu menunjukkan keinginan dari warga Korsel terhadap tetangganya, Korea Utara (Korut). Tetapi harapan muncul setelah dipastikan Presiden Korsel Moon Jae-in akan melakukan pertemuan dengan pemimpin Korut Kim Jong-un di Zona Demiliterisasi pada Jumat 27 April 2018.
 
Presiden Moon mengambil kesempatan Olimpiade Musim Dingin untuk membuka dialog antara kedua Korea. Tetapi di saat bersamaan Moon memberikan peringatan bahwa pertemuan kemungkinan belum menghasilkan kesepakatan, terutama mengenai denuklirisasi Korut.
 
Program nuklir Korut sudah pasti menjadi perhatian utama dalam pertemuan ini. Korut membuahkan perkembangan luar biasa dalam teknologi nuklir di bawah kekuasan Kim Jong-un.
 
Sepanjang 2017 saja Korut melakukan uji coba nuklir sebanyak enam kali. Ditambah lagi berbagai uji coba rudal yang dikabarkan mampu menggapai wilayah Amerika Serikat (AS).
 
Meraih kesepakatan denuklirisasi di saat program nuklir dan rudal Korut sangat maju, secara fundamental berbeda dengan kesepakatan denuklirisasi pada 1990an dan 2000an.
 
Menjadi pertanyaan besar adalah, bagaimana kedua pemimpin bisa mencapai kesepakatan di mana kesediaan Korut untuk melucuti nuklir mereka. Selain itu bagaimana kesepakatan itu bisa dituangkan dalam bentuk teks.
 
Sejarah pahit antara kedua Korea setelah Perang Korea 1953 membuat berbagai upaya mengakhiri perang kedua negara kerap berujung pada jalan buntu. Tetapi Korsel dalam beberapa waktu terakhir menyuarakan ide perdamaian mengakhiri secara formal Perang Korea. Secara teknis, perang yang berlangsung antara 1950 hingga 1953 ini berakhir dalam kesepakatan gencatan senjata bukan kesepakatan damai.
 
Runtuhnya sebagian wilayah uji coba nuklir Korut di Punggye-ri bisa mengubah arah pembicaraan. Kim Jong-un pada Sabtu 21 April lalu mengumumkan untuk menangguhkan segala bentuk uji coba nuklir dan rudal negaranya.
 
Kondisi ini kemungkinan bisa mendorong Kim secara penuh melakukan denuklirisasi. Tetapi sosok Kim Jong-un sangatlah sulit ditebak dan beberapa kali disebut impulsif serta kerap membuat kejutan.
 
Presiden Moon sendiri bukannya tanpa tentangan dari dalam negeri. Pada awalnya banyak warga Negeri Gingseng tidak suka dengan sikap lunak Moon terhadap kekuasaan Kim.
 
Namun Dubes Kim Chang-beom berani menyebutkan bahwa 70 persen rakyat Korsel saat ini mendukung langkah yang diambil Moon. Menurut Dubes Kim, Korsel bisa menilai langkah ini tentu baik untuk perdamaian Semenanjung Korea.
 
Peran Amerika Serikat
 
Umum diketahui bahwa Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat saling kecam melalui media.
 
Tetapi dunia menantikan pertemuan di Zona Demiliterisasi di Panmunjom tersebut. Jika pertemuan antara Moon Jae-in dan Kim Jong-un memberikan keberhasilan, maka pertemuan antara Kim Jong-un dengan Donald Trump bisa terwujud.
 
Negeri Paman Sam sendiri pada awalnya menolak rencanca pertemuan ini, tetapi dalam perkembangannya Trump pun menyuarakan kesediaannya untuk melakukan pembicaraannya dengan Kim Jong-un.
 
Tetapi satu hal pasti yang ditekankan oleh Trump, jika pertemuan antara kedua tokoh Korea ini gagal, mantan pengusaha properti itu tidak akan membuka kesempatan lagi untuk Kim Jong-un.
 
Sejatinya perdamaian hanya bisa diupayakan oleh kedua belah pihak yang bertikai. Presiden Moon pun tidak ingin gegabah buru-buru mendesak Kim Jong-un melakukan denuklirisasi program nuklir mereka.
 
Pertemuan ini merupakan perkembangan positif dalam jalan menuju denuklirisasi Korut, setidaknya hal itu yang ditekankan oleh Moon Jae-in.
 
Namun dibalik jalan yang berliku menuju pertemuan bersejarah ini, tersirat pesan bahwa perdamaian bisa terwujud asalkan kedua belah pihak memiliki niat yang mulia.



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id