Vaksinasi covid-19 di India di tengah peningkatan kasus yang tajam. Foto: AFP
Vaksinasi covid-19 di India di tengah peningkatan kasus yang tajam. Foto: AFP

Krisis Covid-19 di India Ancam Upaya Vaksinasi Global

Internasional India Virus Korona covid-19 pandemi covid-19 Vaksinasi covid-19
Wahyu Dwi Anggoro • 19 April 2021 06:52
Jakarta: Dunia saat ini mengawasi dengan lekat krisis covid-19 di India. Beberapa bulan lalu, India digadang-gadang sebagai kisah sukses penanganan pandemi. Tetapi kini, mereka terancam gelombang kedua yang jauh lebih mematikan.
 
Antara September 2020 sampai Maret 2021, kasus kematian akibat covid-19 terus turun dari 1.000 korban jiwa per hari menjadi 100 korban jiwa per hari. Tingkat okupansi rumah sakit juga menurun selama periode tersebut. Pemerintah India pun perlahan melonggarkan pembatasan sosial di wilayahnya.
 
Namun hanya dalam waktu kurang dari sebulan, situasi di negara tersebut berbalik 180 derajat. Pihak berwenang kembali mencatat sekitar 1.000 korban jiwa per hari pekan ini. Rumah sakit dan petugas kesehatan lagi-lagi kewalahan menangani pasien virus korona.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Krisis ini ikut mempengaruhi penanganan pandemi di negara lain karena sebagian besar vaksin covid-19 berasal dari India. Negara berkembang bergantung pada vaksin buatan India, Rusia dan Tiongkok setelah negara kaya memborong habis vaksin asal Barat.
 
Sejak awal tahun, COVAX telah menyalurkan puluhan juta dosis vaksin covid-19 buatan India. COVAX adalah skema multilateral yang menyediakan vaksin covid-19 untuk negara miskin dan berkembang. Bisa dibilang COVAX adalah harapan utama banyak negara agar bisa mendapatkan vaksin covid-19 secara cepat dan terjangkau.
 
Tetapi seiring memburuknya krisis kesehatan di India, Pemerintahan Narendra Modi memutuskan untuk membatasi ekspor vaksin. Alhasil, distribusi vaksin yang dilakukan COVAX mengalami penundaan. Selain itu, vaksin yang sudah dipesan negara lain banyak yang dialihkan untuk kebutuhan domestik.
 
Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan embargo vaksin India. Indonesia direncanakan mendapatkan 54 juta dosis vaksin melalui COVAX. Pemerintah Indonesia juga telah memesan sekitar 50 juta vaksin AstraZeneca asal India. Jadwal kedatangan lebih dari 100 juta dosis vaksin tersebut kini menjadi tidak jelas.
 
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku program vaksinasi di Indonesia terganggu embargo vaksin India. Dia mencatat jumlah vaksin yang diterima Indonesia beberapa bulan ke belakang lebih sedikit dari yang diperkirakan sebdlumnya. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pihak pemerintah menggenjot produksi vaksin Sinovac yang diproses Bio Farma. Dengan kebijakan tersebut, Menteri Budi berharap aktivitas vaksinasi berangsur normal bulan depan.
 
"April ini (vaksinasi) sulit karena jumlah vaksinnya sedikit," kata Menteri Budi awal bulan ini.
 
Tidak hanya itu, Pemerintah Indonesia juga berencana memesan lebih banyak vaksin. Kementerian Kesehatan sedang menjajaki pembelian 90-100 juta dosis vaksin tambahan dari Sinovac. Produsen vaksin asal Tiongkok tersebut memang dapat diandalkan. Indonesia hingga kini sudah menerima lebih dari 50 juta dosis vaksin Sinovac baik dalam bentuk jadi maupun bahan mentah.
 
"Kita sudah membuka diskusi dengan Tiongkok untuk menambah sekitar 90-100 juta dosis tambahan untuk antisipasi," kata Menteri Budi kepada anggota legislatif beberapa waktu lalu.
 
Pemerintah Indonesia tetap optimis program vaksinasi dapat diselesaikan dalam setahun. Mereka berencana memvaksinasi sekitar 180 juta orang until mencapai kekebalan kelompok.
 
pabila satu orang membutuhkan dia dosis vaksin, Indonesia harus dapat mengamankan setidaknya 360 juta dosis vaksin. Apakah target tersebut dapat dicapai? Semuanya tergantung kelihaian Pemerintah Indonesia dan kondisi wabah di negara produsen vaksin covid-19.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif