Donald Trump dianggap masih bisa memenangkan periode kedua Presiden AS. (Foto: AFP).
Donald Trump dianggap masih bisa memenangkan periode kedua Presiden AS. (Foto: AFP).

Keraguan Merebak di Basis Politik Donald Trump

Internasional amerika serikat donald trump
Arpan Rahman • 08 Maret 2019 20:10
London: Donald Trump wajib dipilih kembali pada 2020. Bukan karena dia adalah sosok terbaik untuk menjadi presiden Amerika Serikat -- dia jelas bukan. Bukan karena rekornya membuat dirinya memenuhi syarat buat masa jabatan kedua.
 
Berikut,opiniberdasarkan pandangan pengamat dalam rubrik The Observer seperti dikutipMedcom.iddari laman Guardian.
 
Tokoh yang bertanggung jawab atas penutupan sebagian layanan pemerintah (shutdown) terpanjang dalam sejarah AS dan pendekatan yang ceroboh serta berbahaya untuk urusan internasional telah secara meyakinkan membuktikan ketidakcakapannya untuk memimpin. Tingkah laku pribadi Trump mempermalukan negara yang masyarakat dan minatnya ia akui senang melayani.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Semua ini benar. Namun itu tidak mengubah perhitungan pada pemilu presiden 2020 Trump yang paling menekan dan egois subyektif: bahwa ia harus menang lagi untuk memastikan tetap berada di luar penjara. Menurut konvensi, presiden yang menjabat tidak tunduk pada tuntutan pidana, meskipun, secara hukum, itu mungkin. Yang pasti, bahwa jika Trump kalah atau tidak menjadi presiden lagi, ia akan kehilangan semua kekebalan aktual atau abstrak dari proses pidana pada 20 Januari 2021. Jika dan ketika titik itu tercapai, maka akan menjadi sesi terbuka terhadap Trump.
 
Bahkan dengan standarnya yang patut disesali, pekan lalu isu tersebut telah memanas, tetapi akankah itu membuktikan momen menentukan dalam mengubah persepsi warga Amerika tentang pemimpin mereka? Terlepas dari semua skandal dan aib selama dua tahun terakhir, terlepas dari semua isu jenis seksis, kebohongan, dan pengkhianatan, terlepas dari kejujuran Trump terhadap konstitusi AS dan prinsip-prinsip demokrasi, dukungan basisnya masih sangat stabil. Sekitar dua dari lima pemilih masih mendukungnya.
 
Trump telah berhasil dengan sukses mendiskreditkan banyak kritik yang diarahkan kepadanya, dengan menganggapnya sebagai partisan dan tidak jujur. Alih-alih membahas masalah yang dikemukakan, ia biasanya menyerang motif dan integritas pengritik, sehingga menawarkan wawasan tanpa sadar ke dalam jiwa pribadinya. Bahkan gerai media paling teliti pun dituduhnya menjajakan "berita palsu". Semua ini merusak kepercayaan dan memperburuk perpecahan, modus operandi yang dia sukai.
 
Kesaksian di kongres menggemparkan pekan lalu oleh Michael Cohen, yang tahu Trump lebih baik daripada kebanyakan, mungkin akhirnya mengalami siklus pendek penyangkalan yang merusak. Cohen adalah pengacara pribadi, penegak hukum, dan pembawa tas Trump; sosok orang dalam yang klasik. Dia tahu di mana 'mayat' (kiasan) 'dimakamkan'. Ketika Cohen, yang diakui sebagai si curang yang bersalah, berbicara tentang rasisme bawaan Trump, kebohongan kebiasaannya -- dan potensi kriminalitas -- hal itu membawa banyak kebenaran.
 
Sebagai hasil dari kesaksian Cohen, transaksi bisnis Trump yang buram, pengembalian pajak, pinjaman bank asing, transaksi properti, "yayasan amal" dan keuangan keluarga semua sekarang akan berada di bawah pengawasan yang lebih ketat.
 
Mengambil satu contoh saja: jika klaim Cohen tentang pembayaran "uang tutup mulut rahasia" kepada seorang wanita pada siapa Trump terbukti memiliki hubungan perzinahan, ia dapat menghadapi dakwaan pidana karena menerobos hukum keuangan kampanye. Cohen juga menuduh Trump secara sadar terlibat dalam penipuan asuransi.
 
Bukan hanya kaum Demokrat baru diberdayakan yang mengamati jejak Trump. Bisa kapan saja mulai sekarang, Robert Mueller, penasihat khusus yang menyelidiki kegiatan kampanye Trump dalam pemilu 2016, akan mempresentasikan temuannya.
 
Mueller diperkirakan fokus pada koneksi yang memungkinkan untuk operasi disinformasi dan subversi pemilu dari pihak Rusia, pengungkapan WikiLeaks dari surat elektronik kampanye Hillary Clinton, dugaan konflik kepentingan, dan segala cara meghalangi keadilan yang timbul dari pemecatan Trump atas direktur FBI, James Comey, pada 2017.
 
Menjadi hal yang sangat penting bila laporan Mueller dipublikasikan secara penuh; setiap upaya Gedung Putih mencegahnya harus ditepis dengan keras. Demikian juga, para pemilih memiliki hak mengetahui apa yang ditemukan oleh investigasi federal lain yang terpisah. Penyelidikan tersebut, saat ini sedang berlangsung di New York, dilaporkan menyangkut potensi sumbangan tunai ilegal buat kampanye Trump oleh individu atau entitas asing dan juga kepada komite pelantikan 2017, yang mengangkat rekor USD100 juta.
 
Jika akun orang dalam Cohen yang memberatkan dan bukti yang terakumulasi dari beberapa contoh kesalahan sebelumnya dan saat ini belum cukup untuk menabur batas keraguan di antara basis pemilih Trump, maka mungkin pemecahannya akan dipercepat oleh kehancuran presiden pekan lalu -- kesalahan penanganan Trump terhadap masalah nuklir Korea Utara dalam KTT di Hanoi. Trump memiliki peluang unik guna membuat kesepakatan dengan Kim Jong-un, diktator Korut, yang, secara istimewa akan didukung Tiongkok, Rusia dan pihak barat.
 
Hampir semua orang ingin melihat pembatasan pada persenjataan nuklir Pyongyang. Kartu terkuat Trump adalah pengakuan atas konferensi tingkat tinggi yang diberikan Kim. Namun, untuk kedua kalinya, dia memberi dorongan prestisius secara gratis, memanggil Kim sebagai teman dan "pemimpin hebat". Kemudian Trump gagal dalam pembicaraan dan keluar dengan gaya kekanak-kanakan. Menambah cercaan terhadap kegagalan itu, ia membebaskan Kim dari tanggung jawab pribadi atas kematian seorang mahasiswa Amerika, Otto Warmbier. Layaknya seorang penipu yang tidak dapat dibenarkan yang sejak itu telah dikutuk dengan tepat.
 
Elizabeth Warren, calon presiden dari Partai Demokrat, memperingatkan di Iowa bulan lalu bahwa saat pemilihan presiden 2020 tiba, Trump "mungkin bahkan tidak menjadi presiden, pada kenyataannya, dia malah bisa saja bukan orang bebas".
 
Komentarnya menunjuk pada kemungkinan pemakzulan, sementara Trump tetap menjabat, dan tuntutan pidana di masa mendatang. Beberapa kalangan mengatakan Warren sedang bercanda. Tapi dia mungkin tidak. Parodi kepresidenan Trump bukanlah lelucon -- dan berdasarkan bukti beberapa hari terakhir, yang terburuk belum muncul.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif